​Film dokumenter Refuge

Kehidupan di abad ke-21 nampaknya tak henti-hentinya dihiasi oleh masalah-masalah yang begitu memilukan hati. Konflik bersenjata, terorisme serta masalah pengungsi terus menjadi perbincangan dunia layaknya sebuah tragedi yang masih akan terus berlanjut. Jika Inspirator mengikuti perkembangan isu pengungsi, tentu pernah mendengar kabar bahwa baru-baru ini kisah hidup pengungsi menarik perhatian Magna Carta, sebuah rumah produksi di New York yang membuat sebuah film dokumenter yang diberi judul Refuge. Film yang digarap oleh Matthew K. Firpo dan Maximilian Guen, dua pemuda yang tahun ini masuk ke dalam jajaran 30 under 30 majalah Forbes ini mengusung cerita kehidupan para pengungsi Suriah di Yunani. Melihat berbagai pemberitaan di media, kita dapat membayangkan betapa sulitnya hidup sebagai pengungsi. Namun, akan selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa, Mari kita simak pelajaran hidup yang dapat kita petik dari kisah para pengungsi.  Usia 16 tahun mungkin menjadi usia yang bahagia bagi para remaja, berkumpul, menghabiskan waktu atau nongkrong bersama teman-teman. Namun bagi Hussam, di usianya yang belia, ia harus menyaksikan sahabatnya terbunuh di hadapannya akibat serangan bom. Hidup di negara orang lain dan terrpisah dari orang tua sungguh sangat memukul Hussam. Keadaan mengharuskannya menjadi anak yang lebih dewasa. Ia bermimpi untuk menjadi seorang insinyur agar dapat kembali ke negaranya dan membangun kembali Suriah yang telah hancur akibat konflik.

Hussam saat bertemu John Green dan menceritakan kehidupannya sebagai pengungsi | dokumentasi vlogbrothers
Hussam saat bertemu John Green dan menceritakan kehidupannya sebagai pengungsi | dokumentasi vlogbrothers
Sadar atau tidak, saat ini kita masih dapat berbagi kebahagiaan dengan media sosial yang kita miliki. Kita masih dapat mengunggah foto makanan yang lezat untuk berbuka puasa atau mengunggah momen-momen kebersamaan kita dengan orang yang kita cintai melalui Facebook atau Instagram. Bagi Dr. Ayman Mostafa, salah seorang pengungsi asal Suriah yang harus melarikan diri dan mencari tempat berlindung bagi dirinya dan keluarganya, hal tersebut mungkin sudah tidak dapat lagi ia rasakan. Media sosial mungkin tinggal kenangan pahit bagi dirinya. “Tanpa istriku, aku tidak lagi memiliki mimpi. Saat yang paling sulit adalah ketika pulang ke rumah dan mendapati dirimu saat ini hanya sendiri” Suasana mencekam di negaranya membuat Dr. Ayman, bersama dengan istri dan anak perempuannya berangkat menuju Malta. Namun, dalam perjalanan kapal yang mereka tumpangi terbalik dan menewaskan 500 penumpang. Dr. Ayman adalah salah satu dari sebelas penumpang yang berhasil selamat.
Dr. Ayman Mostafa | dokumentasi United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR)
Dr. Ayman Mostafa | dokumentasi United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR)
Kehilangan istri dan anaknya di tengah lautan mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Dr. Ayman. Sempat berjanji dengan istrinya agar saling menghubungi lewat Facebook atau Skype apabila mereka terpisah dalam perjalanan, akan tetapi janji tersebut mungkin tak akan pernah dapat terwujud. Beruntunglah kita yang masih dapat menggunakan media sosial untuk berbagi kabar dengan orang-orang yang kita cintai dan tinggal di tempat yang jauh berbeda.
Istri Dr. Ayman Mostafa tidak pernah lagi menyalakan Skype setelah pergi dari Suriah menuju Malta | dokumentasi United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR)
Istri Dr. Ayman Mostafa tidak pernah lagi menyalakan Skype setelah pergi dari Suriah menuju Malta | dokumentasi United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR)
Kehidupan para pengungsi yang tiba di Hongaria juga tak kalah menyayat hati. Ribuan pengungsi berusaha menuju perbatasan di Austria agar dapat masuk ke Jerman untuk mencari suaka. Ribuan pengungsi berjalan kaki sepanjang lebih dari 200 km. Usaha mereka membuat banyak warga Hongaria yang mencoba memberikan bantuan tumpangan, pakaian, makanan dan minuman. Di bawah terik matahari mereka tetap bersemangat untuk mencari kehidupan baru meski harus membiarkan kaki mereka sakit hingga berdarah.
Para pegungsi beristirahat sejenak setelah 5 jam berjalan dari Hungaria menuju perbatasan di Austria | dokumentasi The Guardian
Para pegungsi beristirahat sejenak setelah 5 jam berjalan dari Hungaria menuju perbatasan di Austria | dokumentasi The Guardian

Dari segelintir cerita di atas, apa yang lantas harus kita lakukan? 
Ada banyak lembaga yang mengumpulkan donasi untuk para pengungsi Suriah, Inspirator dapat dengan mudah menemukannya di internet dan apabila berkenan, kalian juga dapat ikut menyumbang dan membantu para pengungsi dengan rezeki yang kalian miliki. Tidak perlu berpikir berapa banyak yang mereka butuhkan, yang terpenting adalah ketulusan kita dalam memberi. Mengucap syukur adalah cara yang paling mudah yang dapat kita lakukan, bersyukur atas apa yang kita miliki dan sadar bahwa hidup kita tidak sesulit kehidupan para pengungsi di berbagai penjuru dunia. Mulailah menjalani hidup dengan menjadi orang yang lebih baik lagi. Manfaatkan Ramadhan tahun ini untuk berdoa demi kedamaian dunia, memohon kepada Allah SWT agar tidak ada lagi kebencian, permusuhan, kekerasan, dan perebutan kekuasaan. Berdoa agar Allah SWT sejenak saja membukakan hati seluruh umat manusia di dunia untuk merenungkan indahnya persaudaraan. Masih banyak lagi hal lain yang dapat Inspirator lakukan, besar atau kecil tidak menjadi masalah, karena niat dan keinginan untuk terlibat dan berkontribusi untuk membuat perubahan lah yang tidak akan pernah ternilai harganya. Mengutip salah satu quote dari seorang penulis terkenal di abad ke-16 yang mungkin dapat menjadi renungan kita, para generasi yang hidup di abad ke-21, “To be or not to be, that is the question!” Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis : Lulu Fakhriyah Editor   : Dylan Aprialdo Rachman Inspirator Freak Twitter : @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)
SHARE
Previous articleDesertifikasi, Ancam Keberlangsungan Makhluk Hidup
Next articleMengenal Abellia, Mahasiswi Doktoral yang Memadukan Teknologi dan Pendidikan untuk Membantu Guru di Kawasan 3 T

LEAVE A REPLY