KummAra Studio
Desainer Mahardika, Rio Fredericco (kanan) bersama Eko Nugroho (kiri), CEO KummAra di SPIEL 2014

Mungkin kita sering mendengar anggapan bahwa game dapat membawa dampak negatif bagi anak-anak. Bahkan banyak orang tua yang melarang anaknya untuk bermain game apalagi berkecimpung pada industri game. Namun ternyata, KummAra Studio memiliki pandangan berbeda mengenai game. Sebuah game ternyata juga mampu memiliki pesan dan makna yang lebih dari sekedar permainan. Atau dengan kata lain, game yang membawa dampak positif. Pada tahun 2014, tim dari KummAra Studio berhasil mematahkan stigma negatif mengenai game. Berbekal dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, KummAra Studio berhasil membawa dua boardgame dengan konten lokal Indonesia yaitu Mat Goceng dan Mahardika pada International Game Exhibition SPIEL ESSEN 2014 di Jerman.

KummAra Studio
Contoh permainan buatan KummAra Studio | sumber : kummara.com
Berkaitan dengan pameran di SPIEL ESSEN, Eko selaku CEO dan Lead Game Designer KummAra mengatakan tantangan yang dihadapi cukup berat. Pertama, berupa lokasi booth dimana Indonesia hanya memperoleh booth berukuran 10m2 di sudut ruangan, di lain sisi booth Jerman, Jepang, dan China memperoleh booth hingga 100m2 di hall utama. Kedua, berupa pesimisme terhadap materi game yang dibawakan. Mayoritas memberi masukan kepada Eko untuk membawa konten Jerman agar dapat dilirik oleh penduduk setempat pada pameran tersebut. Namun, Eko tetap bersikeras untuk membawa konten budaya Indonesia menuju pameran berskala internasional tersebut. Bagi Eko, membawa papan permainan bernuansa Indonesia pada pundaknya merupakan tanggung jawab yang harus ia lakukan sebagai Game Designer Indonesia. Meskipun berhadapan dengan berbagai tantangan, ternyata game Indonesia karya Rio Fredericco dari KummAra Studio sangat diminati oleh eksibitor dari berbagai negara. Bahkan dalam dua hari, 200 boardgame yang dibawa oleh tim KummAra habis terjual dan memaksa tim KummAra untuk melakukan re-stock untuk pameran pada hari ketiga dan keempat. “Penduduk Jerman sangat mengapresiasi game dari Indonesia. Buat mereka unsur budaya yang kita punya ini merupakan sesuatu yang fresh dan menyenangkan. Bahkan hampir sebagian besar pengunjung mengaku hadir ke booth kami karena banyak orang yang tertawa ketika bermain di booth Mahardika ini”, tutur CEO KummAra Studio.
KummAra Studio
Suasana booth KummAra pada exhibition | sumber : kummara.com
Membawa unsur tambahan seperti budaya lokal ini sendiri selaras dengan tagline KummAra Studio sebagai Studio Game Design dan Game Consulting, yaitu “Bring more to your game”. Eko bersama KummAra games berusaha untuk memberikan sesuatu yang lebih dalam permainan baik itu nilai, informasi, edukasi, maupun pesan. Hal ini karena Eko Nugroho percaya bahwa game merupakan media interaktif yang luar biasa. “Game juga bisa digunakan untuk menyampaikan berbagai informasi. Misalnya hidup sehat, lebih banyak membaca, dan masih banyak lagi”, sambung Eko. Eko sendiri mendalami game design secara otodidak ketika mengemban kuliah dengan konsentrasi matematika di Jerman. Eko tertarik untuk mendalami games karena pengalaman pribadi di Jerman yang notabene negara individualis, namun Eko berhasil menjalin relasi yang baik dengan warga sekitar melalui boardgame. Padahal, rekan bermain Eko hanya mampu berbicara bahasa Jerman dan Eko berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Menurut Eko, “jika ada media yang memiliki kemampuan sedemikian rupa untuk menjembatani relasi, kenapa kita ngga coba untuk perbanyak dan kembangkan?”. Sejak saat itu, Eko membentuk KummAra dan memberikan berbagai pelatihan mengenai games hingga ke Kompas, OJK, KPK, dan masih banyak lagi. Sebagai pemungkas, Eko berpesan kepada anak muda di Indonesia untuk tetap berkarya selagi kita masih mampu. “Jangan berhenti berkaryalah selagi bisa. Yuk, sama-sama kita bawa hal baik tentang negeri ini dari berbagai aspek. Semakin kita membuka diri dengan hal baik di negeri ini, semakin banyak juga kok hal baik yang bakal datang ke kita”.   Inspirator Freak Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis : Ryan Sucipto Editor   : Nindya Kharisma Cahyaningtyas Inspirator Freak Twitter : @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)
SHARE
Previous articleBangkitkan Budaya Intelektual Melalui Bedah Film Soe Hok Gie
Next articleSiap-siap Tahan Nafas Melihat Keindahan Opera House Sidney di Vivid Festival

LEAVE A REPLY