Pameran Kain Tradisional Nusantara Ajak Generasi Muda Lestarikan Wastra Indonesia

Pameran Kain Tradisional Nusantara Ajak Generasi Muda Lestarikan Wastra Indonesia
Tampil cantik dan etnik dengan batik bermotif parang ala Clarasia Kiky (foto: dok. pribadi)

Kain tradisional atau wastra indonesia yang unik dan istimewa merupakan salah satu dari sekian banyak kekayaan budaya Indonesia. Untuk terus melestarikan kain tradisional dan mengenalkan pada generasi muda, Museum Nasional menggelar Pameran Kain Tradisional Nusantara pada 14-30 November 2016.

Mengusung tema “Seribu Nuansa Satu Indonesia”, Museum Nasional berkolaborasi 34 museum di seluruh Indonesia untuk menampilkan keragaman kain tradisional. Berbagai motif, teknik pembuatan, dan sejarah kain tradisional tersaji dalam ruang pameran.

Dalam acara pembukaan, Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kemdikbud, menyampaikan bahwa pameran kain tradisional merupakan langkah baik dalam koridor pelestarian. Akan tetapi, yang tak kalah pentingnya adalah mendekatkan capaian budaya nasional itu kepada publik yang luas.

“kita perlu mengadakan pameran-pameran yang lebih melibatkan warga dan menarik minat mereka untuk mengapresiasi kebudayaan sendiri. Tidak ada pelestrian tanpa pelibatan publik seluas-luasnya.” ujarnya.

Kain tradisional nusantara menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia karena tidak hanya diperkaya oleh teknik pembuatannya, tetapi juga sifat dan fungsinya. Kain tidak hanya dipakai untuk sehari-hari, tetapi juga bisa bernilai sakral yang dikenakan pada saat khusus dan dianggap memiliki kekuatan magis. Corak atau motif kain tradisional nusantara yang umumnya memiliki makna filosofis yang mendalam juga berfungsi sebagai media pembelajaran tentang bagaimana memaknai hidup.

Seperti yang diungkapkan Clarasia Kiky, pengunjung pameran sekaligus penikmat wastra Indonesia. Menurutnya pameran ini menarik karena menampilkan wastra nusantara yang cukup representatif. Apalagi di era saat ini sedang banyak dipakai oleh segala generasi termasuk generasi muda.

“That is a good thing! Namun sayangnya ini tidak dibarengi dengan pemahaman akan makna dari wastra itu sendiri. Tiap motif dari kain kita itu punya maknanya sendiri.” ujar pemilik brand busana Ageman ini.

Pameran Kain Tradisional Nusantara Ajak Generasi Muda Lestarikan Wastra Indonesia
Suasana ruang pameran (foto: dok. pribadi)

Kiky mencontohkan batik Mega Mendung dari Cirebon. Sejarahnya, batik ini terpengaruh dari kedatangan Cina ke pesisir Cirebon. Mega adalah awan, mendung adalah mendung – pertanda sejuk. Dan maknanya adalah supaya dalam amarah pun kita bisa memberi ketenangan, kesejukan. Supaya amarah tidak meledak-meledak dan menyadari kita adalah manusia biasa yang bisa saja punya amarah. Namun yang terpenting adalah mengolah amarah itu menjadi sesuatu yang baik bagi sekitar kita.

“Dan lagi pula, kain nusantara, khususnya batik telah menjadi warisan budaya tak benda (intangible) oleh UNESCO. Disebut warisan tak benda, karena yang membuat unik itu  bukan barangnya namun segala filosofi di baliknya. Maka dari itu kita harus mengerti segala makna pada apa yang kita pakai, karena dengan demikian kita bisa turut melestarikan warisan nenek moyang kita ini.” ungkapnya.

Kiky berharap pameran seperti ini bisa dinikmati lebih banyak orang terutama generasi muda agar lebih memahami mengapa kain tradisional begitu berharga. Dan supaya juga ingat, tanpa ada penelitian dan pemakaian terus menerus, kain-kain nusantara bisa saja tidak diakui sebagai budaya Indonesia.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Penulis : Ifa Ikah

Inspirator Freak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here