Mengabdi dari Sokola Rimba
Sumber: hipwee.com

Di dalam kesempatan acara Inspirato yang digelar di studio 8 SCTV, Butet Manurung selaku pendiri Sokola Rimba hadir sebagai pembicara yang menginspirasi anak muda.

Pendidikan tentunya sangatlah penting bagi setiap orang untuk bertahan hidup. Tapi, bagaimana dengan pendidikan untuk anak-anak rimba? Tentunya pendidikan formal tidaklah sama dengan anak-anak rimba. Butet Manurung, mendirikan Sokola Rimba untuk menyebarkan pendidikan bagi anak-anak di pelosok Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan.

Apakah visi dan misi Sokola Rimba berjalan lancar? Suatu kegiatan apalagi sebagai pendiri Sokola Rimba yang pertama, tidaklah mudah. Banyak hal-hal yang harus ditempuh selama berdirinya Sokola Rimba yang sudah menginjak usia 13 tahun. Keterbatasan dana pun kerap dialaminya, maka dari itu ia harus mencari sponsor untuk tetap menjalankan Sokola Rimba.

Untuk berhasil menjalankan Sokola Rimba, Butet Manurung dan para pengajar harus melakukan pendekatan dengan anak-anak rimba. Salah satunya, mengenakan pakaian adat di sana, yang hanya berbalut kain untuk dijadikan celana maupun kemben. Memakai jilbab meskipun ia bukanlah seorang muslim, untuk menyesuaikan dengan masyarakat di Aceh.

Mengabdi dari Sokola Rimba
Tim Inspirator Freak bersama dengan Butet Manurung, pendiri Sokola Rimba (foto: dokumentasi pribadi)

Tantangan apa saja selama mengajar? Anak-anak rimba tidak bisa berbahasa Indonesia dan para pengajar pun juga tidak mengerti bahasa mereka. Inilah awal para pengajar untuk menyesuaikan diri. Para pengajar membuat kamus hidup selama tinggal di sana.

Seringkali para pengajar berpindah-pindah karena ditolak warga. Mereka takut dengan orang asing, karena mereka mengira para pengajar ini akan membunuh mereka nantinya. Tiap malam, para warga bergantian untuk berjaga sambil memegang parang. Bila pengajar melakukan kesalahan, mereka akan langsung mengusirnya dari wilayah sana.

Anak-anak rimba tidak bisa belajar dalam kelas dengan duduk manis di kursi dan meja belajar. Dengan proses belajar seperti itu, membuat anak-anak rimba menjadi sulit untuk konsentrasi dalam belajar. Mereka akan lebih suka dan cepat tanggap bila belajar di tanah lapang dan sambil guling-gulingan.

Sebagian besar masyarakat rimba buta huruf. Maka seringkali mereka ditipu dalam jual beli tanah. Dengan iming-iming, jika kamu cap jempol di kertas ini, nanti kamu akan dapat 5 karung makanan.

Pernah kegiatan belajar ini dilakukan secara mengumpat karena tidak mendapat dukungan dari masyarakat setempat. Ada kejadian di mana orang asing datang untuk mengambil tanah dengan cara menipu. Seorang anak yang dididik belajar secara mengumpat pun, meminta surat perjanjian. Lantas dengan sontak, sang pengajar pun kaget apakah anak itu bisa melakukannya. Bahkah sang pengajar pun mendapat ancaman akan dipecahkan kepalanya dari bapak si anak tersebut. Alhasil, anak tersebut bisa membaca surat perjanjian itu. Membuat pengajar juga masyarakat rimba terpukau dan membuat Sokola Rimba mendapatkan izin untuk melakukan proses kegiatan belajar.

Pada dasarnya, anak-anak rimba lebih kritis dibandingkan pelajar di sekolah formal. Setiap materi yang diberikan, mereka selalu menanyakan kenapa harus belajar ini dan itu? Apa gunanya untuk kami? Mereka pernah diperlihatkan bagaimana kehidupan di kota, dan lagi-lagi mereka menanyakan hal yang sama. “Mereka kok betah duduk selama 8 jam sih, bu? Dengan meja yang luasnya tidak lebih dari 2 meter. Terus nanti duitnya dari mana? Mereka bekerjanya hanya duduk saja.”

Sejauh ini, Sokola Rimba berhasil menjalankan visi dan misinya di berbagai kota, di antaranya Jambi, Aceh, Jogja, dan Makassar. Untuk saat ini, Sokola Rimba akan memulai di wilayah Jember, Jawa Timur, wilayah setempat dengan tingkat buta huruf 1:3 orang. Untuk kamu yang ingin bergabung sebagai pengajar dan mendapatkan pengalaman berharga sebagai guru, tidak ada salahnya bisa langsung join ke situsnya di @rumasokola atau www.facebook.com/sokolarimba

 

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Penulis: Indah Nurwijayanti

Editor  : Siti Ayu Handayani

Inspirator Freak
Twitter: @InspiratorFreak
Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)
SHARE
Previous articleBelajar Toleransi dan Keberagaman Indonesia di SabangMerauke 2016
Next articleCampus Citizen Journalist, Komunitas Para Pecinta Jurnalistik

LEAVE A REPLY