Peluncuran Buku Indonesian Dream: Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila

Photo: diskusi buku Indonesian Dream/Inspiratorfreak

JAKARTA – Presiden INADATA Consulting dari California, AS, Elwin Tobing akan meluncurkan buku berjudul “INDONESIAN DREAM: Revitalisasi dan Realisasi Pancasila Sebagai Cita-Cita Bangsa”. Peluncuran buku yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas tersebut akan dilakukan pada Senin, (20/8/2018) di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta Pusat.

Cerita dibalik penulisan buku

Photo: Pak Elwin Tobing sedang menceritakan kisah dibalik penulisan buku/Inspiratorfreak

Elwin menjelaskan, buku “Indonesian Dream” mencoba menawarkan revitalisasi narasi Pancasila sebagai cita-cita manusia dan bangsa Indonesia. Elwin menilai selama ini Pancasila cenderung berfungsi sebagai ideologi yang mengatur ketatanegaraan, sehingga kurang menyentuh secara personal. Padahal, kata Elwin, Pancasila seperti yang dirumuskan oleh Bung Karno dan Bapak Pendiri Bangsa lainnya tidak hanya mengatur ketatanegaraan melainkan juga menyangkut cita-cita manusia dan bangsa Indonesia serta sistim nilai untuk mencapai cita-cita tersebut. “Pancasila sebagai suatu cita-cita atau impian sifatnya menjadi personal, tidak hanya menekankan negara atau bangsa,” ungkap Elwin.

Lebih lanjut, Elwin yang tinggal di Amerika Serikat sejak 23 tahun terakhir, mengatakan bahwa syarat untuk membangun bangsa Indonesia hanya dapat dilakukan dengan cara membangun manusia-manusia Indonesia yang berdasarkan sistem nilai atau cita-cita Pancasila.

Bhineka Tunggal Ika jangan hanya jadi slogan

“Ketika seseorang mendengar Pancasila di benaknya bukan lagi semata-mata “Bhinneka Tunggal Ika”, melainkan impian menjadi manusia Indonesia yang berdaulat, seperti termaktub dalam Pancasila itu sendiri. Untuk menjadi manusia yang berdaulat harus memenuhi tiga syarat yaitu merdeka, berkeadilan, dan berpengetahuan. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, manusia dan bangsa Indonesia harus mengembangkan tiga modal, yakni modal spiritual, modal sosial, dan modal manusia. Bila ini terwujud, maka “Bhineka Tunggal Ika” dengan sendirinya lebih mudah terbangun, bukan lagi sebatas slogan,” imbuh Elwin.

Jika balik ke belakang, Elwin, yang juga adalah dosen di beberapa universitas di AS, bercerita bahwa gagasan Indonesian Dream lahir sekitar dua dekade lalu tepatnya ketika Indonesia berada pada zaman reformasi yang menimbulkan berbagai krisis sosial, ekonomi, politik, dan identitas.

Semua hal itu menyebabkan Indonesia berada di ambang perpecahan. Krisis yang terjadi pada masa itu mendorong Elwin mendirikan Indonesian Institute pada tahun 2002 di Amerika Serikat yang bertujuan mengkampanyekan nilai-nilai Pancasila sebagai suatu cita-cita ke seluruh masyarakat Indonesia. Kampanye tersebut dituangkan dalam bentuk artikel-artikel yang dipublikasikan pada website Indonesian Institute. Selanjutnya, pada 2009 Elwin menuliskan buku yang berjudul “The Indonesian Dream: The Persuit of a Winning Nation”.

Tahun ini, buku yang sama kembali dicetak dengan mengalami berbagai perubahan, khususnya kebaruan data-data yang relevan dengan kondisi kekinian. Elwin memanfaatkan suasana momentum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 tahun untuk meluncurkan bukunya dengan mengundang dua pembahas yaitu Andrinof Chaniago dan Sarwono Kusumaatmadja.

Menurut Elwin, kedua tokoh tersebut dinilai tepat untuk memaparkan semangat cita-cita Pancasila sebagaimana yang diimpikan Presiden Sukarno dan Bapak Pendiri Bangsa lainnya. “Pancasila sebagai suatu cita-cita dan sistem nilai untuk mencapai cita-cita bangsa harus dibaca, didengar, dan dihayati seluruh kalangan. Saya berharap para pembaca dapat mengambil nilai positif dari buku “Indonesian Dream” khususnya mengenai perspektif atau narasi terbarukan dalam hal mempersatukan bangsa. Saya mau ini menjadi suatu gerakan atau kampanye sosial nasional,” kata Elwin.

Inspirator tertarik untuk membaca buku ini?

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here