Lestarikan Bahasa dan Aksara Jawa Melalui Desa Budaya

aksara jawa
Ilustrasi: 1.bp.blogspot.com

Sugeng Enjang, Inspirator! Bagi Inspirator yang bukan berasal dari suku jawa, ucapan selamat pagi tersebut pastilah asing terdengar di telinga. Tetapi bagi Inspirator yang berasal dari tanah Jawa, apakah sudah familiar dengan sapaan tersebut? Belum tentu!

Masuknya era globalisasi dewasa ini membuat budaya Jawa salah satunya bahasa dan aksara jawa semakin terkikis. Pemerintah dan pemerhati budaya terus melakukan upaya pelestarian. Salah satunya adalah dengan pembentukan desa budaya. Selain untuk melestarikan tradisi dan budaya, desa budaya diharapkan dapat membumikan kembali bahasa sastra dan aksara Jawa.

Dilansir dari Solopos.com, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, CB Supriyanto mengatakan mulai lunturnya pemahaman terhadap bahasa sastra dan aksara Jawa menjadi salah satu perhatian tersendiri. Khususnya bagi para generasi muda yang cenderung lebih mengenal budaya asing, dibandingkan budaya lokal.

Menurutnya saat ini jumlah para ahli penulisan aksara Jawa sudah semakin berkurang. Padahal penting sekali untuk kembali membumikan aksara Jawa di tingkat desa melalui generasi muda.

“Kemarin kami membuka relawan sosialiasi aksara Jawa ternyata banyak peminatnya, dan sebagian besar generasi muda,” katanya kepada Solopos.com.

Foto: Republika.co.id

Lanjutnya lagi, salah satu upaya membumikan kembali aksara Jawa di tingkat desa adalah dengan membentuk desa budaya. Kategori desa budaya harus dilandasi minimal limat adat dan kegiatan tradisi yang sudah ada dan dilakukan turun temurun. Kegiatan tradisi yang dimaksud adalah kesenian dan permainan tradisional, kegiatan bahasa sastra dan aksara, kerajinan industri kuliner dan obat tradisional, arsitektur bangunan dan warisan budaya.

Dan menurut catatannya, saat ini dari 144 desa yang ada di Gunungkidul, sudah ada 15 desa yang masuk kategori desa budaya dengan dilandasi lima adat tradisi yang dia sebutkan. Sementara untuk rintisan, ada 14 rintisan desa budaya, dan 115 masuk kantong desa budaya.

Kepedulian pemerintah dan pemerhati budaya ini seharusnya juga menjadi perhatian dan kepedulian kita sebagai generasi muda. Jangan sampai upaya pelestarian ini sekadar ada dan tak ada penerapannya. Selain bangga berbahasa Indonesia, yuk juga bangga berbahasa daerah!

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here