Satelit Nano Pertama Karya Mahasiwa Indonesia Bakal Diluncurkan

Ilustrasi: Lancercell.com

Teknologi nano pertama kali diresmikan oleh Prof. Norio Taniguchi dari Tokyo Science University tahun 1974 dalam makalahnya yang berjudul “On Basic Concept of Nano-Technology’,” Proc. Intl. Conf. Prod. Eng. Tokyo, Part II, Japan Society of Precision Engineering, 1974.

Di Indonesia sendiri, sejak dipelopori pertama kali oleh tim penyusun penelitian satelit-nano untuk diajukan pada DP2M DIKTI pada tahun 2008, terus dikembangkan. Pasalnya, teknologi yang memiliki berat kurang dari 10 kg ini diperkirakan akan bermanfaat di seluruh aspek kehidupan manusia. Baik di bidang medis & pengobatan, otomotif, komputer, kosmetik, farmasi tekstil, militer, lingkungan hidup maupun konservasi energi.

Salah satu yang melakukan pengembangan teknologi ini adalah Tim mahasiswa Surya University. Tim mahasiswa Surya University ini telah mengawali pengembangan satelit nano. Satelit yang memiliki ukuran lebih kecil dari satelit standar ini diklaim akan menjadi yang pertama dibuat oleh mahasiswa Indonesia.

Menurut Rektor Surya University, Yohanes Surya, kebutuhan akan satelit nano terus berkembang, mengingat kemampuannya tak kalah dibandingkan satelit standar, tetapi nilai investasinya lebih kecil.

“Untuk pembuatan satu satelit nano kira-kira diperlukan Rp 1 miliar. Menurut perhitungan, untuk mencakup seluruh Indonesia dibutuhkan 100 satelit nano. Jadi, hanya dibutuhkan sekitar Rp 100 miliar untuk bisa memenuhi Sabang sampai Merauke,” ujarnya seperti dilansir dari Liputan6.com.

Nantinya, satelit nano dapat difungsikan untuk komunikasi dan pemetaan. Guna mendukung pengembangan satelit nano ini, tim mahasiwa Surya University bekerja sama dengan PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN). PSN akan mendukung dari sisi sel solar dan untuk pembuatan rangkaian dan sirkuit dikerjakan langsung oleh mahasiswa.

Rencananya, satelit nano ini akan diluncurkan akhir 2017. Namun Yohanes belum dapat memastikan posisi peluncuran, mengingat belum ada kesepakatan dengan pihak lain. Saat ini pendanaan untuk pembuatan satelit ini masih terus dilakukan, termasuk dengan cara membuka kampanye urun dana di Kitabisa.com.

“Untuk tahap awal memang dibutuhkan sekitar Rp 3 miliar dan kami masih terus melakukannya. Namun pengembangannya sudah dilakukan dan mendekati tahap finalisasi,” pungkasnya.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here