Asean Economic Community (AEC)
ASEAN

Selama beberapa dekade, ekspansi ekonomi Tiongkok ke negara-negara anggota ASEAN, seperti Laos, Kamboja, Vietnam, Myanmar dan Thailand  telah memberi angin segar bagi pertumbuhan ekonomi ASEAN. Berkat investasi besarnya  terhadap keempat negara tersebut, ASEAN mampu menikmati pertumbuhan ekspor sebesar 20% per tahun. Namun, merosotnya ekonomi Tiongkok yang bersamaan dengan diberlakukannya MEA menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi ASEAN. Kekhawatiran ini juga dipertegas oleh Rajiv Biswas, kepala bagaian ekonomi Asia Pasifik untuk HIS Global Insight, “Tiongkok sebagai pasar utama ekspor ASEAN telah meningkatkan kerentanan bagi banyak negara ASEAN sebagai imbas dari kemunduran ekonomi Tiongkok”. Kemerosotan ekonomi Tiongkok hingga menyebabkan devaluasi Yuan sebesar 2%, anjloknya komoditas dan pasar saham Tiongkok mau tidak mau membuat beberapa negara ASEAN, seperti Singapura dan Thailand menggigit jari. Singapura yang menduduki puncak ekonomi regional ASEAN harus merelakan prospek perusahan minyak serta perbankannya meredup sementara waktu, Begitu pula Thailand, yang  mengikhlaskan hengkangnya beberapa investor asing.  Di sisi lain, Filipina merupakan satu-satunya negara ASEAN yang berhasil lolos dari efek domino krisis Tiongkok mengingat pasar utama ekspor mereka adalah Jepang dan Indonesia. Guna menghindari dampak kemerosotan ekonomi Tiongkok semakin meluas, ASEAN  mulai mempercepat prospek pertumbuhan ekonomi melalui MEA. Perdagangan intra-ASEAN yang melibatkan 625 juta orang dengan kombinasi GDP 2.4 triilun dolar AS harus mampu menanggulangi sebagian dampak ASEAN-Tiongkok.  Perdagangan intra-ASEAN telah melonjak tajam sejak 1993 ketika negara-negara anggotanya ini mulai menurunkan tarif masuk dan harmonisasi peraturan perbatasan sebagai awal peluncuran MEA. Alhasil, perdagangan intra-ASEAN sekarang sudah berdiri di kisaran angka 609 juta dolar AS dibandingkan dengan dua dekade sebelumnya sebesar 82 juta dolar AS. Para produsen di ASEAN juga berharap dapat memetik keuntungan dari pergeseran tingginya konsumsi domestik dan konsumerisme di Tiongkok yang pada 2015 lalu menyumbang 66% pertumbuhan GDP melalui sektor pariwisata. Biswas mencatat bahwa kedatangan kedatangan wisatawan Tiongkok di Thailand naik 71% pada 2014 dan di Indonesia sebesar 30% pada 2015. “Kembalinya ekonomi Tiongkok melalui konsumsi masyarakatnya dapat menciptakan peluang ekspor baru bagi ASEAN, terutama dengan melonjaknya wisatawawan Tiongkok” ujarnya. Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis: Rafika Lifi Editor: Dylan Aprialdo Rachman Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

Sumber:  “Has the China ASEAN affairs come to an end?”, Wharton, University of Pennsylvania. 8 Maret 2016. Diperoleh dari http://knowledge.wharton.upenn.edu/article/has-the-china-asean-affair-come-to-an-end/ pada 1 April 2016.

LEAVE A REPLY