film nasionalis
Disusi Film karya Usmar Ismail (foto: Amira S Pasidena)

Bicara tentang Hari Film Nasional tak lengkap rasanya jika tak menilik sejarah panjang perfilman Indonesia serta sosok Usmar Ismail. Ya, Sang Bapak Perfilman Nasional inilah orang Indonesia yang pertama kali memproduksi film Indonesia dengan pemain orang Indonesia dan biaya produksi orang Indonesia sendiri. “Bicara tentang Usmar Ismail sama saja dengan bicara tentang film Indonesia, karena film Indonesia adalah Usmar ismail dan Usmar Ismail adalah film Indonesia.” ungkap Adi Surya Abdi, Ketua Sinematik Indonesia dalam acara diskusi film karya Usmar Ismail di Ruang Teater Perpusnas RI (30/03/2016). Pada zaman Indonesia belum merdeka, lanjutnya, film yang pertama kali diproduksi di Indonesia pada tahun 1926 adalah film yang dibuat oleh orang-orang keturunan Eropa dan keturunan Cina yang berupa film bisu. Setelah kemerdekaan pada tahun 1950, Usmar Ismail menjadi orang Indonesia pertama yang memproduksi film Indonesia. Syuting atau pengambilan gambar pertama kali dilakukan pada tanggal 30 maret 1950, sehingga kemudian tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Film Nasional berdasarkan keputusan presiden.

film klasik
Koleksi Film Klasik Karya Usmar Ismail yang dipamerkan di Perpusnas RI
“Sosoknya sangat luar biasa. Beliau adalah seorang pejuang, pengusaha, penulis, dan seniman. Di zaman perjuangan dia sangat aktif menulis di media sampai akhirnya dia melahirkan gagasan-gagasan yang sangat nasionalisme.” ujarnya. Adi mencontohkan beberapa film karya Usmar Ismail seperti seperti “Darah dan Doa”, “Lewat Jam Malam”, “3 Dara”, dan “Tamu Agung” yang berbicara tentang kehidupan sosial masyarakat Indonesia dimasa perjuangan. Sementara itu, Wina Armada Sukardi (kritikus film/wartawan senior) menambahkan apa yang bisa dipelajari dari film karya Usmar Ismail oleh generasi sekarang adalah menerjemahkan nasionalisme sesuai bidang yang ditekuni dengan banyak belajar sehingga kualitasnya bisa diakui secara internasional. 20160330_082314 film klasik Selain acara diskusi film, ada juga pameran foto dan  pemutaran film Usmar Ismail “Darah dan Doa”. Darah dan Doa merupakan film yang mengisahkan perjuangan seorang komandan dalam perjalanan panjang (long March) prajurit divisi Siliwangi RI, yang diperintahkan kembali ke pangkalan semula, dari Yogyakarta ke Jawa Barat setelah Yogyakarta diserang dan diduduki pasukan Kerajaan Belanda lewat Aksi Polisioner. Keep Breathing Keep Inspiring! Penulis : Ifa Ikah Editor   : Kintan Lestari   Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY