Foto: Inspirator Freak

Sastra bukanlah rangkaian kata-kata yang puitis, mendayu-dayu dan membuat orang terpesona pada kata-kata. Sastra adalah setiap upaya untuk menggali suara dari nurani melalui bahasa.

Demikianlah arti sastra bagi penulis novel dan peraih Khatulistiwa Literary Award 2012, Okky Maddasari. Terbukti karya-karya sastranya dekat sekali dengan isu sosial. Tak mencoba berpuitis tetapi kritis mempertanyakan ketidakadilan.

“Saya berfikir menulis karya sastra bukan sekadar menghibur dan pengantar tidur. Tetapi karena memang ada sesuatu yang ingin saya sampaikan dan saya rasa harus diungkapkan.” ujar Okky saat ditemui oleh Inspirator Freak, di Rumah Sastra, Kawasan Jagakarsa, Jakarta.

Pengalaman menjadi wartawan selama tiga tahun merupakan kesempatan emas bagi Okky untuk membaca karya-karya sastra. Okky kemudian menemukan bahwa jurnalisme tak lagi cukup menjadi medium untuk mengungkapkan segala yang ada dipikiran dan kegelisahannya. Okky pun memilih jalur sastra.

Bagi Okky, sastra mampu membuat pikirannya lebih terbuka dan memiliki perspektif yang berbeda ketika memandang berbagai macam hal. Membaca karya-karya sastra di mata Okky merupakan upaya untuk melatih berpikir kritis, tidak terbawa arus serta berani untuk terus mempertanyakan sesuatu.

“Sastra seharusnya membuat kita lebih sadar bahwa hidup tak seperti dongeng impian dan mencoba mengantarkan kita pada realita.” jelas Sarjana dari jurusan Hubungan Internasional, Universitas Gajah Mada ini.

Beberapa Karya Sastra dan Penghargaan Sastra Okky Maddasari (foto: dok.pribadi)
Beberapa Karya Sastra dan Penghargaan Sastra Okky Maddasari (foto: dok.pribadi)

Melalui keempat novelnya, Entrok, 86, Maryam dan Pasung Jiwa, Okky menyampaikan realita permasalahan sosial di sekitarnya. Di novel Maryam misalkan, Okky menyuarakan kondisi sekelompok masyarakat di Lombok yang dianggap menyimpang karena keyakinannya.

“Sekarang kamu bayangkan, okelah mereka dianggap sesat tetapi bagaimana kamu membiarkan sekelompok manusia diusir dari rumahnya yang asli, tinggal di pengungsian tujuh tahun, anaknya lahir, meninggal disitu dan sampai sekarang kalau ke Lombok masih ada. Sekarang kita nonton berita TV, ada kejadian serupa dari orang lain. Itu sewaktu-waktu bisa saja terjadi pada kita dengan mudah dianggap apa, diusir dan tidak boleh tinggal dirumah kita,” ujarnya.

Pengagum Pramoedya Ananta Toer ini percaya bahwa sebuah tulisan dan sastra memiliki kekuatan besar dalam memengaruhi jiwa dan pikiran orang khususnya anak muda. Menurutnya, dengan membaca sastra anak muda bisa mengetahui hal-hal yang terjadi di masa lalu sehingga bisa membangun karakter dirinya, dimana mereka akan memiliki sifat lebih empati, berpikiran terbuka, dan lebih bisa menerima perbedaan.

“Buat saya itu pencapaian terpenting dari sebuah karya sastra ketika pelan-pelan mempengaruhi pikiran orang. Sebenarnya hal tertinggi yang ingin dibawa sebuah karya sastra adalah ingin mendekatkan kita dengan nilai-nilai kemanusiaan.” tutupnya.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Penulis  : Ifa Ikah

Editor    : Dylan Aprialdo Rachman

Inspirator Freak

 

LEAVE A REPLY