Film Tiga Dara 1956
Ilustrasi

Film klasik Indonesia selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk disaksikan. Namun karena berbagai keterbatasan, film tersebut seringkali tergerus seiring berjalannya waktu. Beruntunglah, dunia sinematografi kini kembali diramaikan oleh film hitam putih ber-genre komedi musikal berjudul “Tiga Dara”. Film yang muncul pada tahun 1956 ini dapat disaksikan kembali di jajaran bioskop dalam negeri, tepat enam puluh tahun setelah pemutaran pertamanya.

Film Tiga Dara 1956
Ilustrasi | Sumber: iradiofm.com
Tiga Dara berkisah tentang kehidupan tiga kakak beradik –Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Widjaya), dan Nenny (Indriati Iskak), yang tinggal bersama ayah dan neneknya. Diceritakan di dalamnya, sang nenek ingin agar Nunung sebagai si sulung untuk segera menikah. Nunung yang awalnya memilih untuk tidak mengikuti nasihat sang nenek akhirnya berjumpa dengan lelaki idamannya. Sayang, di tengah perjodohan mereka, Nana justru menyukai lelaki yang sama. Dari sinilah, berbagai konflik antar saudara kandung bermunculan. Alur cerita Tiga Dara memang tidak terlalu rumit. Namun, penonton dapat mempelajari banyak hal dari kisah yang sederhana itu, tidak terkecuali norma dan budaya yang dimiliki masyarakat Indonesia pada masanya. Misalnya saja, adanya anggapan bahwa perempuan harus segera menikah apabila tidak ingin menjadi perawan tua seumur hidup ataupun pandangan lainnya seperti larangan bagi adik untuk melangkahi kakaknya yang belum menikah.
Film Tiga Dara 1956
Cuplikan adegan dalam Film Tiga Dara | Sumber: m.galamedianews.com
Film ini juga mengantarkan penonton untuk kembali merasakan Jakarta pada era 50-an. Lebih tepatnya, ketika Jakarta masih didominasi oleh tanah lapang dan becak pun masih menjadi transportasi umum bagi mayoritas warga. Penonton juga dapat menyaksikan bagaimana kehidupan anak muda pada era tersebut yang menganggap motor vespa sebagai suatu kemewahan, menonton film di Bioskop Metropole dengan harga karcis Rp 25, ataupun memeriahkan pesta dengan pakaian kebaya dan tarian tradisional. Sebagai film komedi musikal, para pemeran di Tiga Dara turut bersenandung sepanjang film diputar. Alunan musik yang mengiringi alur cerita ini menarik diri penonton untuk merasakan romansa anak muda kala itu. Dialog antar pemeran pun turut memperkental suasana pada era 50-an. Tidak hanya sarat makna, sejumlah percakapan di dalamnya acapkali dibumbui humor sederhana yang berhasil menghibur para penonton.
Film Tiga Dara 1956
Ilustrasi | Sumber: jengpatrol.com
Menayangkan kembali Tiga Dara ke layar lebar membutuhkan usaha yang besar akibat kerusakan fisik yang dialami seluloid film. Dibutuhkan waktu lebih dari delapan bulan bagi Lintang Gitomartoyo, Windra Benyamin, dan pihak Laboratorium L’immagine Ritrovata di Italia untuk melakukan restorasi dan konversi terhadap film ini. Hasilnya, tampilan dan suara yang dihasilkan pun menjadi lebih tajam dan bersih. Akhir kata, semoga inisiatif restorasi dan konversi terhadap film Tiga Dara dapat memicu pemerintah dan swasta untuk melestarikan film-film klasik produksi dalam negeri lainnya.  Hal ini dikarenakan media film seperti ini dapat dilihat sebagai bagian dari sejarah dan dapat pula dijadikan sebagai salah satu cara bagi generasi di masa mendatang untuk mengingat dan mengenang kehidupan para pendahulunya.   Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis: Septiani K Editor  : Siti Ayu Handayani Inspirator Freak Twitter : @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak Instagram : @inspirator_freak Web : www.inspiratorfreak.com LINE: @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY