Peringatan Hari Bakti Dokter Sedunia

Astralife.co.id

Menurut data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), per Mei 2016 jumlah dokter di Indonesia sebanyak 110.720 orang, dengan rasio satu dokter melayani 2.270 penduduk. Tetapi, sebarannya tidak merata; dokter-dokter Indonesia umumnya terkonsentrasi di kota besar di provinsi tertentu. Di DKI Jakarta, misalnya, satu dokter menangani 608 penduduk, tapi di Sulawesi Barat satu dokter mengurusi 10.417 penduduk. Mayoritas lulusan dokter memilih berkarya di daerah yang memberi mereka insentif besar, fasilitas memadai, dan menawarkan jenjang karier yang jelas.

Inspirator tentu tahu untuk menjadi dokter tidak mudah, dibutuhkan waktu kuliah yang tidak sebentar (enam hingga tujuh tahun) dengan materi kuliah yang tidak mudah, dan tentu saja biaya yang tidak sedikit. Murid-murid berotak encer tapi terkendala urusan biaya harus memendam impian menjadi dokter. Di sisi lain, murid dari keluarga kaya tapi tidak pintar tidak akan menghasilkan dokter berkualitas unggulan.

Selain itu, tahapan yang dilalui calon dokter hingga menjadi dokter mandiri–mulai dari praklinik di kampus sendiri hingga tahapan klinik di rumah sakit mitra universitas mereka–juga menguras energi dan kemampuan. Tidak heran jika hanya orang-orang berkemauan keras dan bertekad baja yang bisa menjadi dokter berkualitas.

Problem lain yang dihadapi dunia kedokteran kita saat ini adalah banyak lulusan dokter di Indonesia tidak memiliki kecakapan setara. Meskipun ada upaya penyamarataan kompetensi dengan Ujian Kompetensi Dokter, tidak berarti dokter dari Fakultas Kedokteran (FK) berakreditasi C memiliki kemampuan sama dengan dokter dari FK berakreditasi A. Maka salah satu solusi yang bisa ditempuh adalah menyamakan akreditasi semua FK, yang konsekuensinya berarti menyediakan tenaga pengajar, fasilitas pendukung, dan ilmu yang kualitasnya setara untuk semua FK di Indonesia.

Tanggal 20 Mei ini, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ke-109, kita juga memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia ke-109. Menyadari pentingnya peranan dokter dalam menyehatkan bangsa, mari kita mengenal beberapa dokter di Indonesia yang pengabdiannya bisa menjadi sumber inspirasi.

Tahun lalu, Inspirator Freak memperkenalkan enam dokter inspiratif yang mengabdi setulus hati pada masyarakat. Siapa saja mereka bisa dibaca di tautan ini: 6 Dokter Inspiratif

Kali ini kita akan berkenalan dengan dua dokter lagi yang juga menginspirasi lewat pengabdiannya.

1. Dr. Michael Leksodimulyo

Astralife.co.id

Dia meninggalkan posisinya yang sudah mapan sebagai wakil direktur Rumah Sakit Adi Husada Surabaya untuk mendirikan klinik keliling Yayasan Pondok Kasih. Sejak 2009, dia memberikan layanan dan penyuluhan kesehatan gratis kepada warga yang tinggal di kawasan kumuh di kota Surabaya. Tanpa malu-malu, ia senang disebut dokter spesialis gelandangan.

Keputusan Michael untuk mendirikan klinik keliling berawal dari ajakan Ketua Yayasan Pondok Kasih, Hana Amalia Vandayani, untuk mengunjungi masyarakat miskin di Surabaya. “Saya sudah pernah melihat pasien di hutan terpencil, tapi belum pernah melihat pasien di kolong jembatan,” katanya.

Pengalaman mengunjungi masyarakat miskin bersama Hana membuat mata Michael terbuka. Ia menangis sehingga istrinya bingung. Ia pun terkenang janjinya sebagai dokter untuk melayani masyarakat. Akhirnya Michael memutuskan untuk mendirikan klinik keliling Yayasan Pondok Kasih.

Sampai saat ini, Yayasan Pondok Kasih sudah menangani 167 komunitas miskin dengan rata-rata memuat 200 – 300 keluarga. Yayasan ini juga sudah mendirikan sepuluh klinik dan subklinik permanen di sejumlah titik di Surabaya.

2. Dr. Aznan Lelo

Foto: singindo.com

Di sebuah garasi sebuah rumah tua di Medan, Sumatera Utara, dr. Aznan Lelo, SpFK, PhD, dokter spesialis farmakologi, menerima pasiennya. Meski tanpa papan nama di depan rumah, ruang praktiknya tidak pernah sepi dikunjungi pasien.

Uniknya, para pasien tidak diminta patokan bayaran tertentu. Memang tersedia amplop di dekat pintu keluar yang berfungsi menampung bayaran dari pasien, tapi uang yang dimasukkan ke dalam amplop ditentukan sepenuhnya oleh pasien.

Aznan Lelo telah membuka praktik dokter dengan bayaran sukarela ini sejak 1978. Mengenyam pendidikan dokter di Univesitas Sumatera Utara, sejak kecil ia memang bercita-cita memiliki pekerjaan yang berguna bagi orang lain. Percakapan dengan sang abang yang membuka pikirannya. “Abang saya bilang, saya jago matematika, bagusnya jadi dokter,” katanya. Bermodal keinginan kuat memberikan layanan kesehatan bagi sesama, anak dari orangtua yang berprofesi sebagai tukang jahit ini berhasil mengenyam pendidikan sampai meraih gelar Dokter Farmakologi di Australia.

Sekembalinya dari pendidikan di Australia pada tahun 1987, ia mengabdikan dirinya di dunia pendidikan, tidak membuka praktik. Namun beberapa pasien lamanya kembali berdatangan. Mereka berharap dokter yang kerap dipanggil Buya ini membuka praktik dan kembali melayani masyarakat. Hati Aznan pun kembali terpanggil. Ia kembali membuka praktik dengan bayaran sukarela.

Soal bayaran dalam amplop, tak jarang Aznan hanya menerima upah lima ribu rupiah dari jasanya. Ia bahkan kerap menerima amplop kosong. Meski demikian, ia selalu menerima dengan ikhlas. “Kalau kugunakan profesi dokterku ini untuk menjadi kaya, aku pasti sudah kaya. Tapi aku tidak mau, bagiku orang miskin lebih menghargai profesi dokter, dibandingkan orang kaya. Itu yang membuatku senang menjalani profesi seperti ini,” katanya.

Dalam membuka praktik pengobatan, pria yang biasa disapa dengan Buya Aznan ini lebih fokus mencari keberkahan dalam hidup. Kepuasan batin ia peroleh dengan membantu sesama manusia. Keyakinan ini berasal dari pesan seorang ulama yang pernah ia dengar. Bahwa profesi dokter, pengacara, maupun guru sebaiknya tidak memasang tarif karena sifat profesi yang memiliki nilai sosial.

Setiap hari Aznan menerima lebih dari tiga puluh pasien. Terkadang jumlah pasien membludak hingga ratusan sehingga ia bekerja sampai dini hari. Hebatnya, ia menjalani semua itu dengan ikhlas. Dokter bagi Aznan adalah profesi yang tidak boleh menetapkan tarif jasa. Ia menganggap profesi ini sebagai jalan pelayanan yang ditunjukkan oleh Tuhan.

Keikhlasan hati menjalani profesi bukanlah hal yang mudah untuk dilakoni. Dokter-dokter ini membuktikan bahwa yang datang dari panggilan hati akan lebih ringan untuk dijalani. Barangkali, kisah mereka bisa menjadi inspirasi Anda dalam meraih mimpi.

Keep breathing, keep inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here