Power Ranger
6 orang muda. Dikumpulkan dari berbagai latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Tidak saling mengenal sebelumnya. Diberikan kekuatan super untuk menjaga Bumi dari monster-monster yang ingin menghancurkan Bumi. Mempunyai peralatan dan senjata yang keren. Ya, itulah gambaran pahlawan favorit saya ketika masih kecil: Power Ranger. Power Ranger menjadi salah satu tayangan kartun yang selalu saya tunggu di setiap hari Minggu. Tapi begitulah kerennya Power Ranger. Memiliki kekuatan super dan senjata yang keren untuk memberantas para monster jahat yang ingin mengganggu keamanan Bumi. Setiap personilnya memiliki warna sebagai ciri khasnya masing-masing, yaitu Merah, Biru, Hijau, Hitam, Kuning, dan Merah Muda. Warna dari para ranger ini juga diasosiasikan dengan kepribadian masing-masing: Merah diidentikkan sebagai seorang pemimpin yang pemberani, Biru sebagai seorang yang pintar dan pengatur strategi, Hijau sebagai seorang yang tenang, Hitam sebagai seorang yang kuat dan misterius, Kuning sebagai seorang yang supel dan humoris, dan Merah Muda sebagai seorang yang penyayang. Lalu, kenapa ada Power Ranger dalam tulisan ini? Kisah mengenai Power Ranger akan saya jadikan analogi dalam tulisan ini. Power Ranger saya analogikan sebagai pemuda-pemudi Indonesia. Ada Power Ranger, berarti ada juga musuh yang dilawan. Yapp, perkenalkan musuh kita bersama, monster mengerikan yang sudah lama ingin menghancurkan kesatuan dan persatuan rakyat Indonesia, namanya: Radikalisme. Mari kita mulai misi ini!   Mission Fact #1: Ketahuilah Musuhmu Salah satu strategi efektif dalam pertarungan Power Ranger adalah para personilnya berusaha untuk mengenali musuh yang mereka hadapi, apa saja yang menjadi senjata berbahanya, apakah dia membawa teman, apa yang menjadi kelemahannya, dan mengamati pola pergerakan dari monster tersebut. Dan kali ini, kita akan mencoba untuk mengetahui lebih jauh mengenai monster yang akan kita hadapi, yaitu monster Radikalisme. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikalisme memiliki arti sebagai 1) paham atau aliran yang radikal dl politik; 2) paham atau aliran yg menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; 3) sikap ekstrem di aliran politik. Menurut  Muhammad (2002, dalam Damayanti dkk., 2003), radikal  berasal  dari  kata  radic  yang berarti  akar,  dan  radikal  adalah (sesuatu)  yang  bersifat  mendasar atau  ‘hingga  ke  akar-akarnya’.  Predikat  ini  bisa  dikenakan  pada pemikiran  atau  paham  tertentu, sehingga  muncul  istilah  ‘pemikiran yang radikal’ dan bisa pula ‘gerakan’. Dari pengertian diatas, dapat dirumuskan bahwa radikalisme  adalah suatu paham  atau  aliran keras yang menginginkan perubahan atau  pembaruan  sosial  dan  politik dengan  cara  keras  atau  drastis  dan sikap ekstrem suatu aliran politik. Sebagai suatu paham atau pemikiran, radikalisme dapat muncul dari lingkup kecil di masyarakat. Menurut Horace M. Kallen (n.d., dalam Damayanti dkk., 2003) gerakan radikalisme setidaknya ditandai dengan munculnya tiga kecenderungan umum. Pertama, radikalisasi merupakan respon dari kondisi yang sedang berlangsung. Biasanya respon  tersebut  muncul  dalam bentuk  evaluasi,  penolakan  atau bahkan  perlawanan.  Masalah  yang ditolak  bisa berupa  asumsi,  ide, lembaga  atau  nilai-nilai  yang  dapat dipandang  bertanggungjawab terhadap  keberlangsungan  kondisi yang ditolak. Kedua,  radikalisasi  tidak berhenti  pada  upaya  penolakan, melainkan   berupaya  mengganti tatanan  tersebut  dengan  suatu bentuk  tatanan  yang  lain.  Ciri  ini menunjukkan  bahwa  dalam radikalisasi  atas  sesuatu  hal, terdapat  suatu  program  atau pandangan  dunia  sendiri.  Kaum radikalis  berupaya  kuat  menjadikan tatanan  tersebut  sebagai  ganti  dari tatanan yang sudah ada. Ketiga,  kuatnya  keyakinan kaum  radikalis  akan  kebenaran program  atau  ideologi  yang  mereka bawa.  Sikap  ini,  pada  saat  yang sama,  dibarengi  dengan  penafsiran kebenaran  dengan  sistem  lain  yang akan  diganti.  Dalam  gerakan  sosial, keyakinan  tentang  ide  ini  sering dikombinasikan  dengan  cara-cara pencapaian yang mengatasnamakan nilai  kemanusiaan.  Akan  tetapi, kuatnya  keyakinan  ini  dapat mengakibatkan  munculnya  sikap emosional  yang  menjurus  pada kekerasan   Mission Fact #2: Monster Sudah Mulai Merusak Setelah mengetahui apa itu radikalisme, sekarang kita menghadapi ancaman nyata. Monster yang bernama radikalisme tersebut sudah melancarkan aksinya untuk merusak persatuan dan kesatuan negara, tidak hanya di Indonesia melainkan juga di seluruh dunia. Tidak jarang, monster yang kita hadapi ini akan memakan korban jiwa dan menghancurkan infrastruktur yang ada. Di tingkat dunia internasional sekarang ini, warga dunia sedang menerima ancaman dari kelompok Islam radikal yang menamakan kelompoknya Islamic State of Iraq and Sham (ISIS). Kelompok ini beranggotakan para pemberontak yang melakukan aksi-aksi kekerasan, pembunuhan, perampokan, dan tindakan agresif  lainnya dengan tujuan untuk membentuk negara Islam yang murni berdasarkan Syariat Islam. Mereka tidak segan-segan untuk membunuh, memperkosa, menyiksa orang yang mereka jadikan korban dan sandera. Selain itu, tentara ISIS juga memanfaatkan anak-anak dan wanita untuk jadi budak seks dan pembawa bom bunuh diri.   Mission Fact #3: Ada Kekuatan dalam Perbedaan Dari kelima ranger yang ada, ranger hitam adalah yang menjadi favorit saya. Seorang pribadi yang tenang, tidak terlalu banyak bicara dan tak banyak tampil di depan orang banyak serta terkuat diantara yang lainnya. Tapi, yang menarik, hal ini tidak lantas membuatnya dapat mengalahkan monster sendirian. Akan selalu ada teman-temannya yang membantu. Dan ketika mereka bergabung menyatukan kekuatan khas masing-masing, maka itu menjadi senjata ampuh untuk mengalahkan monster. Ilustrasi diatas merupakan kondisi yang ideal dari perjuangan dalam melawan radikalisme. Perbedaan latar belakang, kemampuan, ataupun kekurangan tidak menjadi penghalang untuk menyatukan aksi mewujudkan perdamaian, khususnya di Indonesia. Dari warna yang berbeda-beda membentuk kesatuan visi dan aksi yang saling sinergis. Bergerak bersama berarti juga mau menerima orang lain. Kita bergerak dan bekerja dengan orang-orang yang mungkin sangat berbeda dengan kita dari segi kelebihan ataupun kelemahannya. Layaknya cerita Power Ranger, kelima ranger dengan senang hati menyambut ranger keenam yang baru bergabung dengan mereka ketika sedang menghadapi musuh yang sangat kuat dan membuat mereka tidak berdaya. Semakin banyak orang maka semakin banyak bantuan untuk mengalahkan musuh. Yeaah!   Indonesia adalah negara dengan masyarakat yang sangat beragam latar belakangnya, mulai dari agama, status ekonomi, ras, sosial, budaya, dan kepercayaan. Walaupun berbeda, perbedaan ini menjadi warna dalam persatuan dan kesatuan Indonesia. Bergerak dan bekerja bersama dalam melawan radikalisme di Indonesia harus menjadi satu sinergi yang berkesinambungan lewat agen-agen perubahan, yaitu kita sebagai pemuda-pemudi. Peran kita sebagai agen perubahan, dengan warna-warni kita masing-masing, diperlukan untuk menciptakan perdamaian Indonesia. (OWL)   Obedrey Willys Legi @ebodrey   Referensi : Damayanti, N.P., Thayibi, I., Gardhiani, L.A. & Limy, I. (2003). Radikalisme agama sebagai salah satu bentuk perilaku menyimpang: studi kasus Front Pembela Islam (FPI). Jurnal Kriminologi Indonesia, 3, 1, 43-57.
SHARE
Previous articleInovasi Berbasis Industri Siap Hadapi MEA
Next articleIni Persiapan Kamboja Hadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

LEAVE A REPLY