sumber : www.athslife.com

Sambil menyedu teh di pagi hari, aku mengingat kisah tentang ini. Kamu pasti berpikir bahwa di dunia ini ada orang yang tidak pernah terkalahkan. Kadangkala kita merasa tidak mampu dan ingin menyerah saja pada kondisi. Kita lelah dan kita berada di posisi yang tidak menguntungkan. Ada orang di luar sana yang hidupnya sempurna, sementara hidup kita jauh dari sempurna. Buat apa berusaha kalau berakhir pada kegagalan? Sahabatku mengajariku satu hal… Mata itu tajam, lurus, tanpa melihat ke kiri dan ke kanan. Peluh boleh menetes. Disampingnya lirikan demi lirikan itu dilemparkan padanya. Angkuh dan penuh kesombongan, merendahkan manusia lebih mudah daripada menyelesaikan pertandingan dan menundukkan diri. Kadang lututnya melemas, ia lebih baik mundur daripada menunggung kekalahan dan dihina oleh dunia yang jahat. Tapi itu tak boleh dilakukannya, sebab dunia menunggunya. Janjinya pada bangsanya, “Aku akan menyelesaikan pertandingan lariku, aku harus menyelesaikan pertandingan lariku!” Teringatlah sang pelari pada ingatan 26 tahun lalu ketika dirinya berlari kecil di halaman rumah, bila dengan tekun ia terjatuh dan ibunya memberikan semangat padanya. Setiap hari, setiap waktu. Waktu berlalu makin dewasa dan ia tetap mendisiplinkan larinya, makin hari makin jauh sebab tubuhnya dilatih sedemikian kuat. Hingga akhirnya, ia berikrar bahwa dirinya akan mengharumkan bangsanya. Disinilah ia berada, dengan deru napas di sekitarnya. Ia bisa mendengar napas cepat lawannya di sekitarnya, ia bisa mendengar debar jantung orang di sebelahnya. Semakin didengarkannya, ia semakin ketakutan. Bila ia tak bisa menyelesaikan pertandingan ini, ia tak akan malu di negri ini saja. Ia tak akan sanggup pulang dengan keadaan kalah dan direndahkan. Ia harus menang, membopong medali terbaiknya dan membuktikan bahwa negerinya tak bisa disepelekan. Dalam renungan panjangnya, ia merasa tenang. Ia akan memenangkan pertandingan ini, sebaik yang bisa dilakukannya. Lalu pistol itu ditembakkan dan ia segera menyeringai cepat dan berlari secepat yang ia bisa. Tiga hal yang diingatnya saat berlari: Posisi, selalu menyatakan dimana kita berada. Posisi akan menyatakan jarak yang akan kita tempuh ke depan. Sesuatu yang ada dalam diri kita sebagai tanda bahwa kita berada pada suatu tempat. Kecepatan adalah sesuatu yang sedang kita lakukan. Setiap pelari punya kecepatan. Kecepatan ini akan mengantarkan pelari pada kemenangan untuk menempuh jarak. Percepatan adalah niat yang akan kita lakukan. Mempercepat kecepatan atau memperlamabatnya adalah tindakan yang bijaksana yang akan dibuat dalam perencanaan seorang pelari. Temanku terus berlari dengan bersemangat dan ia yakin ia akan melampaui segalanya. Sebentar lagi ia akan menang untuk menyelesaikan kilometer demi kilometer peperangan ini. Setiap tatapan dan napas intimidasi musuh dihalaunya dan ia yakin ia akan menyelesaikan pertandingan ini dengan baik. 500 meter lagi dan finish. Batu sandungan selalu ada dalam hidup, secepat apapun kita berlari, sekuat apapun kaki kita berlari. Ketika kita tak berhati-hati, dia akan menyandung kita. Tak peduli sedekat apa kita dengan akhir dan membuat kita jatuh. Lalu pelari itu jatuh dan terluka di lututnya. Kata orang, jatuh di dekat garis finish itu sial. Pelari itu seketika menangis karena sakit yang dirasakannya bukan di lutut, tapi di hatinya. Kini ia terinjak lawan dan melihat satu per satu lawan yang telah dikalahkannya menyusulnya dan menjauh darinya. Ah ia benar-benar tidak beruntung.Di kiri kanannya banyak tali untuk keluar dari pertandingan dan menyerah. Lalu teringatlah ia, bahwa ia sudah mendekati garis finish pada posisinya, bahwa ia masih bisa berlari dengan kecepatannya meskipun kakinya terluka, dan ia masih memiliki niat untuk mempercepat larinya. Kendati terluka, niat itu selalu ada, tak pernah hilang. Lalu berlarilah ia dan ia tahu kemenangan yang sebenarnya adalah untuk menyelesaikan sebuah pertandingan, apapun kondisinya. Teman-teman! Aku belajar dari sahabatku ini, pelari sejati ini. Tak peduli separah apapun kita gagal, kita selalu punya kemauan untuk sukses. Ambil posisi kita, kita akan memulai dengan baik dan mengakhiri dengan baik, kecepatan adalah ketekunan untuk menyelesaikannya, dan percepatan melalui ide dan plan yang kita buat untuk membuat kita semakin maju. Terima kasih sahabatku.   Insiprasi kisah John Stephen Akhwari Summer Olimpyade 1968, Mexico Andrean Wijaya @dadanglord

SHARE
Previous articleCap Go Meh dari Sudut Pandang Bogor
Next article7 Gunung di Indonesia yang Wajib Kamu Kunjungi

LEAVE A REPLY