Peran Radio
Dok. Bintang Cahya Pralesti

Peran radio sebagai sarana informasi dan hiburan kalah saing dengan media lainnya di era multimedia saat ini. Padahal radio sempat menjadi primadona di tahun 1980 sampai 1990-an, dimana pada waktu itu masyarakat Indonesia mengandalkan radio untuk mendapatkan informasi yang cepat sekaligus mencari hiburan. Namun, memasuki tahun 2000, kehadiran televisi swasta bermunculan dengan menawarkan kelebihan visualnya dan berbagai program yang menarik, pendengar radio perlahan surut.

Talkshow bersama Muhjah Fauziyah dari RadioPPIdunia.org
Talkshow bersama Muhjah Fauziyah dari RadioPPIdunia.org

Di perayaan World Radio Day, Kelas Penyiar Indonesia (KPI) menggelar gathering bersama member KPI untuk kembali mengingat peran radio dan mengapresiasi orang-orang yang telah berkontribusi dalam dunia radio. Selain itu ada juga talkshow bersama bersama international broadcaster Vena Annisa (VOA) dan coaching clinic radio bareng Diaz Danar (Gen FM) dan Cia Wardana (Trax FM)

“Di perayaan World Radio Day ini kita berharap member bisa termotivasi untuk mewujudkan mimpi mereka bekerja didunia broadcasting dan disini kita juga memberikan reward kepada mereka yang telah berkontribusi dalam radio.” ungkap Bintang Cahya Pranalesti, Kepala Sekolah KPI saat ditemui Inspirator Freak di sebuah tempat nongkrong, kawasan Blok M, Jakarta.

Dok. Bintang Cahya Pralesti
Dok. Bintang Cahya Pranalesti

Menurut Bintang, kemajuan dan kecanggihan teknologi informasi malah membuat radio menjadi yang pertama, seperti saat musisi ingin memperkenalkan lagunya pasti pertama kali dia akan memperkenalkannya ke radio. Ketika lagu itu booming, TV akan menjadikan radio sebagai barometer.

“Radio masih memiliki potensi yang sangat besar. Apalagi bagi anak muda yang ingin berkarir di radio, kesempatan banyak sekali. Gak cuma jadi penyiar aja, bisa jadi produser, scripwriter, music director, dan di bagian manajemen juga,” ujar perempuan yang pernah menjadi penyiar di radio Global FM ini.

Hal senada juga diungkapkan Putri Dwiandari, mentor KPI. Putri mengatakan kalau Radio masih memiliki potensi dan keunggulan tersendiri, bukan hanya sekedar media komunikasi satu arah melainkan juga menawarkan beragam informasi yang bermanfaat, berkualitas dan menghibur. “Radio harus tetap berkembang karena radio bisa menjangkau semua orang termasuk yang di pelosok. Radio itu murah, cepat, bisa menjangkau siapapun, dimanapun,” ucapnya.

Bintang juga menambahkan bahwa digitalisasi media tak membuat radio begitu aja dilupain. Kemunculan radio streaming dan aplikasinya yang bisa di-download justru semakin mempermudah akses masyarakat terhadap radio.

“Dengan digitalisasi media itu kita bisa dengerin radio di seluruh dunia dengan kontennya yang sangat mendidik. Salah satu contohnya hari ini kita mengundang penyiar radio PPI (Radio Perhimpunan Pelajar Indonesia) se-Dunia, kita ingin member KPI itu tahu ternyata ada loh radio streaming yang kontennya mendidik dan bisa didengar anak muda Indonesia,” tutur Bintang.

Putri pun menambahkan, radio di Indonesia harus tetap dikembangkan dan dilestarikan agar tak menghilang dengan adanya digitalisasi media. Ia pun berharap agar anak-anak muda Indonesia lebih peduli lagi untuk melestarikan dan mengembangkan radio di Indonesia.

“Karena radio bisa membentuk komunitas, kreativitas yang bisa membuat generasi muda lebih positif dan lebih bagus dalam berkarya. Dan satu hal yang harus ditanamkan ke anak muda sekarang kalau radio itu tidak sekadar untuk having fun, tetapi untuk mereka yang dipelosok itu menjadi sarana informasi yang penting banget.” ujar perempuan berkerudung ini.

KPI memfasilitasi anak-anak muda yang memiliki passion di broadcasting untuk ikut serta melestarikan dan mengembalikan peran radio sebagai sarana informasi dan hiburan serta melahirkan generasi Penyiar Indonesia yang handal.

Inspirator Freak

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Penulis : Ifa Ikah

Editor   : Dylan Aprialdo Rachman

 

SHARE
Previous articleDonor darah dengan asik bersama Love Donation 2016
Next articleDeep In The East, Menggali Potensi Di Kawasan Indonesia Timur

LEAVE A REPLY