Memimpin Dengan Visi : Transformational Leadership

Setiap dari kita pasti pernah tergabung dalam sebuah komunitas atau organisasi, baik itu di kampus maupun di luar kampus. Ada mungkin yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Unit Kegiatan Mahasiswa, atau komunitas hobi tertentu. Dan mungkin juga kamu pernah menjadi menjadi ketua atau pemimpin sebuah organisasi atau kelompok tersebut. Berbicara mengenai peran pemimpin dalam sebuah organiasi atau komunitas berarti berbicara juga tentang kepemimpinan (leadership). Setiap orang yang menjadi pemimpin memiliki gaya kepemimpinannya masing-masing. Gaya kepemimpinan ini menjadikan seorang pemimpin unik dan menentukan hal-hal apa saja yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok tersebut. Seorang pemimpin yang tidak memiliki gaya kepemimpinan hanya akan menjadi pemimpin yang ikut-ikutan, tidak memiliki pendirian, serta tidak memberikan ‘nyawa’ bagi organisasi yang dipimpinnya. Di zaman sekarang ini, perkembangan tentang konsep gaya kepemimpinan telah berkembang dengan sangat pesat, salah satunya adalah gaya kepemimpinan transformasional (transformational leadership). Kepemimpinan transformasional muncul sebagai gaya kepemimpinan yang penting dan mempengaruhi kerangka kerja dari seorang pemimpin (Avolio & Bass, 1988; Bass, 1985 dalam Cleavenger & Munyon, 2013). Gaya kepemimpinan ini muncul sebagai terobosan menggantikan gaya kepemimpinan tradisional. Transformational leadership adalah gaya kepemimpinan yang berfokus pada perubahan atau transformasi dari tujuan, nilai, etika, standard, dan performa orang lain (Northhouse, 2003 dalam Aamodt, 2010). Para pemimimpin transformasional biasanya disebut sebagai orang yang memiliki visi, karismatik, dan menjadi inspirasi bagi orang lain. Mereka memimpin dengan membawa suatu visi, melakukan perubahan dalam organisasi untuk menyesuaikan dengan visi yang dibawanya, dan memotivasi para karyawan untuk mencapai visi tersebut. Pemimpin transformasional juga mengembangkan kemampuan orang-orang yang dipimpinnya (Jung and Sosik, 2002 dalam Gumusluoglu & Ilsev, 2009). Mereka melakukan inovasi, berfokus pada orang didalamnya, fleksibel, berpikir jauh ke depan, berhati-hati dalam menganalisa masalah, dan percaya pada intuisinya (Bass, 1997; Nanus, 1992; Yuki, 1994, dalam Aamodt, 2010). Salah satu contoh seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan transformasional adalah Herb Kelleher, seorang CEO yang menjadikan Southwest Airlines menjadi salah satu maskapai penerbangan terbaik di dunia. Dia memiliki karisma (pernah satu kali menyelesaikan perselisihan antar karyawan dengan melakukan adu panco), berorientasi pada karyawan (karyawan paling utama), memiliki visi (dia menerapkan konsep low-cost airline sebagai desain untuk berkompetisi dengan moda transportasi darat dan maskapai perkembangan lain), dan motivator yang sangat baik untuk orang-orang yang ada di perusahaannya. Seorang pemimpin sesukses Herb Kelleher juga tidak akan berhasil jika tidak dibantu oeh karyawannya. Yapp, seorang pemimpin juga membutuhkan rekan untuk mewujudkan visinya. Ada sebuah ilustrasi. Waktu kecil, saya sangat suka dengan film Power Ranger. Memiliki kekuatan super dan senjata yang keren untuk memberantas para monster jahat yang ingin mengganggu keamanan Bumi. Setiap personilnya memiliki warna sebagai ciri khasnya masing-masing, yaitu Merah, Biru, Hijau, Hitam, Kuning, dan Merah Muda. Warna dari para ranger ini juga diasosiasikan dengan kepribadian masing-masing: Merah diidentikkan sebagai seorang pemimpin yang pemberani, Biru sebagai seorang yang pintar dan pengatur strategi, Hijau sebagai seorang yang tenang, Hitam sebagai seorang yang kuat dan misterius, Kuning sebagai seorang yang supel dan humoris, dan Merah Muda sebagai seorang yang penyayang. Dari ilustrasi diatas, saya ingin menunjukkan kalau seorang pemimpin transformasional harus jeli dan peka terhadap keberagaman dari orang-orang yang bekerja bersamanya. Tidak semua orang memiliki kemampuan dan sifat yang sama. Masing-masing orang memiliki warnanya masing-masing. Seperti Power Ranger, seorang pemimpin transformasional harus bisa memaksimalkan keberagaman potensi dan kemampuan untuk kemudian menggerakkan rekan kerjanya mencapai visi bersama. Tak lupa, seorang pemimpin transformasional juga harus bisa melahirkan pemimpin-pemimpin baru di masa datang. Mengutip perkataan dari Hellen Keller, “Alone we can do so little. Together we can do so much”. Bukan hanya di perusahaan saja, tetapi gaya kepemimpinan transformasional dapat kita terapkan dalam kehidupan organisasi/kelompok kita. Yuki (1994, dalam Aamodt, 2010) menjelaskan langkah-langkahnya, yaitu: Kembangkan sebuah visi yang jelas dan operasional, tidak abstrak. Kembangkan strategi-strategi untuk mencapai visi tersebut. Komunikasikan visi tersebut kepada orang-orang yang kita pimpin. Bertindak percaya diri dan optimis. Raih kesuksesan di hal-hal yang kecil dulu untuk membangun kepercayaan diri. Memimpin dengan memberikan contoh bagi orang yang kita pimpin. Membuat, memodifikasi, atau mengeliminasi bentuk-bentuk budaya organisasi/kelompok, seperti slogan, simbol, dan seremoni. Lalu, bagaimana dengan kamu? Apakah kamu sudah menjadi pemimpin yang transformasional bagi teman-teman yang kamu pimpin? Jika belum, jangan khawatir kawan. Menjadi pemimpin berbicara mengenai proses dan jam terbang, tidak instan begitu saja. Melibatkan diri dalam interaksi dengan sesama di organisasi atau komunitas, terus belajar, bangun jejaring, dan mengembangkan apa yang menjadi passion kamu, dapat menjadi kunci untuk membangun kapasitas diri lebih baik lagi sebagai seorang pemimpin. Tentunya tak lupa selipkan satu tujuan dalam setiap karya dan visimu: membuat Indonesia menjadi lebih baik. (OWL) Obedrey Willys Legi @ebodrey Referensi : Aamodt, M.G. (2010). Industrial/Organizational Psychology (6th ed.). Belmont: Wadsworth Cengage Learning. Cleavenger, D.J & Munyon, T.P. (2013). It’s how you frame it: transformational leadership and the meaning of work. Business Horizons, 56, 351—360. Gumusluoglu, L. & Ilsev, A. (2009). Transformational leadership, creativity, and organizational innovation. Journal of Business Research, 62, 461–473.

LEAVE A REPLY