Malala
Malala, merubah dunia melalui pendidikan

Hai Inspirator! Selamat Hari Perempuan Internasional! Berkaitan dengan perayaan hari ini, yuk mengenal lebih jauh dengan salah satu sosok perempuan yang berpengaruh, Malala Yousafzai. Di usianya yang masih sangat muda, ia berhasil menjadi seorang aktivis yang memperjuangkan hak pendidikan pada perempuan di negaranya.

Malala
Ilustrasi | Sumber: swatstory.com
Malala lahir pada 12 Juli 1997, di Mingora, Pakistan. Tempat lahirnya merupakan objek wisata turis karena festival musim panasnya yang terletak di Swat Valley. Dilahirkan dari seorang ayah diplomat, Zianuddin Yousafzai dan ibunya Tor Pekai Yousafzai yang mengurus keperluan rumah tangga, ia memiliki dua orang adik laki-laki yang bernama Khushal dan Atal.
Malala
Malala bersama keluarga | Ilustrasi:bbc.com
Ayahnya, Ziauddin Yousafzai kini menduduki posisi Penasihat Khusus Pendidikan Global di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sementara, sang ibu, Tor Pekai Yousafzai berada di rumah menjadi ibu rumah tangga biasa, namun belum sepenuhnya mampu untuk baca-tulis. Malala Yousafzai besar di lingkungan yang memang masih memandang remeh pendidikan untuk kaum perempuan. Potret miris tergambar pada sosok ibunya, Tor Pekai yang ternyata masih belum bisa baca tulis meskipun sudah menjadi seorang ibu. Maklum, di tanah kelahirannya Pakistan, laki-laki selalu diutamakan memperoleh pendidikan. Sementara, perempuan tidak diprioritaskan mengenyam pendidikan, bahkan ‘dikekang’ hanya untuk mengurusi rumah dan dapur saja. Tau nggak Inspirator, Malala di usianya yang ke-17 sudah meraih penghargaan sekelas Nobel loh. Ia pun menjadi peraih Nobel termuda sepanjang sejarah dengan meraih Nobel Perdamaian pada 2014 lalu.
Malala
Ilustrasi | Sumber: biography.com
Awal sepak terjang Malala dimulai saat ia menempuh pendidikan di sekolah ayahnya di Swat. September 2008, kala Taliban menyerang sekolah untuk anak perempuan itu, dimulailah advokasi hak edukasi perempuan olehnya.  Sebuah pidato ia lakukan di Peshawar di bulan itu, dengan judul “Bagaimana tega Taliban merenggut hak dasar saya untuk edukasi”. Semenjak Malala menyuarakan pidatonya, ia berlanjut memperjuangkan hak edukasi untuk anak perempuan dengan cara blogging. Sejak awal 2009, dengan memakai alias Gul Makai, ia menceritakan keresahannya hidup dalam ancaman Taliban untuk memupuskan pendidikannya.
Malala
Ilustrasi | Sumber: community.malala.org
Meski memakai alias, identitasnya terbongkar pada Desember 2009. Memang, terbongkarnya alias yang ia gunakan sempat dinilai membahayakan. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, Malala semakin dikenal luas di dunia. Ia kemudian melanjutkan untuk menyuarakan haknya, hak agar semua perempuan memperoleh pendidikan. Hasilnya? Nominasi International Children’s Peace Prize 2011 didapatkan Malala. Pada tahun yang sama, anugrah Pakistan’s National Youth Peace Prize menjadi miliknya. Tekanan dari Taliban semakin menjadi-jadi, bahkan ancaman pembunuhan dilontarkan terhadapnya. Pada 9 Oktober 2012, dalam perjalanan ke sekolah bisnya dibajak seorang Taliban. Orang tersebut mencari dirinya hingga akhirnya ia ditembak sampai mengenai bagian kiri kepalanya serta leher. Dalam kondisi kritis ia dilarikan ke rumah sakit militer di Peshawar, dan diterbangkan ke Birmingham, Inggris untuk perawatan lebih intensif.
Malala
Pidato di Malala Day 2013, saat ulang tahun ke-16 dirinya | Sumber: sendmyfriend.org
Musibah tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk memperjuangkan pendidikan perempuan. Anak sulung keluarga Yousafzai itu, justru semakin mendapatkan perhatian dan dukungan penduduk dunia atas usaha dan keberaniannya menyuarakan pendidikan untuk perempuan. Hingga akhirnya ia dapat berpidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari ulang tahunnya ke-16, 12 Juli 2013. Sejak saat itu, diperingatilah 12 Juli sebagai Malala Day setiap tahunnya.
Kailash Satyarthi, usianya terpaut 43 tahun saat memenangkan Nobel Perdamaian | Sumber: zeenews.india.com
Kailash Satyarthi, usianya terpaut 43 tahun dengan Malala saat memenangkan Nobel Perdamaian 2014| Sumber: zeenews.india.com
Berkat perjuangan kerasnya, ia dinominasikan sebagai kandidat peraih hadiah Nobel Perdamaian di tahun 2013. Namun, ia tidak memenangkannya. Tidak hanya sampai di sana, pada Maret 2014 ia kembali masuk nominasi. Di usia 17 tahun, Malala Yousafzai berhasil menjadi pemenang hadiah Nobel Perdamaian termuda sepanjang sejarah, bersamaan dengan Kailash Satyarthi yang merupakan aktivis asal India yang memperjuangkan hak-hak anak. Usia mereka terpaut jauh bak seorang kakek dan cucunya, karena pada saat itu Kailash berusia 60 tahun.
Malala
Malala, merubah dunia melalui pendidikan | Sumber: thelegacyproject.co.za
Setelah memenangkan hadiah Nobel Perdamaian, perjuangannya tidak lantas berhenti. Film dokumenter berjudul He Named Me Malala rilis di Oktober 2015, menceritakan kisah Malala dalam memperjuangkan hak atas pendidikan untuk perempuan. Karya ini melengkapi autobiografi yang ditulisnya sendiri pada 2013, berjudul I Am Malala: The Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban. Sobat Inspirator, yuk kita jadikan kisah perjuangan Malala untuk motivasi kita. Bersyukur telah dapat kesempatan menempuh pendidikan, manfaatkan sebesar-besarnya tak hanya untuk kebaikan diri kita dan keluarga, melainkan juga agar dapat membawa kebermanfaatan bagi orang lain.

LEAVE A REPLY