Mahasiswa UGM juara se-ASEAN

Salah satu profesi yang disetujui di ASEAN Community untuk diperbolehkan transfer antar negara adalah profesi di bidang teknik. Ada kabar gembira, karena mahasiswa dari UGM berhasil menjadi juara pada lomba Indonesia Chemical Engineering Challenge (IChEC) yang diselenggarakan Institut Teknologi Bandung, 17-19 Maret lalu. Lomba yang diikuti oleh Mahasiswa teknik kimia se-regional ASEAN ini diikuti oleh mahasiswa dari Malaysia, Thailand, dan juga Filipina. Ada 4 kategori yang diperlombakan dan Mahasiswa UGM berhasil menyabet juara 1 pada kategori Plant Design dan juara 2 pada problem solving. Sedangkan tuan rumah, ITB harus puas di posisi 2 padakategori Plant Design kemudian disusul Universitas Parahyangan diposisi ke-3. Untuk kategori Problem Solving juara 1 di raih oleh tuan rumah ITB dan juara tiga di raih oleh Chulalongkorn University dari Thailand. Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), merancang pabrik ramah lingkungan. Muhamad Hartono, Adimas Prasetyaaji, dan Ghazy Ammar Nafis menawarkan ide rancangan pabrik MEGATRON Project, Mono Ethylene Glycol/MEG Plant for Asean Textile Industry from Coal Based Syngas. Hartono dan teman-temannya merancang pabrik yang memaksimalkan pemanfaatan batubara lignit di Indonesia menjadi bahan kimia yang memiliki nilai lebih tinggi, yaitu Monoethylene Glycol (MEG). Ketersediaan batu bara jenis tersebut sendiri melimpah di Sumatera Selatan. Namun hingga kini masih hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku pembangkit listrik. Padahal, kata Hartono, MEG merupakan bahan baku pembuatan poliester dengan pangsa pasar yang baik di Indonesia. “Sedangkan poliester bisa menjadi bahan yang penting bagi industri tekstil, dan industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 10-70 persen dari total tenaga kerja di sektor industri,” ungkap Hartono seperti dikutip dari situs resmi UGM, Kamis (24/3/2016). Di sisi lain, Hartono memprediksikan, industri tekstil berbasis poliester akan terus berkembang mengingat penggunaan katun mulai tergantikan bahan sintetis tersebut. Pasalnya, poliester lebih tahan lama, tahan terhadap bakteri, dan juga ringan. “Rancang pabrik kami fokus pada keunggulan performa proses sintesis, perancangan proses keamanan yang komprehensif, serta upaya minimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan ketika pabrik dibangun,” imbuhnya. Semoga hal ini bisa menjadi bukti dan inspirasi bahwa Mahasiswa Indonesia bisa bersaing di era ASEAN Community dan bisa menghasilkan karya yang diterima masyarakat global. Setuju?   Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY