Teknologi 5G Menawarkan Banyak Solusi, Tapi Indonesia Sepertinya Masih Wait and See

Bagian terpenting dari teknologi 5G kelak adalah kemampuannya dalam menghadirkan Virtual Reality (VR) dan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) yang lebih baik, menghubungkan mesin ke mesin (M2M), dan membawa Internet of Things (IoT) ke tahap selanjutnya.

Salah satu implementasi teknologi 5G adalah teknologi Virtual Reality. Saat ini teknologi VR masih fokus pada gaming, tapi ke depannya bisa merambah ke sektor kesehatan, pendidikan, hingga pertanian.

Kita nanti dapat mengontrol PC lewat smartphone. Proses belajar mengajar akan lebih mudah, murid yang berada di belahan bumi lain bisa mengikuti pelajaran. Di bidang kesehatan, pengobatan akan menjadi lebih mudah dan hemat karena dokter dapat mengobati pasien yang berada di tempat terpencil di dunia. Di bidang pertanian, teknologi 5G bisa dimanfaatkan untuk mengukur kadar air secara otomatis. Teknologi 5G juga memungkinkan manusia untuk mendeteksi bencana alam termasuk tsunami, gempa bumi, dan lain-lain lebih cepat.

Lebih stabil dan lebih cepat

Jaringan Internet 4G dan 3G diketahui memiliki kecepatan tidak stabil. Kabarnya, jaringan 5G jauh lebih stabil karena di jaringan ini data akan dikirim melalui gelombang radio yang terbagi menjadi frekuensi berbeda. Setiap frekuensi disiapkan untuk tipe komunikasi berbeda pula, seperti aeronautical dan sinyal navigasi maritim, siaran televisi, dan mobile data. Pembagian yang jelas dan lebih rinci ini diklaim membuat jaringan 5G menjadi stabil.

Foto: Samsung

Di Korea Selatan, teknologi 5G sedang dikembangkan dan diprediksi kecepatan maksimalnya dapat mencapai 100 kali lebih cepat jika dibanding 4G.

Kesiapan Indonesia mengadopsi teknologi 5G

Menurut Kepala Riset dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Basuki Yusuf Iskandar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengadopsi jaringan seluler 5G. Kesiapan yang dimaksud bukan hanya dari segi teknologinya, tapi juga kesiapan industri, regulasi, dan ekosistem masyarakat. Basuki mencontohkan jika masyarakat belum siap, implementasi jaringan 5G takkan dimanfaatkan secara maksimal.

“Teknologi itu bagus kalau orang mengerti. Kalau hanya mengerti setengah-setengah, masyarakat tidak produktif,” katanya. Basuki menambahkan, regulasi terkait implementasi teknologi 5G tengah didiskusikan bersama dengan berbagai pihak. Menurutnya, dampak sosial kehadiran jaringan 5G akan lebih kompleks daripada 4G LTE karena kemampuannya memicu lebih banyak kemunculan disruptive technology.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here