Sindir Keberadaan Hoax Lewat Aksi Teatrikal Musik

Pementasan Drama Musikal Tin Republik di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (24/2) | Sumber: Dokumentasi Inspirator Freak

Keberadaan hoax yang tersebar secara masif di dunia maya khususnya media sosial memang sudah dianggap cukup mengkhawatirkan bagi publik. Hoax yang pada awalnya memang terkesan sepele kini bisa menyinggung persoalan sensitif dan memecah belah antar masyarakat. Situasi itulah yang menjadi sorotan dari sekumpulan anak-anak muda Teater Psikologi UI (TekoUI) dalam teatrikal musik mereka berjudul “Suarakan Kebenaran bersama Jony dan Gaby”.

Alkisah di sebuah desa, terdapat sebuah perusahaan koran kuning bernama Tin Republic yang dipimpin oleh “Pak Kepala”, seorang pimpinan redaksi yang tegas, bersuara lantang, gagah, kadang galak. Pak Kepala merupakan seorang wartawan yang lahir dan besar di bawah tekanan rezim diktator, tekanan itu menghasilkan pemikiran bahwa dalam penulisan berita, wartawan tidak boleh mencantumkan nama mereka dengan alasan “keamanan”. Pemikiran itu tentu berangkat dari rasa trauma Pak Kepala akan tekanan rezim yang keras.

Melalui media Tin Republic, Pak Kepala memimpin para juru ketik dan juru cerita dalam menghimpun, mengelola dan menerbitkan berbagai macam pemberitaan yang terjadi di desa. Tentunya mereka mengemas pemberitaan dengan gaya koran kuning yang penuh dengan kesan personal dan sensasional dengan judul yang panjang dengan konten pemberitaan yang tidak jauh-jauh dari berita kriminal, perceraian, pemerkosaan, hingga perselingkuhan.

Pada suatu momen, Tin Republic kehabisan bahan berita, tidak ada berita yang menarik bagi Pak Kepala. Para juru ketik dan juru cerita pun kebingungan karena minimnya bahan pemberitaan yang “Waw”. Tin Republic berada di ujung tanduk kebangkrutan.

Pak Kepala (tengah) dalam pementasan drama musikal Tin Republic | Sumber: Dokumentasi Inspirator Freak

Pak Kepala tidak putus asa, ia kedatangan dua jurnalis andalannya bernama Jony dan Gaby yang telah menelusuri skandal perselingkuhan kepala desa dengan tetangga sebelah. Pak Kepala pun girang karena mereka berhasil membuktikan perselingkuhan itu. Namun rasanya tidak cukup, Pak Kepala mengutus Jony dan Gaby untuk berangkat ke kota besar bernama Diamond City.

Bagi Pak Kepala, kota besar pasti menjadi lahan subur bahan pemberitaan mulai dari seks bebas, korupsi, intrik politik, hingga berbagai kasus kriminal pasti merajalela. Namun sesampainya di sana, Jony dan Gaby terkejut karena masyarakat di sana hidup bahagia, tidak ada satupun peristiwa-peristiwa seperti korupsi, pembunuhan, seks bebas dan lain-lain. Keduanya terjebak dalam hiruk pikuk kota metropolitan.

Tokoh Gaby dan Jony dalam pementasan drama musikal Tin Republic | Sumber: Dokumentasi Inspirator Freak

Kebahagiaan yang disebarkan oleh Walikota O Walikota membuat Jony dan Gaby curiga, mengapa mereka terus menerus bahagia? Mengapa mereka bergantung pada pemberitaan langsung dari Walikota? Mengapa mereka terkesan patuh terhadap perintah Walikota? Pertanyaan itu akan terjawab jika Inspirator menyaksikan drama musikal tersebut.

Menurut Ranggih Wukirannutama selaku sutradara, mengatakan bahwa ide ini muncul ketika Ranggih sedang berada di Lenteng Agung. Ia melihat loper koran jualan surat kabar kuning (koran kuning). Ranggih tertarik untuk mengembangkan ide ini dan membawanya ke dalam persoalan terkini menyangkut keberadaan hoax yang mulai meresahkan masyarakat. Kekhawatiran Ranggih akan hoax terjadi dikarenakan masyarakat yang mencoba menyuarakan kebenaran untuk melawan pembuat hoax dan masyarakat yang termakan hoax malah terkesan diam, tidak berani buka suara. Oleh karena itu, melalui karakter Gaby dan Jony, Ranggih berusaha menyampaikan pesan untuk berani bersuara dalam hal kebenaran.

“Ini hari pertama, kita terus optimis meskipun harus kita akui banyak sekali tantangan seperti menyangkut detail-detail teknis eksekusi drama musikalnya, justru kita semakin berapi-api, semangat untuk meningkatkan performa di hari kedua dan ketiga. Bukan berarti kita meremehkan hari pertama, kita percaya bahwa hari kedua dan ketiga kita bisa lebih baik lagi,” ujar Ranggih saat memberikan keterangan pers di Gedung Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (24/2).

Sutradara sekaligus Penulis Skenario Drama Musikal Tin Republic, Ranggih Wukirannutama (tengah) beserta Produser, Owena Ardra (paling kanan) | Sumber: Dokumentasi Inspirator Freak

Ranggih juga menjelaskan bahwa proses pengembangan skenario drama ini melalui berbagai macam kegiatan brainstorming dengan berbagai pihak dan pakar yang terkait dengan persoalan media sosial. Hal itu dikarenakan, Ranggih ingin menghasilkan jalan cerita yang kompleks, berisi kritikan yang tidak berat sebelah namun berlaku untuk semua pihak baik itu pemerintah, masyarakat hingga media massa.

“Fenomena media kita kan unik, orang rasanya lebih mudah tertarik dengan pemberitaan-pemberitaan dari koran kuning ketimbang pemberitaan isu-isu berat yang ada di surat kabar mainstream, ditambah dengan persoalan hoax sekarang di mana masyarakat juga mudah termakan berita bohong” jelasnya.

Sementara sang produser, Owena Ardra mengatakan persiapan teater musik ini sudah berlangsung sejak setahun yang lalu. Owena menyebutkan selama setahun itu pihaknya mengembangkan skenario, menjalin kerjasama dengan koreografer, hingga merekrut para pemain.

“Tantangannya kita adalah sekarang ini siapa sih yang mau menonton teater kampus? Itu yang kami rasakan kesulitannya sejauh ini. Namun ternyata antusiasmenya lumayan besar, harapan kami ke depannya teater kampus bisa berkembang lebih baik lagi,” kata Owena.

Pementasan Drama Musikal Tin Republik di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (24/2) | Sumber: Dokumentasi Inspirator Freak

Pantauan Inspirator Freak, drama musikal ini memang dikemas secara apik dari berbagai aspek. Skenario yang detail dan kompleks, diisi dengan dialog-dialog bermutu yang bisa “menyentil”, membuat takut, sedih, hingga tertawa bagi yang menontonnya. Para pemain pun mampu menghadirkan performa yang apik dalam membawa masing-masing karakternya. Beberapa karakter seperti Pak Kepala (Muhammad Ihsan), Gaby Martini (Nabila Putri Utami), Jony Latuputty (Ais Nur Ardhy), Walikota O Walikota (Kevin E. Bukit), hingga Diandra Nada (Dea Puspitasari) kerap kali mencuri perhatian penonton. Alunan musik yang dipimpin oleh trio Bob Prakasa, Sri Izzati, dan Muhammad Hanif pun turut menggiring berbagai perubahan suasana yang terjadi dalam setiap adegan drama musikal itu.

Untuk Inspirator yang tertarik menonton, pementasan drama musikal ini masih berlangsung pada hari ini dan esok pada pukul 18:30 WIB. Stok tiket masih tersedia melalui pembelian langsung di tempat (on the spot) dengan masing-masing rincian harga:

  1. Diamond: Rp 265.000,-
  2. Platinum: Rp 195.000,-
  3. Gold: Rp 140.000,-
  4. Silver: Rp 95.000,-
  5. Bronze: Rp 85.000,-

Inspirator juga bisa mendapatkan tiketnya via GO-TIX, atau menghubungi nomor 0877 784 89838/0857 115 08606

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here