Rhezaldian Eka Darmawan

Bagian kedua dari tulisan ini berkisar pada obrolan saya bersama Rhezaldian dalam melihat antusiasme anak muda Indonesia dalam melakukan penelitian, seberapa siap Indonesia menghadapi MEA dan juga disambung dengan apa yang harus dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam memperkuat kualitas bangsa melalui penelitian dan pengembangan. Inspirator Freak: “Menurut Rheza sendiri, kita berbicara secara umum, sudah seberapa tinggi kah tingkat antusiasme anak muda Indonesia dalam melakukan penelitian?”

Rhezaldian Eka: “Kalau penelitian anak muda Indonesia khususnya di Brawijaya ini tinggi sekali. Tapi ketika saya pergi ke Malaysia, saya melihat anak SD di sana itu sama dengan anak mahasiswa di sini, karena anak SD di sana itu sudah mulai melakukan penelitian. Dari Thailand juga begitu. Lalu bagaimana dengan anak-anak mahasiswa dari Malaysia dan Thailand seperti itu? Mereka sudah berada di tahap pengembangan, bukan di tahap penelitian lagi. Jadi mereka itu sudah implementasi, nah ini yang menurut saya kalau penelitian di Indonesia itu banyak tapi sayang hanya sebatas jadi tumpukan makalah, paper atau karya tulis. Contoh aja produk pasta gigi saya itu dikembangkan, jangan sampai cuma ada di berkas paper atau karya tulis saja.

Kemarin juga yang produk pengawet buah-buahan itu saya dapet tawaran kerjasama dari pengusaha buah di Medan. Ceritanya dia itu baca inovasi saya di Harian Kompas terus dia telpon saya dan cerita ‘saya itu pengusaha buah kesemek asal Jakarta tapi lahannya di Medan. Buah ini harganya 3.000,-/kg di Medan, kemudian juga di ekspor ke Jepang, tapi masalahnya dari Medan ke Jakarta durasi transportasi itu 5 hari, sementara daya tahan buah kesemek cuma beberapa hari, saya rugi 50-55 persen. Biasanya saya sekali kirim 80 ton, nah itu rugi 55 persennya. Saya baca Harian Kompas kok ada temuan pengawet buah dari susu, makanya saya tertarik kalau kerugian ini bisa diminimalisir dengan produknya sampean sampe 10 persen aja saya berani mas buat investasi’

Mendengar itu saya pribadi kan seneng, artinya karya saya yang awalnya dari sebuah tulisan di karya tulis kemudian diterapkan, dibaca orang dan mereka membutuhkan inovasi saya, saya kan juga ikut antusias. Jadi riset-riset yang disusun mahasiswa ini bukan hanya sekedar ditujukan untuk kompetisi antar kampus tapi juga harus dikembangkan. Kita sudah ketinggalan jauh dengan negara-negara ASEAN, belum lagi di negara lain seperti di Uni Eropa.”

Inspirator Freak: “Luar biasa dong Rhez, produk-produk inovasimu bisa bermanfaat banget buat banyak orang. By the way, sudah seberapa jauh pengembangan produk-produk yang sudah Rheza buat?”

Rhezaldian Eka: Kalau yang pasta gigi ini sudah masuk tahap paten habis itu uji lab (sebelum dipersiapkan untuk produksi massal -red.). Karena pasta gigi yang kita pakai sekarang ini berbahaya karena busanya, itu kan senyawa kimia keras yang kalau jangka panjang itu bisa menyebabkan peradangan di mulut, belum lagi limbah busa itu mencemari air beda dengan pasta gigi ini tidak ada busanya.

Kalau yang pengawet buah ini kita mulai jalin kerjasama dengan ikatan petani di Malang, jadi mereka kita bimbing bikin pengawetnya, para petani itu yang menerapkan pengawet ini di hasil panen mereka. Tapi masalahnya masyarakat itu ketika ada mahasiswa atau peneliti terjun ke masyarakat, mereka kurang percaya karena ragu. Tapi kalau diikutkan peran serta pemerintah baru mereka percaya dan mikir ini terjamin.

Inspirator Freak: “Seberapa sulit memang persoalannya di masyarakat, berarti perlu saling sinergis?.”

Rhezaldian Eka: “Kita bergerak sendiri susah, mereka tidak peduli dengan teknologi, ya hidup ala kadarnya tapi ini kan era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), belum lagi masyarakat yang dipelosok-pelosok kan enggak ngerti, produk mereka itu terancam makanya kita sebagai mahasiswa harus dapet dukungan dari pemerintah supaya mereka percaya. Sama kayak kalau misal kita kumpulkan para petani untuk membuat pengawet gak nyambung mereka, tapi kalau dibantu aparat desa atau tokoh desa setempat mereka antusias. Perlu kerjasama antar pihak.”

Inspirator Freak: “Menurut pandangan Rheza, sudah seberapa siapkah Indonesia menghadapi MEA?.”

Rhezaldian Eka: “Kalau menurut saya dari segi teknologi saya rasa belum, kita masih di bawah. Tapi kalau dari sumber daya alam dan potensi sumber daya manusianya Indonesia nomor satu. Cuma bagaimana kita bisa mengolah itu dengan semaksimal mungkin, tantangannya disitu. Indonesia ini kaya, potensi kita ini udah terlalu banyak.”

Inspirator Freak: “Berarti persoalannya tergantung pada kemauan untuk mencoba memaksimalkan segala sumber daya ya?!. Pertanyaan terakhir nih Rhez, Apa pesan yang sekiranya bisa Rheza sampaikan kepada anak muda di Indonesia agar mereka siap menghadapi MEA?.”

Rhezaldian Eka: “Kalau pesan saya, kita harus percaya diri, artinya kita tidak boleh menganggap diri kita itu jauh di bawah negara lain. Kita punya segalanya yang tidak dimiliki negara lain, makanya kita harus optimis menghadapi MEA dengan memaksimalkan kemampuan kita, karena sebenernya kita ini mampu tapi enggak ada kemauan.”

Rhezaldian Eka Darmawan dengan temuannya pasta gigi Exceldent berbahan cangkang telur | Sumber: Liputan6.com
Rhezaldian Eka Darmawan dengan temuannya pasta gigi Exceldent berbahan cangkang telur | Sumber: Liputan6.com

Tidak terasa obrolan 30 menit saya bersama Rheza berlalu, begitu banyak hal yang bisa saya peroleh dari obrolan bersama Rhezaldian Eka, salah satu kalimatnya yang saya sukai adalah ketika ia berulang kali mengucapkan “kita bisa melangit, tapi juga harus tetap membumi”, sebuah kalimat yang kaya akan makna bahwa menjadi seseorang yang sukses senantiasa tidak boleh lupa dengan berbagai kegagalan yang dialami dulu, tidak boleh lupa dengan berbagai pihak yang telah membantu mendorong kita menuju kesuksesan.

Dari Rheza saya belajar, anak muda udah gak jamannya lagi bersikap manja dan pasif. Anak muda Indonesia harus aktif berkontribusi terhadap masyarakat secara langsung melalui minat, bakat dan bidang keilmuannya masing-masing.

Dalam soal penelitian pun tidak cukup, penerapan dan pengembangan hasil penelitian merupakan hal yang penting. Karena dari pengembangan dan penerapan itulah masyarakat akan turut merasakan dampaknya. Dari penerapan penelitian lah kualitas kehidupan masyarakat bisa berkembang menjadi lebih baik, penelitian menjadi salah satu indikator kualitas suatu negara.

Penelitian dan inovasi menjadi garda depan yang dipegang oleh peneliti-peneliti muda di Indonesia untuk menghadapi persaingan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN, membentuk Indonesia menjadi lebih kokoh.

Passion seperti yang Rheza katakan, menjadi sebuah kunci untuk kesuksesan sekaligus kebahagian dalam menjalani hidup. Kegagalan harus disikapi dengan bijaksana sebagai sarana bagi kita untuk bangkit. Harapan Rheza kepada anak muda Indonesia untuk menjadi generasi yang siap bersaing dengan memaksimalkan seluruh daya kemampuan dan sumber daya yang ada barangkali menjadi harapan Inspirator Freak dan harapan kita semua di Indonesia. Udah saatnya kita saling bekerjasama, bersinergis dalam menjawab berbagai macam persoalan dan tantangan yang dihadapi oleh Indonesia.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)
SHARE
Previous articlePameran Karya Social Designee 2016
Next articleBetter Water, Better Jobs – World Water Day 2016

LEAVE A REPLY