Dunia perfilman Indonesia tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Setelah kebangkitan film horor kemasan baru, kini giliran film bertema sosial ambil bagian. Tak hanya diapresiasi dari penikmat film dalam negeri, apresiasi juga datang bertubi dari festival kelas dunia.

Sebut saja film arahan sutradara Mouly Surya, Marlina Si Pembunuh Empat Babak.  Lebih dulu bersafari di festival film luar negeri, film ini diganjar sejumlah penghargaan bergengsi. Skenario terbaik pada FIFFS Maroko edisi ke-11, aktris terbaik untuk Marsha Timothy dari Sitges International Fantastic Film Festival, Spanyol, dan film terbaik Asian NestWave dari The QCinema Film Festival, Filipina.

Tak berselang lama dari waktu rilisnya di bioskop Indonesia, film Marlina kembali mendapat penghargaan di ajang Five Flavours Film Festival yang diselenggarakan di Polandia dan Tokyo Filmex International Film Festival di Jepang.

Apa sih yang membuat film ini begitu istimewa dan Inspirator harus nonton? Simak ulasannya di bawah ini ya!

  1. Perempuan Sumba yang tangguh

Seringkali  perempuan dilabeli sebagai sosok yang lemah dan tak berdaya. Namun dalam film ini, jangan berharap bakal menemukan sosok itu. Dari awal cerita, tokoh Marlina yang diperankan Marsha Timothy menggambarkan perempuan Sumba yang tangguh. Sebagai seorang janda dan tinggal seorang diri di puncak perbukitan sabana, Marlina sangat mandiri. Ia menghidupi dirinya dengan beternak sapi, ayam dan babi.

Begitu pula sosok Novi, sahabatnya. Tengah hamil tua, kerap mendapatkan kekerasan dan tuduhan selingkuh dari sang suami, tak membuat perempuan itu tak berdaya.

  1. Keelokan Tanah Sumba

Sang sutradara mengemas scene pembunuhan sangat apik: cepat, gak bertele-tele dan gak berdara-darah. Usai kepala sang pemerkosa dan perampok dipenggal, Marlina membawanya ke kantor polisi untuk menyerahkan diri.

Dalam perjalanan ke kantor polisi inilah, sajian padang rumput kering berwarna kecokelatan nampak indah dipandang mata.

  1. Adat Istiadat

Prosesi pemakaman adat Sumba terbilang istimewa. Budaya megalitik dan kepercayaan asli orang Sumba ini meyakini arwah sebagai penghubung antara yang masih hidup dan Sang Pencipta. Oleh karena itu, orang Sumba menjaga kedekatan mereka dengan mendirikan batu kubur tepat di depan rumahnya.

Adat istiadat ini juga digambarkan dalam film Marlina. Topan, anaknya yang telah tiada dikuburkan tepat di depan rumahnya. Sayangnya besarnya biaya pemakaman membuat jenazah suami Marlina diletakkan di sudut rumah dan diselimuti kain Sumba.

  1. Cinta tanah leluhur

Menonton film Marlina akan membuat Inspirator banyak berpikir bahkan mensyukuri apa yang sudah didapatkan. Latar belakang cerita hingga latar belakang kondisi sosial ekonomi dalam film ini menggambarkan realita yang ada di Sumba. Kondisi lingkungan yang kering dan tandus, akses transportasi, layanan kesehatan hingga minimnya perlindungan hukum.

Meski demikian, masyarakat Sumba tidak mau berpindah dari tanah leluhurnya karena kepercayaan Merapu. Mereka meyakini bahwa leluhur akan membantu mereka mengalahkan alam sehingga mereka bertahan.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak

LEAVE A REPLY