William Wimpy, ikon eco fashion batik indonesia
Sumber foto: Narasumber

Tahukah Inspirator, kalau ternyata baju yang Inspirator kenakan setiap hari merupakan satu dari miliaran baju di dunia yang mungkin ikut menyumbang pemanasan global dan perubahan iklim, yang berarti juga menyebabkan kerusakan lingkungan?

Menurut Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, industri fashion adalah pemasok emisi gas rumah kaca terbesar setelah semen serta logam-baja. Fakta mengejutkan inilah yang menginisiasi William Wimpy, mendirikan eco fashion batik Indonesia yang mengkolaborasikan art, earth, fashion and culture yaitu Canting Hijau.

“Ada banyak hal yang membuat fashion menjadi industri yang tergolong berperan dalam kerusakan lingkungan. Industri fashion menggunakan bahan-bahan kimia beracun yang bisa mencemari lingkungan, misalnya saja dari pewarna kimia,” ungkap lulusan S2 Teknik Kimia National University of Singapore ini.

Canting Hijau, brand yang diinisisasi William merupakan eco fashion Batik Indonesia yang memproduksi pakaian batik yang mayoritas pewarnaannya menggunakan pewarna alam dan bahan baku yang ramah lingkungan. Tak hanya di bahan baku dan pewarna saja, prinsip green juga diterapkan William dalam pemilihan model dan proses cutting bahan sehingga dapat meminimalisasi limbah yang dihasilkan. Kain perca yang digunakan ulang untuk menjadi tas dan dompet batik.

Proses pemasaran dan distribusi pun dilakukan sedemikian rupa untuk meminimalisasi limbah yang dihasilkan. Menggunakan kantong kertas recycle untuk mengganti plastic bag, mengganti plastic tag dengan peniti, membuat price tag yang dapat digunakan kembali sebagai penggaris, serta kartu nama desain sehingga bisa digunakan sebagai agenda berlibur.

“Awalnya saya sangat takut ketika memperkenalkan produk dengan konsep yang kami buat. Namun ternyata produk bisa diterima oleh masyarakat. Sampai beberapa kali dipakai oleh artis Ibu Kota, dan juga dipakai di acara pageant tingkat nasional,” ujar pemenang Hilo Green Leader 2016 ini.

Meski sempat takut, namun sedini mungkin William mencegah risiko kegagalan baik produksi dan pemasaran. Menghadapi pasar bebas ASEAN (MEA), William optimis produk-produk Canting Hijau bisa bersaing. Dia pun menyiapkan keunikan produk, menggali consumer value dan meningkatkan consumer value pada produk agar produk semakin diminati.

“Saya berharap, tidak hanya bisa membawa produk dan brand saya, namun juga bisa membawa eco fashion batik Indonesia ke mata dunia,” tutupnya.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Penulis: Ifa Ikah

Editor  : Siti Ayu Handayani

Inspirator Freak

LEAVE A REPLY