Seks
Sumber gambar : http://www.gulalives.co

Terlepas dari tingkatan ekonominya, setiap anak membutuhkan pendidikan. Baik itu bersifat moril, pengetahuan umum, maupun life skills yang nantinya dapat menjadi bekal mereka untuk menjalani hidup dengan lebih positif di masa remaja dan dewasa kelak.
Salah satu life skill penting untuk mereka ialah pengetahuan mengenai sistem reproduksi. Tidak sedikit lingkungan yang merasa hal ini tabu untuk dibahas, sehingga akhirnya membuat anak-anak merasa malu untuk bertanya dan sering mencari informasi sendiri dari sumber yang kurang bertanggungjawab. Hal ini justru akan berdampak negatif pada anak tersebut karena keingintahuan yang bercampur dengan ketidaktahuan mereka dapat dimanfaatkan oleh para penjahat seksual.

Ancaman kejahatan seksual saat ini semakin gencar mengintai anak hingga ke usia yang teramat dini, terlebih pada lingkungan masyarakat ekonomi lemah. Menurut Pusdatin (Pusat Data dan Informasi) Komnas Anak, berdasarkan jumlah kasus yang dilaporkan di seluruh Indonesia telah terjadi lebih dari 8,8 juta kasus kejahatan seksual terhadap anak. Sebab itu, sejak tahun 2013 Komnas Anak menetapkan Indonesia dalam kondisi darurat kejahatan seksual.

Seks
Sumber gambar : kompasiana.com

Berangkat dari hal tersebut, mengambil momen Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli 2017, komunitas Swayanaka (Mahasiswa Penyayang Anak) yang fokus kegiatannya pada pendidikan dan kesehatan anak, mengadakan kegiatan edukasi seks bagi anak-anak binaannya di Kelas Kelapadua (KKD), sebuah rumah belajar anak di pemukiman pemulung di wilayah Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kegiatan akan berbentuk fun discussion dengan tajuk “Aku Anak MANDIRI (Mampu Menjaga Diri Sendiri)”, yang salah satu tujuannya adalah membangun kesadaran pada anak akan pentingnya mengenali batasan-batasan tubuhnya yang aman dalam pergaulan sehari-hari dan menghindarkan anak dari kejahatan seksual.

Hari Anak Nasional

Sebuah identifikasi terhadap potensi pelecehan seksual yang dialami oleh seorang murid perempuan di KKD, di mana ia tinggal hanya bersama ayah dan abang-abang tirinya, juga menjadi factor yang memicu urgensi dari kegiatan “Aku Anak Mandiri”.

Guna mencapai target edukasi bagi sekitar 45 anak usia 6-14 tahun di KKD, Swayanaka melakukan pembekalan berupa Training of Trainers (TOT) bagi 12 orang “kakak relawan pendamping” murid yang akan terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. TOT ini menggandeng kak Loveria Sekarrini dan Natalia Rotinsulu sebagai narasumber, yang merupakan relawan dari Yayasan Pulih dan telah berpengalaman dalam memberikan konseling bagi korban-korban pelecehan/kejahatan seksual. TOT dianggap sangat penting, mengingat sensitifitas topik yang akan disampaikan, untuk menyiapkan pemahaman, keterampilan, serta kesiapan mental para kakak pendamping dalam menyampaikan materi dan menanggapi pertanyaan maupun bahasa tubuh yang “mencurigakan” dari adik-adik binaan selama mengikuti edukasi.

“Aku Anak Mandiri” akan dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 23 Juli 2017, pukul 10-12 siang. Dalam pelaksanaannya, adik-adik murid akan dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, didampingi oleh kakak pendamping. Materi akan disampaikan dalam bentuk permainan, film/video, tanya jawab, hingga diskusi yang tidak monoton.

Rencana ke depannya, edukasi seks ini tidak berhenti pada tingkat anak saja, namun juga untuk orang tua yang sangat perlu mengetahui bagaimana menyampaikan ilmu penting ini kepada buah hati mereka, melalui komunikasi yang harmonis dan efektif. Idealnya, kesadaran harus terbangun secara bersamaan karena orang tua dan warga sekitar jelas bertanggung jawab terhadap keselamatan anak-anak di lingkungan mereka. Terlebih lagi, tanggung jawab sosial ini telah memiliki payung hukum.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

@Inspiratorfreak

 

LEAVE A REPLY