Mengenal Kerja Seorang Jurnalis Dari Buku “Jurnalis Berkisah”

Jurnalis

“Jurnalis, bila melakukan pekerjaan dengan semestinya, memanglah penjaga gerbang kebenaran, moralitas, dan suara hati dunia.”

– Yus Arianto

Buku yang ditulis oleh Yus Arianto ini tak mengulas tentang definisi seorang jurnalis maupun teori dan praktik jurnalistik. Buku ini menjelaskan hal tersebut dengan cara yang berbeda yaitu penuturan para jurnalis itu saat melaksanakan tugasnya sebagai seorang jurnalis.

Ke-sepuluh jurnalis itu adalah Najwa Shihab, Telni Rusmintantri, Metta Dharmasaputra, Maria Hartiningsih, Tosca Santoso, Muhlis Suhaeri, Mauluddin Anwar, Erwin Arnada, Ramdan Malik, dan Linda Chrystanty.

Najwa Shihab, Pemandu Cerita di Layar Kaca

Najwa Shihab bertutur tentang beberapa narasumber yang diundang dalam programnya, Mata Najwa seperti dalam salah satu episode Jakarta Menagih Janji, 13 Oktober 2010. Najwa “galak” menginterview Fauzi Bowo terkait persoalan klasik ibu kota. “sejak awal, saya mau berperan sebagai devil’s advokat. Rasa frustasi orang jakarta mau saya sampaikan,” kata najwa.

Kisah lainnya yang juga menarik adalah saat gempa dan tsunami Aceh pada 2004. Najwa menjadi jurnalis pertama yang memberi informasi tragedy tsunami secara intensif.

Mauluddin Anwar, Diantara Kekejian Perang dan  Perjuangan Manusia

Pada 2006, Lebanon tengah diserang oleh Israel dengan menembakkan roket.  Liputan 6 menugaskan Mauluddin Anwar bersama juru kamera Andi Patra. Bukan perkara mudah masuk ke negara yang tengah berkonflik, saat lebih dari 600 ribu warga Lebanon mengungsi ke Suriah, Mauluddin Anwar justru masuk ke lebanon.

Ia pun pernah ditugaskan ke jalur Gaza. Kehadirannya di jalur Gaza membuka matanya tentang sisi lain Hamas yang selama ini hanya dipahami sebagai kelompok bersenjata. Baliho-baliho besar di sepanjang jalan memperlihatkan identitas yang lebih utuh: Hamas : Tarbiya, Bina’, Jihad. Jihad hanya urutan ketiga. Yang pertama adalah Pendidikan (Tarbiyah), dan kedua Pembangunan (Bina’).

Telni Rusmintantri, Menulis Kiprah Para Pesohor

November 2004, Telni meninggalkan Tempo dan menjadi jurnalis hiburan tabloid Cek&Ricek. Telni berkisah, Cek&Ricek menerapkan standar dalam menurunkan sebuah tulisan. Sama belaka sesungguhnya dengan genre lain dari jurnalisme: faktual, menyangkut sosok terkenal, cover both sides, dan unik. Telni juga mengisahkan cerita dibalik sebuah peliputan berita selebrity yang tak banyak orang tahu.

Metta Dharmasaputra, Jalan Berliku Membongkar Skandal

Masih ingat kasus pajak Asian Agri? Metta adalah wartawan yang mendapatkan informasi mengenai rekayasa pajak yang dilakukan Asian Agri Group selama beberapa tahun dari Vincent (menilap uang Asian Agri 3,1 juta dolar AS). Vincent membeberkan fakta tersebut karena berharap akan mendapat keringanan hukuman jika membongkar rekayasa pajak Asian Agri.

Maria Hartiningsih, Suara yang Dibisukan

Sebagai wartawan, Maria tak suka “dikungkung”. Ia tak pernah punya jabatan struktural di Kompas. Sebagai “orang lapangan”, Maria berjalan ke banyak tempat untuk mendengar, mengamati, dan mencatat.

Salah satu perjalanan Maria sebagai jurnalis yang paling mengesankan adalah kehadirannya Ibu Teresa, rohaniawan yang mengayomi kaum papa di India. Pada 2003, Maria meraih Yap Thiam Hien Award karena dinilai sebagai jurnalis yang sangat konsisten dalam memperjuangkan hak asasi manusia.

Masih ada 5 kisah jurnalis lain yang tak kalah menarik dan menambah pengetahuan Inspirator tentang dunia jurnalis dalam mencari berita.

“…mereka itu pada umumnya adalah kaum idealis; kaum pengabdi cita-cita luhur, yang bersedia mengorbankan segala sesuatunya-materi, pangkat, jabatan, ya bahkan kekasih atau keluarga-untuk kepentingan perjuangan bangsanya.”

– Soebagijo I.N., dalam Jagat Wartawan Indonesia.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here