Mori Building Digital Art Museum: teamLab Borderless–Museum Digital Pertama Di Dunia Resmi Dibuka

Photo credit: Timeout.com

Museum digital pertama di dunia resmi dibuka di Tokyo, Jepang, Juni ini–namanya Mori Building Digital Art Museum: teamLab Borderless. Jika biasanya museum identik dengan benda kuno, di museum digital ini pengunjung bisa sepenuhnya membuat diri mereka tenggelam dalam karya seni luar biasa yang menawarkan pengalaman digital yang bisa membuat napas tertahan.

Pengunjung akan merasa seperti sedang bermimpi ketika mereka berjalan di galeri interaktif yang menggunakan proyektor untuk menciptakan ilusi seperti keadaan sesungguhnya. Museum seluas 100.000 kaki persegi ini antara lain menghadirkan pertunjukan air terjun, jalan setapak dari taburan kelopak bunga, dan galaksi berisi planet-planet yang ditata di latar berwarna hitam. Takkan ada perjalanan di museum digital ini yang bisa menyamai perjalanan di dunia nyata, pastinya.

Pembangunan Mori Building Digital Art Museum: teamLab Borderless merupakan kolaborasi antara kumpulan seniman Jepang di teamLab dan pengembang perkotaan yang bermarkas di Tokyo, Mori Building.

Direktur komunikasi teamLab, Takashi Kudo, mengatakan, “(Museum) Ini tidak memiliki batasan dan juga melampaui batasan. Jika Anda menuangkan (karya) di kanvas, ada batasan; jika Anda menciptakan patung, Anda tidak bisa mengubahnya. Tetapi, untuk (seni) digital, Anda bisa selalu berubah, karena dunia digital tidak sungguh-sungguh ada.”

Museum digital ini menjadi yang pertama di dunia baik dalam ukuran maupun skalanya, melibatkan “ahli teknologi ultra” yang mencakup desainer, ilmuwan komputer, insinyur, dan pemrogram.

Tema-tema di Mori Building Digital Art Museum: teamLab Borderless

Photo credit: Timeout.com

Ada dua tema kuat dalam keseluruhan karya di Mori Building Digital Art Museum: teamLab Borderless, yaitu “alam” dan “komunikasi/interaksi”. Cakupannya mulai dari “ladang padi” yang bisa dijalani pengunjung dan pemandangan yang berubah sejalan musim, hingga dinding bunga digital yang bunga-bunganya tercerai-berai atau berguguran ketika kamu menyentuhnya. Pengalaman ini adalah tentang menyatukan seni dengan penontonnya; yang menurut istilah teamLab, “Tidak hanya ada satu titik yang menarik. Anda menjadi pusatnya, dan karya seni ini berubah bersama Anda.” Semua memancar dari sudut pandang penikmatnya.

Photo credit: Timeout.com

Itu belum semua. Karena seluruhnya bersifat digital, karya seni di museum ini tidak selalu bertahan di satu tempat. Ini artinya ikan tertentu mungkin saja berenang melintas dan mengubah ruangan berikutnya, sementara gagak bisa saja menukik dan menakut-nakuti penari. Kemungkinannya sungguh tidak terbatas.

Photo credit: Timeout.com

Lalu ada ruangan cermin interaktif. Bohlam-bohlam di ruangan ini bercahaya dan berubah warna ketika pengunjung mendekat. Karena pengunjung diizinkan masuk dan berdiri di tengah-tengah ruangan, ini menjadi pengalaman (selfie) yang mungkin saja mengalahkan Infinity Rooms Yayoi Kusama.

Photo credit: Timeout.com

Pengunjung dianjurkan untuk berpartisipasi aktif

Museum digital ini menyemangati pengunjungnya untuk benar-benar terlibat secara aktif. “Athletic Forest”-nya penuh aktivitas yang mensyaratkan pengunjung untuk melompat-lompat, memanjat, bergeser, dan berayun selama melintasi karya seni ini. Pengunjung bahkan bisa menggambar “hewan”-nya sendiri, memindainya, kemudian hewan itu akan mulai berenang atau menari-nari di sepanjang dinding. Semua orang bisa menjadi seniman di sini.

Untuk menikmati pengalaman yang lebih tenang, sambil duduk, pengunjung bisa menikmati minuman di “rumah teh”. Terinspirasi oleh ritual minum teh masyarakat Jepang, mereka akan menyajikan matcha alias teh hijau, tapi bukan museum digital teamLab namanya kalau tidak terjadi sesuatu yang bersifat digital. Matcha-mu akan datang bersama proyeksi bunga digital, yang kemudian mekar di cangkirmu hingga kamu memindahkan atau meminumnya.

Baru membaca beberapa keistimewaan saja imajinasi kita mulai berpusar liar ya, Inspirator? Misalnya, saya mulai berpikir ada ruangan hujan dengan petrichor pekat yang menciptakan sensasi “basah kuyup”. Ayo masukkan museum digital Mori Building Digital Art Museum: teamLab Borderless ini ke bucket list-mu.

Untuk kamu yang penasaran seperti apa kecanggihan dan keindahan museum digital pertama di dunia ini, coba tonton video singkatnya berikut ini:

Untuk informasi lebih lanjut main saja ke website resmi-nya, ya.

(Sumber tulisan: New York Post dan Timeout.com)

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here