Molecular gastronomy
(Foto: tripadvisor.com)

Apa yang Inspirator lihat dari foto di atas? Ada kertas, pensil, dan juga rautan. Lalu, percayakah Inspirator kalau benda-benda tersebut bisa dimakan? Yap! Kertas dan pensil tersebut sebetulnya adalah opor ayam yang memang dibuat menyerupai kedua benda tersebut. Sedangkan isi rautan ternyata adalah ketumbar sebagai bumbu opor ayam. Wah kok bisa ya?

Inilah yang dinamakan molecular gastronomy. Mungkin masih banyak orang yang asing dengan istilah ini. Molecular gastronomy ialah teknik memasak makanan yang digabungkan dengan ilmu sains fisika dan kimia.

Awal mula adanya teknik memasak ini terjadi pada tahun 1980an. Herve This, seorang ilmuwan kimia dari Perancis, sedang belajar memasak souffle keju. Tapi karena ia tidak bisa memasak, percobaannya sering gagal. Pengalaman ini jadi inspirasi baginya untuk meneliti berbagai teknik memasak dan dia pun sadar kalau ternyata ada satu hal yang jarang diperhatikan seseorang saat bereksperimen di dapur, yakni studi ilmiah dan sistematis saat memasa.

(Foto: http://gianbarahona.weebly.com)

Kemudian, bersama temannya, Nicholas Kurti, seorang profesor fisika dari Oxford University, ia pun mempopulerkan teknik baru dalam memasak. Mereka memadukan teknik tersebut dengan ilmu pengetahuan yang mereka kuasai, yaitu fisika dan kimia.

Kini, molecular gastronomy semakin berkembang di berbagai negara. Pada tahun 1992 diadakan simposium pertama mengenai gastronomi bertajuk ‘Physical and Molecular Gastronomy. Simposium yang bertempat di Erice, Italia ini bertujuan untuk menyatukan para ilmuwan dan koki. Selanjutnya simposium diadakan tiap dua tahun sekali.

(Foto: checkinjakarta.id)

Di Indonesia sendiri, masih jarang restoran yang memang fokus dengan molecular gastronomy. Pionirnya yaitu Namaaz Dining di daerah Senopati, Jakarta pada tahun 2012. Sesuai dengan taglinenya yaitu ‘what you see is not what you get’, para pengunjung akan dibuat surprise dengan menu-menu yang tersedia. Yang membuat lebih spesial lagi adalah Namaaz Dining menyajikan makanan-makanan tradisional Indonesia. Salah satu misi pendiri restoran ini yaitu Chef Adrian Ishak adalah memperkaya khazanah kuliner Indonesia.

(Foto: http://msyuanyuan.blogspot.co.id)

Jika Inspirator ingin merasakan pengalaman makan yang unik ini, harus booking dulu via websitenya karena jumlah pengunjung tiap harinya dibatasi 28 orang saja. Tidak seperti di restoran lainnya, di sana pengunjung tidak memesan menu tapi akan langsung disajikan 17 hidangan lengkap mulai dari appetizer hingga dessert.

Pengunjung juga tidak hanya sekadar menikmati hidangan tapi dapat merasakan langsung teknik molecular gastronomy itu. Seperti saat disajikan es podeng, pengunjung akan diberikan jas hujan karena hidangan tersebut akan meledak-ledak. Wow, seru banget kan! Lama penyajian seluruh menu sekitar 2-3 jam. Jenis menu akan berganti tiap 6-8 bulan sekali.

(Foto: http://www.duniamisskhallisa.com)
(Foto: id.openrice.com)

Bagaimana, apakah Inspirator penasaran? Sambil merencanakan menikmati molecular gastronomy, coba tebak-tebakan dulu sebenarnya hidangan apa yang tersaji pada foto-foto ini!

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak

LEAVE A REPLY