Rhezaldian Eka Darmawan

Oleh: Dylan Aprialdo Rachman

Editor in Chief Inspirator Freak

Menjadi peneliti barangkali merupakan sebuah profesi sekaligus kegiatan yang sekiranya kurang begitu mendapat antusiasme yang tinggi di kalangan masyarakat umum apalagi di Indonesia. Terngiang di kepala saya ketika bertugas menjadi reporter di salah satu media nasional pada saat liputan di dalam sebuah acara seminar di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hari Kamis, 27 Agustus 2015 silam, Ketua LIPI, Iskandar Zulkarnain pernah mengatakan kalau Indonesia kekurangan peneliti. Saya kaget ketika ia mengatakan bahwa rasio peneliti di Indonesia memiliki perbandingan 90 peneliti per 1 juta penduduk. Rasio ini dikatakannya membuat Indonesia kalah jauh dari negara lain, seperti di Brazil dengan rasio 700 peneliti per 1 juta penduduk, Rusia dengan rasio 3.000 peneliti per 1 juta penduduk, India dengan rasio 160 peneliti per 1 juta penduduk, hingga Korea dengan rasio 5.900 peneliti per 1 juta penduduk.

Anggaran belanja untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia juga hanya sebesar 0,09 persen dari produk domestik bruto Indonesia. Ini masih kalah jauh dibanding negeri tetangga, Malaysia yang sudah bisa mencapai 2 persen, China di atas 2 persen, Amerika mendekati 3 persen, Israel sekitar 4 persen. Indonesia juga memiliki lembaga riset yang relatif sedikit.

Ketika mendengar penelitian yang identik dengan paper, makalah, jurnal, karya tulis, hampir sebagian besar orang beranggapan bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang rumit dan menjemukan.

Tapi tidak untuk cowok satu ini yang bernama Rhezaldian Eka Darmawan. Baginya menjadi seorang peneliti, menjalani kegiatan penelitian sudah dianggapnya sebagai sebuah hobi sekaligus sebuah passion yang menghasilkan rasa kepuasan dan kesenangan tersendiri.

Rheza bisa dikatakan sebagai anak muda berstatus mahasiswa yang benar-benar menjalankan perannya untuk berkontribusi lebih bagi Universitas Brawijaya sebagai almamaternya sekaligus berkontribusi langsung kepada masyarakat melalui produk-produk inovasinya. Melalui passionnya ia juga berhasil memenangkan berbagai macam kompetisi di tingkat nasional dan internasional. Terakhir ia memperoleh medali emas di ajang International Engineering Invention & Innovation Exhibition (I-ENVEX), di Malaysia dan ajang International Young Inventor Awards di Jakarta pada tahun 2015 silam.

Pada suatu pagi yang cerah di sebuah lorong gazebo perpustakaan pusat Universitas Brawijaya, Malang, saya berkesempatan untuk bertemu dan ngobrol-ngobrol seru seputar pengalaman Rheza dalam dunia penelitian dan inovasi. Sosoknya sendiri bisa dikatakan merupakan sosok yang ramah sehingga membuat saya sendiri bisa mendapatkan cerita yang begitu luas dan mendalam seputar Rheza dan cara pandangnya terhadap antusiasme pemuda dalam bidang penelitian dan inovasi di Indonesia.

Melalui tulisan ini, saya menuangkan obrolan seru bersama Rheza mulai dari pengalamannya dalam bidang penelitian, cara pandangnya terhadap antusiasme pemuda Indonesia dalam bidang penelitian, hingga cara pandangnya soal kesiapan anak muda Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tulisan ini akan terbagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama akan saya mulai soal cerita dan pengalaman Rheza terhadap ketertarikannya dalam dunia penelitian.

Rhezaldian Eka Darmawan dengan temuannya pasta gigi Exceldent berbahan cangkang telur | Sumber: Liputan6.com
Rhezaldian Eka Darmawan dengan temuannya pasta gigi Exceldent berbahan cangkang telur | Sumber: Liputan6.com

Inspirator Freak: “Hai Rhez, gimana kabarnya?, kenalin diri dulu dong sekilas ke pembaca IF”

Rhezaldian Eka: “Alhamdulilah baik (tersenyum). Oke nama saya Rhezaldian Eka Darmawan, lahir di Malang, 22 Maret 1995. Sekarang lagi kuliah semester 6 di jurusan teknik kimia, Universitas Brawijaya. Saya itu sempat kecilnya di Bali dari tahun 1998 sampai SMP kurang lebih sekitar 4 bulan itu di Denpasar. Karena Ayah kan di sana, SMP baru dilanjutin pindah ke Malang, SMA nya di Brawijaya Smart School (BSS). Saya anak pertama dari 3 bersaudara.”

Inspirator Freak: “Memangnya Ayah waktu di Bali bekerja sebagai apa?”

Rhezaldian Eka: “Ayah waktu di Bali itu jadi distributor telur, jadi Ayah itu tiap minggu ngirim telur pake 4-5 truk di Bali sama ke Surabaya.”

Inspirator Freak: “Wah banyak juga ya, kalau soal hobi, Rheza hobi apa nih?”

Rhezaldian Eka: “Untuk hobi kalau saya sih suka menulis dalam bentuk karya tulis ilmiah, kemudian jalan-jalan sama masak.”

Inspirator Freak: “Cukup jarang loh seorang cowok hobi masak, hahaha. Rhez, awal terjun di dunia penelitian dan penulisan ilmiah, bagaimana respon orang tua, teman-teman, sahabat hingga guru atau dosen terhadap kamu?.”

Rhezaldian Eka: “Kalau orang tua mendukung, seperti Ayah saya memang kan dari jurusan teknik kimia juga tapi ayah gak sampai riset-riset, misalnya saya konsultasi masalah ke Ayah, kira-kira kalau ada masalah seperti ini solusi yang tepat kayak gimana ya? Ayah hanya memberikan petunjuk-petunjuk kepada saya yang kemudian saya kembangkan.

Kalau dari teman-teman saya mereka antusias, karena pada waktu itu dengan adanya semacam karya tulis, kita menjadi perintis waktu di BSS (Brawijaya Smart School, tingkat SMA). Di BSS itu saya angkatan ketiga belum ada apa-apanya itu, kayak grup ilmiah belum ada, kemudian pertama kali ikut lomba yang waktu saya juara 1 itu menjadi prestasi pertama BSS di bidang karya tulis untuk tingkat nasional.

Temen-temen akhirnya penasaran, apa sih karya tulis itu, semakin banyak saya menarik minat temen-temen untuk ikutan. Itu terus berlangsung sampe saya kuliah, jadi saya enggak mengajak mereka untuk penelitian, saya mulai dari diri saya sendiri dulu, seperti ikut lomba terus saya menang, dari jurusan kan bangga terus jurusan membuat semacam banner ucapan selamat di pasang, temen-temen akhirnya antusias sebenernya apa sih karya tulis itu jadi mereka penasaran dan mencoba bertemu dengan saya. Akhirnya yaudah kita sharing satu sama lain.

Akhirnya budaya kompetisi dan inovasi di jurusan Teknik Kimia UB itu meningkat terus Saya kan waktu itu awal masuk di jurusan akreditasinya enggak bagus, saya ikut lomba esai tingkat nasional di UB, dari situ jurusan mulai memberikan kepercayaan misalkan menyediakan pembimbingan dan pendanaan. Karena setiap penghargaan yang diperoleh mahasiswa ini kan nantinya juga membantu meningkatkan akreditasi jurusan.

Kita pun difasilitasi, dari lab gratis, kalau ada bahan-bahan melimpah di lab itu juga gratis kita pakai, kecuali kalau enggak ada di lab baru kita beli. Kita memakai lab juga bisa sepuasnya, dari pendanaan juga didukung.”

Inspirator Freak: “Sudah berapa karya tulis yang Rheza hasilkan?.”

Rhezaldian Eka : “Kalau untuk jumlah pastinya lupa, kalo saya itu tiap bulan paling enggak ada satu karya selama kuliah ini entah itu makalah, paper atau jurnal.”

Inspirator Freak: “Hah? Setiap bulan itu? Satu karya? Luar biasa Rhez. Seputar topik apa aja penelitiannya?

Rhezaldian Eka: “Tidak jauh-jauh dari mata kuliah saya teknik kimia. Topiknya tentang Water, Energy, Health and Agriculture. Jadi saya memang waktu itu emang fokus untuk pengembangan karya tulis yang fokusnya di situ. Yang paling banyak energy sama agriculture. Kesehatan waktu itu pernah pas di SMA buat karya tulis tentang obat stroke dari kulit jeruk. Jadi emang dari SMA itu kita fokusnya kayak ngolah-ngolah limbah gitu buat dituangkan dalam karya tulis, kalau ada kompetisi ya diikutkan ke kompetisi.”

Inspirator Freak: “Memang dari BSS nya sudah mendorong siswanya seperti itu?”

Rhezaldian Eka: “Kalau di SMA itu gak diajarkan cuma kan sekolah itu baru artinya merintis untuk ikut lomba karya tulis, pengin nih dipublikasikan melalui lomba-lomba kek gitu. Jadi emang dari guru direkomendasikan untuk ikut. Waktu pertama kali ikut ya memang hasilnya gak maksimal, karena waktu itu baru kenal karya tulis pas kelas 1 SMA. Jadi waktu baru tau karya tulis ya saya taunya kayak novel, cerpen gitu. Saya kan enggak bisa nulis kayak gitu, karena saya juga enggak pernah baca-baca novel sama cerpen.

Akhirnya saya coba-coba terus ikut berbagai macam lomba atau kompetisi eh akhirnya berhasil, waktu itu diadain sama Kimia FMIPA UB lomba KTI tahun 2010 tingkat nasional masuk 10 besar. Terus tahun berikutnya nyoba lagi kan karena ini acara tahunan, baru deh juara 1. Semenjak itu termotivasi gitu, mungkin karena waktu itu kan lomba tingkat SMA ada reward ada penghargaan gitu saya seneng. Akhirnya saya terus mencoba menulis.”

Inspirator Freak: “Rheza kan baru-baru ini berhasil memperoleh medali emas di IYIA 2015 di Jakarta dan I-ENVEX di Malaysia, selain itu penghargaan apalagi yang pernah Rheza peroleh?.”

Rhezaldian Eka: Pernah menang di kompetisi Young Entrepreneur Award yang diadakan Bank Indonesia dan Radar Malang dengan produk pasta gigi Exceldent itu tapi kita sorot dari segi bisnisnya waktu itu juara 1. Terus juara 2 di Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia sama dengan produk Exceldent juga. Jadi setelah menemukan Exceldent tahun 2012 itu terus ngembangin sambil cari inovasi-inovasi lain seperti penjernih air dari kulit pisang, terus pengawet buah dari susu. Ya pokoknya memang seputar-seputar pemanfaatan limbah, karena dari awal saya memang ingin memanfaatkan barang-barang yang udah enggak berguna tapi bisa dimanfaatkan.”

Inspirator Freak: “Berarti semua produk-produk yang tadi disebutkan sudah dikembangkan semua?”

Rhezaldian Eka: “Iya sudah, yang paling fokus untuk saat ini pengawet buah sama pasta gigi Exceldent itu.”

Inspirator Freak: “Apa yang membuat seorang Rheza bisa mempertahankan konsistensinya untuk terus melakukan penelitian dan inovasi?”

Rhezaldian Eka: “Yang pertama sudah termotivasi karena udah kayak semacam hobi atau kesukaan. Jadi saya merasa kalau misalkan mengerjakan penelitian, karya tulis, paper, makalah itu gak ada beban, gak kerasa. di situ justru saya tidak merasa terbebani sama sekali dengan menulis penelitian, karena saya memang senang layaknya sebuah hobi, enak aja kayak gak ada keluhan. Jadi temen-temen saya di SMA atau kuliah juga pernah bilang ‘waduh kok Rheza kayak gini penelitian-penelitian terus gak capek ta?’.

Ketika saya mengikuti mata kuliah yang diajarkan dosen, saya suka memunculkan ide-ide baru, karena kan ilmu yang diperoleh itu harus disalurkan kan, diterapkan dengan inovasi-inovasi seperti ini. Terus kan kita ini juga mahasiswa yang diharapkan bisa berperan lebih di masyarakat dengan keilmuan kita, jadi saya merasa terpacu gitu loh.”

Inspirator Freak: “Rheza kan sibuk nih melakukan kegiatan seperti ini belum lagi dengan aktivitas kuliah dan kegiatan organisasi di kampus. Gimana sih cara Rheza melakukan pembagian waktu dengan beragam kegiatan seperti itu?”

Rhezaldian Eka: “Biasa aja sih, kalau saya bagi waktunya yang penting skala prioritas, jadi yang mana itu dirasa deadlinenya paling dekat dan penting itu yang diutamakan. Kuliah kan emang wajib ya dari Senin-Jumat, kalau aktivitas organisasi kan gak terlalu full, terus kalo nyusun karya tulis itu ya bisalah di sela-sela waktu. Jadi memang karya tulis ini udah kayak passion, kapan pun saya mau ya saya kerjakan, enggak ada tuntutan sama sekali. Saya tuh sampai sekarang kalau misalkan melihat sesuatu yang menarik kadang tiba-tiba ada aja ide-ide yang nyantol di kepala saya.”

Inspirator Freak: “Dalam inovasi kan pasti butuh percobaan yang intens dan berkali-kali, Rheza pasti pernah mengalami kegagalan selama masa percobaan itu, cara Rheza menghadapinya seperti apa?”

Rhezaldian Eka: “Dulu kalau pas SMA kalau gagal itu suka down, karena gimana ya kita udah usaha, terus keluar modal karena waktu itu kita penelitian kan juga pake modal sendiri untuk percobaannya terus gagal. Pernah putus asa kepikiran ‘sebenernya saya buat kayak gini itu untuk apa sih?’ karena melakukan percobaan gagal terus, saya sendiri juga yang menanggung kegagalan itu. Terus dalam suatu momen saya mikir kalo misalnya saya gagal nih, terus udah mengeluarkan modal saya, mengorbankan waktu dan tenaga terus saya enggak lanjutkan, kan sia-sia. Akan lebih tidak bermanfaat ke depannya kalau saya tidak meneruskan hal-hal seperti ini.

Menurut saya, kalau saya takut gagal sama aja saya enggak berani mengambil langkah untuk bergerak ke depan. Akhirnya melalui pemikiran itulah saya coba terus, karena saya percaya ketika kita terus istiqomah (konsisten) terus berusaha pasti akan ada suatu kesuksesan, karena kegagalan itu menurut saya jalannya menuju kesuksesan. Kalau kita enggak gagal ya kita enggak akan kuat, sama seperti ketika waktu saya menulis pertama kali, saya tidak langsung menang kan?!.

Mungkin kalau misal saya waktu itu menang pada tahun 2010 ikut lomba KTI pertama kali, terus saya langsung menang, saya pasti akan lupa diri. Saya melangit tapi tidak membumi, makanya saya dicoba digagalkan terus.

Waktu pas final itu, ada 4 juri saya ditanya enggak bisa jawab apa-apa sama sekali, saya cuma bisa keringet dingin, Cuma gemeteran aja, waktu itu berkelompok bertiga, jadi yang jawab pertanyaan senior-senior saya. Makanya kegagalan itu menjadi suatu pelajaran buat saya. Semakin kita banyak gagal itu malah kita semakin berkembang dan berkembang. Karena ketika nanti kita sukses, kita sudah melangit tapi tetap membumi. Kita bisa inget proses gagal kita dulu kayak gimana.”

(Bersambung ke bagian II)

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY