Lakoat.Kujawas, Project Sosial Enterprise Anak Muda NTT

Aktif sebagai konselor pendidikan dan beberapa komunitas di tanah rantau, Kupang, Christian Dicky Senda memilih pulang. Di tanah lahirnya, Mollo Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Ia merintis sebuah project sosial di bidang kewirausahaan. Apa alasan sastrawan muda ini memilih pulang dan seperti apa project sosialnya?

Awalnya Dicky berniat pulang kampung untuk fokus riset dan menulis novel, namun dalam perjalanannya Ia menemukan banyak hal. Ia bertemu dengan beberapa penutur bahasa adat di Mollo yang sudah sepuh. Ia kemudian berpikir, jika tidak ada dokumentasi atau pengarsipan, tidak ada yang mau belajar dan jadi penerus, maka dalam waktu dekat, akan kehilangan banyak informasi penting.

Di sisi lain, potensi alam dan budaya yang kaya belum dikelola dengan baik. Petani punya hasil melimpah, penenun juga, tapi pemasarannya bagaimana? Mengapa ketika potensinya besar tetapi orang mudanya lebih memilih jadi TKI? Ia pun akhirnya menemukan bahwa konsep kewirausahaan sosial bisa menjadi solusi. Bersama kawan-kawannya, Dicky merancang Lakoat.Kujawas sebagai coworking space, tempat anak muda Mollo berkumpul, berdiskusi dan bekerja dengan sesama orang Mollo atau orang dari luar Mollo.

“saya sadar bahwa ada begitu banyak potensi yang tidak tergarap dengan baik. Potensi pertanian dan perkebunan, wisata alam dan budaya, dll. Orang mudanya pergi merantau, seperti saya yang bekerja di Kupang atau kawan-kawan saya lainnya yang memilih merantau ke Jawa, Kalimantan atau jadi TKI di luar negeri.” Ungkapnya.

Christian Dicky Senda bersama relawan #kerjabarengwarga Mollo di Lakoat.Kujawas coworking space (Foto: Dicky Senda)
Christian Dicky Senda bersama relawan #kerjabarengwarga Mollo di Lakoat.Kujawas coworking space (Foto: Dicky Senda)
christian-senda
Mewakili Lakoat Kujawas dalam Active Citizen Social Enterprise Leadership Training, British Council (foto kiri), menerima donasi ensiklopedia dari relawan @bukubagi_ntt (kanan atas) dan membagikan sumbangan buku ke anak-anak Mollo (Foto: Dicky Senda)

Langkah awal yang mereka lakukan adalah membuat aksi #KerjaBarengWarga, yakni kesempatan bagi relawan dari luar Mollo untuk datang membantu melakukan pemetaan potensi desa (situs budaya, pangan lokal, dsb). Mereka juga membangun perpustakaan kampung di desa Taeftob, merintis usaha ekowisata dan homestay yang melibatkan warga lokal, dan menjual produk khas Mollo seperti kain tenun, kopi, madu dan sambal lu’at organik di Instagram @lakoat.kujawas. Usaha ekonomi kreatif ini melibatkan kelompok penenun dan petani lokal.

“ke depannya saya berharap anak muda lokal bisa aktif dan kreatif memasarkan sendiri produk mereka via internet, menjadi guide dan pengelola homestay di kampung mereka sendiri. Lakoat.Kujawas siap membantu membuka jaringan dan memfasilitasi berbagai jenis pelatihan bagi anak muda yang mau berwirausaha.”

Selain itu Ia juga berharap mereka bisa terlibat aktif dalam usaha mengarsip dan memelihara kekayaan intelektual warisan generasi sebelumnya di kampung mereka sendiri.

“Mimpi kami ke depan, lakoat.kujawas bisa membuat program residensi seni dan lingkungan melibatkan seniman, peneliti, aktivis, dll untuk melakukan kerja kolaborasi dengan warga. Dan lakoat.kujawas bisa menjadi pusat seni budaya Mollo.” tutupnya.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Penulis : Ifa Ikah

Inspirator Freak

LEAVE A REPLY