Meriahnya Pawai Ogoh-ogoh dan Sunyinya Perayaan Hari Raya Nyepi di Bali

Tanggal 17 Maret 2018 ini, masyarakat beragama Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Kalau kamu berkunjung ke Pulau Bali hari ini, kamu akan merasakan Bali sunyi dan sepi. Hanya akan ada sedikit orang berlalu-lalang di jalan; tempat-tempat umum juga ditutup kecuali rumah sakit, itu pun harus dijemput menggunakan ambulans.

Nyepi berasal dari kata sepi atau hening yang dilakukan ketika proses pergantian tahun Caka sejak tahun 78 Masehi. Seperti halnya perayaan tahun baru tanggal 1 Januari, ketika banyak orang memotivasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, Hari Raya Nyepi merupakan bentuk “pemutihan diri”. Pemeluk agama Hindu mengevaluasi kembali relasi antara sesama manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan-nya. Kegiatan ini disebut Trihita Karan.

I Made Ari Ardiana, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia menyatakan, “Nyepi itu hari refleksi diri, melihat apa yang saya lakukan sebelumnya dan apa yang harus saya lakukan ke depannya.” Menurutnya, ada sensasi tersendiri ketika sudah memiliki persiapan mengenai apa yang akan dilakukan selama menjalani Hari Raya Nyepi. Perbedaan yang dia rasa cukup signifikan adalah terkait aturan saat Nyepi di Bali dan di Jakarta. Di Bali, peraturannya lebih ketat–bandara dan pelabuhan ditutup, listrik dipadamkan, dan orang-orang dilarang untuk mengakses internet. Sedangkan di Jakarta, suasananya tidak sekuat  di Bali.

Image result for jalanan bali di hari raya nyepi
Bali saat Hari Raya Nyepi | Sumber: http://www.klikhotel.com/

Tahukah kamu mengapa ketika Hari Raya Nyepi di Bali sangat hening? Itu karena warga Bali menghentikan segala aktivitas mereka, dengan tujuan memberikan ruang bagi alam semesta untuk bekerja sesuai kodratnya tanpa ada campur tangan manusia. Ada keseimbangan yang dilakukan manusia dan alam pada hari itu. Terdapat beberapa pantangan yang dilakukan umat Hindu pada Hari Raya Nyepi, yang disebut Catur (Brata) Penyepian.

1. Amati Geni (tidak menyalakan api)

Api adalah simbol hawa nafsu; umat Hindu diharuskan mengendalikan hawa nafsunya dengan tidak menyalakan api atau cahaya.

2. Amati Karya (tidak bekerja)

Mereka yang merayakan Nyepi harus melakukan evaluasi tentang pekerjaannya selama ini dan merencanakan apa yang akan mereka lakukan ke depannya. Ada penghitungan kemampuan dalam melakukan pekerjaan, yaitu seseorang tidak boleh berlebihan dalam bekerja.

3. Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang)

Pada Hari Raya Nyepi, manusia hanya boleh mencari dan memperoleh hiburan batin. Manusia dilarang untuk mengejar kesenangan duniawi.

4. Amati Lelungan (tidak bepergian)

Tubuh diharuskan untuk beristirahat selama Hari Raya Nyepi.

Sehari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi atau pada Hari Raya Pengerupukan, umat Hindu menggelar Pawai Ogoh-ogoh. Dalam pawai ini, ada patung yang mewakili kepribadian Bhuta Kala sebagai perlambang unsur negatif. Patung ini berwujud raksasa berwajah menyeramkan. Seiring berjalannya waktu, patung ini terus mengalami modifikasi. Jika dulu hanya menggunakan jerami dan kain putih, sekarang bisa menggunakan bubur kertas maupun styrofoam yang bahannya lebih ringan. Pembuatan dan persiapan Pawai Ogoh-ogoh bisa memakan waktu cukup lama, mungkin berminggu-minggu hingga berbulan-bulan karena tergantung tingkat kesulitan dan sumber daya manusia yang tersedia.

Related image
Foto: http://www.balikini.net/

Pawai Ogoh-ogoh dilakukan untuk menyucikan diri dari lingkungan. Ada pula Upacara Melasti di pantai dan Upacara Pengerupukan untuk mencegah datangnya Bhuta Kala. Karena Hari Raya Nyepi adalah perayaan penting bagi umat Hindu, Ogoh-ogoh dilakukan dalam beberapa tingkat, dari keluarga hingga provinsi. Pawai dilakukan beramai-ramai berupa arak-arakan keliling wilayah sambil membuat bunyi-bunyian, membawa obor, dan membawa dupa sebagai bentuk persembahan kepada Bhuta Kala. Pawai ini dilakukan sejak malam hingga dini hari. Apabila telah selesai, seseorang bisa menonton atau ikut berpartisipasi dalam Pawai Ogoh-ogoh lainnya yang dimulai dari sore hingga malam hari.

Image result for upacara melasti
Upacara Melasti di pantai | Foto: https://sportourism.id/
Image result for upacara pengerupukan
Pembakaran Ogoh-ogoh sebagai bentuk pemusnahan hal-hal negatif. Dilakukan saat Upacara Pengerupukan | Foto: https://www.wego.co.id/

Di Pulau Bali, supaya pawai berjalan tertib dan lancar, Pemerintah Bali membuat rute Pawai Ogoh-ogoh, pemusatan titik keramaian, dan adanya kompetisi kreatifitas desain Ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh juga dapat menjadi wisata religi bagi wisatawan lokal dan internasional yang tidak merayakan Nyepi.

Setelah membaca artikel di atas, apakah Inspirator tertarik untuk berkunjung ke Bali menjelang Hari Raya Nyepi tahun depan?

Keep Breathing, Keep Inspiring!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here