ayo ingat kembali dongeng masa kecil

Masih ingat cerita kancil cerdas yang berhasil melompati buaya dan menyeberangi sungai karena ingin mengambil ketimun? Cerita dongeng yang sering muncul dengan ilustrasi berwarna-warni itu, dulu selalu dapat disajikan kapanpun dan dimanapun. Tapi, sekarang ini keberadaan dongeng mulai dilupakan, dengan banyaknya anak-anak yang mulai terpengaruh gaya hidup serba digital dan lebih memilih menonton televisi, bermain game ataupun chatting menggunakan gadget. Salah satu hal itulah yang membuat terjadinya penurunan minat terhadap dongeng, padahal dongeng juga media hiburan, lho, karena dengan mendengarkan dongeng kita bisa lebih berimajinasi. Namun siapa sangka ternyata banyak juga yang beranggapan berbeda, Jiwo Jiwo Damar Anarkie misalnya, founder Future Leader for Anti Corruption Indonesia (FLAC) beralasan bahwa dongeng di Indonesia dalam 2-3 tahun kebelakang mulai berkembang. Hal tersebut terlihat dari bertumbuhnya gerakan dan komunitas dongeng di berbagai kota besar di Indonesia seperti dongeng.tv, dongeng.org, ayo dongeng Indonesia, dan lainnya. Para komunitas itu kerap menyampaikan dongeng-dongeng dengan semangat kebaikan sebagai sarana pendidikan karakter kepada anak-anak. IMG-20151122-WA0000 Begitu pula dengan Emmanuella Mila, pendiri Rumah Dongeng Pelangi menuturkan, bahwa dia cukup senang melihat makin banyak orang yang peduli akan dunia dongeng di Indonesia beberapa tahun terakhir, terlihat dengan mulai tampilnya dongeng di berbagai kegiatan acara anak seperti ulang tahun ataupun family gathering. Workshop mendongeng juga mulai aktif diadakan di beberapa sekolah, komunitas dan acara festival. Kalau gitu berarti, anggapan bahwa eksistensi dongeng mulai berkurang adalah sesuatu hal yang salah jika terus dipahami, mungkin hanya ada sedikit perbedaan aja yang membuat dongeng zaman sekarang beda dengan dongeng zaman dulu Mila, sapaan akrab untuk perempuan yang mengenyam pendidikan di Jurusan Penulisan Naskah, Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta itu berkata, “kalau dilihat dari konten ceritanya masih sama. Sama-sama mengajari kebaikan, budi pekerti, karakter. Dongeng dahulu banyak bercerita tentang legenda, cerita rakyat, sesuai dengan masyarakat pada jamannya. Sedangkan dongeng sekarang disesuaikan dengan perkembangan anak di jaman ini. Misal cerita-cerita fantasi seperti princess, hero, luar angkasa. Tapi intinya pesan yang mau disampaikan sama, hanya kemasan nya aja yang berbeda” rumah dongeng event 2 Dua potret anak Indonesia yang berkonsentrasi di organisasi dan komunitas yang menggunakan dongeng sebagai alat penggeraknya, sangat bisa menjadi inspirasi untuk kita. Seperti pada FLAC Indonesia, sebuah organisasi pemuda yang berfokus pada pendidikan kejujuran anti korupsi kepada anak-anak hingga dewasa, dengan cara yang menyenangkan melalui program Laskar Anti Korupsi. FLAC “Melahirkan kader anti-korupsi jauh lebih efektif dilakukan saat anak-anak berusia dini 5-12 tahun, karena di sinilah fase pembentukan diri dimulai. Pada usia itulah anak-anak berada dalam masa pertumbuhan diri dan pembentukan pemikiran menuju pembentukan karakter. Jika anak-anak dibiasakan untuk bertindak jujur sejak dini, maka nilai-nilai itu akan tertanam hingga mereka dewasa nanti. Maka dari itu, FLAC Indonesia bergerak membudayakan kembali tutur bercerita tentang nilai-nilai kebaikan, kejujuran, dan keberanian kepada anak-anak di Indonesia dengan cara yang menyenangkan lewat dongeng” ujar Jiwo, alumnus FISIP UI yang pernah mendongeng di International Anti-Corruption Conference di Brasilia, Brazil. Berbeda dengan Rumah Dongeng Pelangi, komunitas yang peduli dengan pendidikan anak-anak melalui dongeng itu, aktif dengan menggiatkan dongeng di kalangan masyarakat umum, baik kepada orang tua, guru, kalangan anak muda dan anak-anak yang masih sekolah. Kegiatan yang Rumah Dongeng Pelangi lakukan adalah mendongeng bagi anak-anak panti asuhan, membuat workshop mendongeng untuk orang tua, masyarakat, guru, pendampingan PAUD. “Banyak kebaikan yang ada dalam dongeng terutama untuk perkembangan anak-anak. Dongeng dapat menjalin hubungan intim yang baik antara orang tua dengan anak maupun guru dengan mengajarkan banyak kebaikan dan budi pekerti kepada anak tanpa menggurui. Melalui dongeng, kita juga bisa semakin dekat dengan anak-anak yang kurang mendapat perhatian dari orang tuanya. Lewat dongeng, anak akan kaya dengan kosakata baru, dengan dongeng anak akan senang membaca, kemampuan berbahasanya semakin baik dan lebih percaya diri. Jadi, virus dongeng ini sebaiknya harus ditularkan kepada banyak orang. Makanya saya tidak bisa berjalan seorang diri, saya butuh sahabat diluar sana yang mendukung komunitas ini, sehingga nantinya semakin banyak orang mencintai dongeng” Hal-hal yang mereka lakukan diatas bisa banget buat di implementasikan oleh kita loh selaku anak muda, jadi enggak ada alasan lagi buat kita untuk cuek dan menolak ikut melestarikan salah satu karya sastra ini. Dongeng itu mudah, karena inti dari dongeng itu sendiri curhat. Layaknya orang curhat, dia menunjukan emosi dan apapun yang dirasakan kepada teman yang dicurhatinya. Tapi bedanya hanya pada cerita, kalau curhat mayoritas berkisah tentang diri sendiri sedangkan dongeng berkisah tentang sebuah cerita di luar diri kita baik itu yang dibuat sendiri maupun dari referensi tertentu. Maka dari itu, buat mendongeng seperti layaknya kita curhat kepada teman terbaik kita. “Mendongeng adalah kemampuan learning by doing, belajar sambil melakukan. Hal ini karena tiap orang memiliki gayanya sendiri ketika menyampaikan sebuah cerita, maka dari itu tidak ada cara lain selain learning by doing. Melihat urgensi dongeng bagi anak muda, yuk bergerak melestarikan pendidikan karakter dengan mendongeng” ajak Jiwo agar dongeng terus dapat bertahan lama. Kamu pun bisa menjaga agar dongeng tetap standing up di masa sekarang ini. Mila memberikan tips dengan banyak membaca cerita apapun, terutama cerita yang mempunyai pesan moral untuk disampaikan kepada anak anak. Tak lupa, mulailah untuk berkreasi dengan dongeng atau cerita yang kita kenal, seperti membuat operet kecil, drama ataupun teater boneka. “Yang paling penting sih, harus bangga dengan dongeng atau cerita rakyat Indonesia. Jika kita sendiri bangga, maka kita akan bisa memperkenalkan cerita rakyat Indonesia ke dunia. Sehingga suatu hari nanti dunia mengenal cerita Keong Emas, Legenda Tangkuban Perahu, Timun Mas, Malin Kundang dan lainnya” tambah Mila. Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis: Rizky Rianda Permata Editor: Arief Alqori Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)
SHARE
Previous article12 Perempuan Hebat Asia Tenggara
Next articleACCOUNTING FAIR 2016 oleh Politeknik Negeri Jakarta

LEAVE A REPLY