wiji thukul
Ilustrasi: jangansampailupa.com

“suara-suara itu tak bisa dipenjarakan disana bersemayam kemerdekaan apabila engkau memaksa diam aku siapkan untukmu: pemberontakan!”

– Wiji Thukul

Namanya mungkin tak sebeken beberapa penyair lain di tanah air. Tetapi puisi-puisinya yang berani menantang orde baru masih santer terdengar hingga kini meski sosoknya lenyap bak ditelan bumi. Mengutip dari Tempo, lelaki cadel itu, Ia tak pernah bisa melafalkan huruf ”r” dengan sempurna, dianggap membahayakan Orde Baru.

Thikul ”cacat” wicara, tapi Ia dianggap berbahaya. Rambutnya lusuh. Pakaiannya kumal. Celananya seperti tak mengenal sabun dan setrika. Ia bukan burung merak yang mempesona. Tapi, bila penyair ini membaca puisi di tengah buruh dan mahasiswa, aparat memberinya cap sebagai agitator, penghasut.

Teater Jagat (Jejibahan Agawe Genepe Akal Tumindak) boleh dibilang sebagai awal proses kesenian dan kepenyairan Thukul. Dia bergabung dengan teater itu pada tahun 1981 saat masih kelas II Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) di Kepatihan, Solo. Awalnya Ia hanya ikut-ikutan. Namun, setahun berselang, Ia berhenti sekolah dan memilih aktif di Jagat. Sejak di teater Jagat itulah Thukul mulai produktif menulis puisi.

Dalam wawancara dengan Radio PTPN Rasitania Surakarta pada tahun 1983, Thukul ketika itu berusia 20 tahun, mengaku menyenangi sajak-sajak Rendra, Emha Ainun Nadjib, Budiman S. Hartoyo, dan Taufiq Ismail. Thukul bahkan menulis sajak religius, ”Lagu Persetubuhan”.

Thukul berpendapat sajak harus bertolak dari data. Menurutnya, kebanyakan sajak Indonesia tak bertolak dari pengamatan sosial. Ia pun mengikuti strategi Augusto Boal, seniman Brasil yang menggunakan teater sebagai alat menghancurkan budaya bisu, budaya yang membuat rakyat tak berani berbicara apa adanya.

“jangan kau penjarakan ucapanmu jika kau menghamba pada ketakutan kita akan memperpanjang perbudakan” Lewat puisi ini, Thukul menyuarakan ketidakadilan serta menentang kekuasaan yang mencabut kebebasan manusia, menjadi “budak” yang digerakkan.

Puisi-puisinya yang berani inilah yang kemudian membuat sang penyair diburu rezim orde baru. Thukul melarikan diri dan bersembunyi sembari terus menulis puisi sampai akhirnya menghilang. Meski hingga kini lenyapnya sang penyair masih menjadi misteri, puisi-puisinya menjadi suara sang penyair yang tak bisa dibungkam.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak

LEAVE A REPLY