Mau Mulai Menulis Cerita Fiksi? Ini Panduannya!

Photo: news.abasrin.com

Banyak orang beranggapan menulis fiksi (cerita rekaan) artinya sekadar menuliskan imajinasi si penulis. Pernyataan itu tidak sepenuhnya benar, bahkan mendekati salah.

Memang benar, untuk menulis cerita fiksi kita butuh imajinasi yang kuat. Tetapi, ingat, imajinasi yang kuat harus bersumber dari pengetahuan yang kuat pula. Kalau sekadar mengandalkan imajinasi, tulisanmu hanya akan berputar-putar dan tidak ada dasarnya. Maka dari itu, memutuskan untuk menjadi penulis crrita fiksi artinya harus rajin juga membaca buku-buku nonfiksi untuk mendapatkan pengetahuan dasarnya.

Kalau kamu sudah paham mindset ini, yuk simak syarat menulis cerita fiksi berikut:

1.  Alur cerita

Dalam pengertian sederhana, alur cerita adalah jalan cerita tulisanmu. Bentuknya ada tiga, yaitu alur maju, alur mundur (flashback), dan alur maju-mundur (campuran). Kamu boleh  hanya menggunakan satu, atau menggabungkan ketiganya. Yang terpenting, kamu sudah harus punya gambaran ceritanya ingin seperti apa. Untuk pemula, membuat outline akan sangat membantu.

2. Setting atau latar cerita

Cerita fiksi pun membutuhkan latar yang menjadi tempat hidup karakter-karakternya. Latar tidak melulu tentang tempat, tapi bisa juga emosi tokoh, suasana, dan waktu. Deskripsikan latar cerita dengan cara natural dan mengalir, jangan seperti menulis berita. Selaraskan dengan jalan cerita dan jangan sampai keasyikan mendeskripsikan latar ya, nanti kamu malah lupa berkisah tentang karakter-karakternya dan kejadian yang mereka alami.

3. Penokohan

Ini hukumnya wajib ada di ceritamu. Karakter-karakter di cerita harus dideskripsikan sifat dan wataknya, perilakunya sehari-hari, gestur khasnya, bagaimana fashion-nya, dan banyak lagi. Kamu harus menciptakan karakter dengan kepribadian konsisten. Kalau pun kelak ada perubahan karakter dari si tokoh, harus disertai penjelasan logis.

4. Konflik

Konflik merupakan jantung tulisan. Sehebat apa pun karakter yang kamu ciptakan, kalau konfliknya tidak ada, tulisanmu menjadi datar dan tidak menarik, bahkan membosankan. Kamu bisa membuat beberapa konflik dalam satu cerita supaya lebih dramatis, tapi tetap harus ada konflik utama yang membuat pembaca selalu penasaran. Konflik tambahan hanya menjadi bumbu supaya ceritamu semakin seru.

5. Ending

Setiap cerita tentu memiliki akhir. Persiapkan ending yang mengena di hati pembaca. Hindari ending instan seperti tokoh yang tiba-tiba meninggal, atau mendadak kaya raya. Ciptakan twist seru sehingga ending ceritamu tidak tertebak pembaca. Sebelum menuju ending, pastikan sudah ada penyelesaian dari setiap konflik yang dialami karakter ceritamu.

Menulis cerita fiksi gampang-gampang susah. Yang terpenting, kamu harus punya mindset bahwa menulis cerita fiksi tidak berarti sekadar menuliskan imajinasi liarmu. Tetap ada logika cerita yang harus diperhatikan. Semoga lima panduan di atas dapat membantumu menciptakan cerita fiksi yang oke. Baca juga: Menulis? Gampang! Cek 6 Kiat Menulis untuk Anak Muda.

Yuk, mulai menulis, Inspirator!

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here