Makan Mi Instan Dicampur Nasi, “Jaring Penyelamat” Ketika Dompet Sekarat yang Ternyata Tidak Sehat

Bagi banyak orang (khususnya anak kos), mi instan bisa diibaratkan jaring penyelamat baik ketika dompet sehat maupun sekarat, dan menjadi solusi menu yang cepat pada masa-masa darurat (tugas menumpuk, banyak kegiatan, tubuh kurang sehat, dll sehingga tidak sempat memasak). Selain itu, varian rasanya yang banyak dan kemudahan cara memasaknya membuat mi instan layak menjadi sembako anak kos, atau… dicampur nasi.

Entah siapa memulai dan sejak kapan, saat ini banyak orang makan mi instan dicampur nasi. Tahukah kamu, Inspirator, paduan dua sumber karbohidrat ini sangat tidak baik dari sisi kesehatan? Risiko yang kamu hadapi jika mempertahankan kebiasaan ini mulai dari kegemukan dan perut buncit (ringan), kekurang gizi (sedang), hingga diabetes melitus dan kerusakan pankreas dan organ hati (berat).

Apa saja risiko-risiko yang bisa timbul?

Diabetes melitus dan kerusakan pankreas

Nasi dan mi instan sama-sama memiliki kandungan utama karbohidrat. Jika kamu mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah besar, rasa laparmu cepat terobati sehingga kamu tidak menginginkan makanan lain lagi. Dalam jangka panjang, kebutuhan nutrisimu yang lain tidak terpenuhi, padahal supaya semua sel dan organ tubuh bergungsi optimal, kamu butuh lemak, protein, vitamin, mineral. Kekurangan semua ini otomatis membuatmu berisiko kekurangan gizi.

Photo credit: http://roidvisor.com/benefits-injecting-steroids-insulin-syringes/

Selain itu, terlalu banyak gula dan karbohidrat membuat pankreasmu bekerja lebih keras untuk mengubah dua makromolekul ini menjadi insulin. Jika ini terjadi terus menerus dalam waktu lama, pankreasmu berisiko mengalami kerusakan serius, dan salah satu akibatnya adalah diabetes melitus–penyakit yang terjadi akibat ketidakmampuan pankreas memproses gula. Pankreas menjadi tidak mampu lagi membedakan antara gula dan darah.

Jika kamu mudah lelah, mengantuk segera setelah makan, merasakan dorongan untuk makan makanan yang manis-manis, ada darah di urinemu–ini gejala kamu mengidap diabetes.

Kerusakan organ hati

Karbohidrat berlebih di dalam tubuh akan dipecah menjadi substansi lain. Misalkan kamu kekurangan lemak, maka karbohidrat yang tersimpan di tubuhmu akan dipecah menjadi lemak. Proses pemecahan lemak ini akan ditransfer ke hati sebagai sistem pendukung untuk metabolisme pencernaan.

Nah, bagaimana jika lemak yang kelak terakumulasi di hatimu ternyata lemak jahat?

Tekanan darah tinggi

Makan nasi dicampur mi instan setiap hari sungguh bukan pilihan bijak untuk tubuhmu. Mi instan mengandung sodium, alias garam, yang bisa menaikkan tekanan darah. Jika kebiasaan tidak sehat ini diteruskan, secara otomatis risiko terkena penyakit jantung juga meningkat.

Membuat sistem pencernaan terganggu

Photo credit: https://www.liverdoctor.com/natural-ways-to-deflate-a-bloated-belly/

Sistem pencernaan manusia membutuhkan waktu paling sedikit dua hari untuk mencerna mi instan. Jika kamu terlalu banyak mengonsumsinya, sistem pencernaan bisa terganggu, yang bisa menyebabkan diare.

Solusinya?

Hentikan kebiasaan makan mi instan dicampur nasi. Jika kamu penggemar berat mi instan, konsumsilah bersama sayuran dan lauk lain; selain supaya kebutuhan gizi dan energimu tercukupi, penambahan ini juga membuat kandungan mi instan menjadi lebih mudah untuk dicerna di dalam tubuh. Jarangkan kebiasaan makan mi instan, dari beberapa kali seminggu menjadi seminggu sekali, kemudian sebulan sekali–dan seterusnya.

Opsi lain, jangan pakai bumbu dan serbuk cabe ikutan mi instan. Sebagai gantinya, tambahkan bumbu buatan sendiri karena, bagaimanapun, bahan alami lebih menyehatkan daripada yang diproduksi secara kimia.

Ingat ya, Inspirator, mi instan idealnya hanya menjadi variasi makanan sampingan untukmu, bukan makanan pokok.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here