sumber : kalw.org

Apa yang ada di pikiran rekan-rekan muda ketika berbicara tentang cinta? Mungkin kebanyakan dari kita akan langsung berpikir mengenai pacar kita masing-masing (kalau yang sudah punya :p ). Atau ada juga yang berpikir mengenai cinta kepada sahabat-sahabat kita masing-masing. Namun, pernahkah kita berpikir apa esensi dari suatu konsep yang bernama cinta? Nah, dalam tulisan ini akan disajikan pandangan mengenai konsep cinta dari segi ilmu Psikologi. Sebelumnya kita akan berbicara dulu mengenai pengertian cinta dan jatuh cinta. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta dapat diartikan sebagai hubungan antar pria dan wanita berdasarkan kemesraan, tanpa ikatan berdasarkan adat atau hukum yang berlaku. Lalu, bagaimana dengan jatuh cinta? Menurut Aron, Aron & Paris (1995), jatuh cinta adalah keadaan dimana timbulnya keinginan kuat membentuk hubungan yang dekat dan romantis dengan orang-orang tertentu. Kemudian, ternyata ada beberapa faktor individual yang memengaruhi cinta. Menurut Wisnuwardhani & Mashoedi (2012), terdapat 3 faktor individual yang memengaruhi seseorang ketika mencintai orang lain, yaitu : a. Attachment style (Tipe Kedekatan) Terdapat tiga jenis attachment style yang sering dikaitkan dengan suatu hubungan yang dekat, yaitu secure, avoidant, dan anxious/ambivalent. Orang yang secure akan menyatakan bahwa ia merasa nyaman dalam keintiman emosional dan memiliki ketergantungan tertentu. Orang yang avoidant tidak menyukai ketergantungan dan kedekatan sedangkan orang yanganxious/ambivalent terlihat terikat dan posesif. b. Usia Semakin bertambah usia seseorang, mereka umumnya memiliki hubungan yang sudah lama terjalin dan mulai membangun hubungan yang lebih serius menuju bahtera rumah tangga. c. Jenis kelamin Secara keseluruhan, pria dan wanita memiliki kesamaan ketika jatuh cinta. Mereka mengalami berbagai tipe cinta yang serupa dan sedikit perbedaan proporsi pada attachment style yang dimiliki pria dan wanita. Ada beberapa tokoh psikologi yang mencoba untuk memberikan pandangannya tentang konsep cinta. Salah satunya adalah seorang tokoh bernama Robert Stenberg. Dalam bukunya tentang The Triangular Theory of Love atau yang dikenal dengan Teori Segitiga Cinta, Stenberg menunjukkan bahwa ternyata cinta memiliki tiga dimensi, yakni intimacy, passion, decision dan (atau) commitment.

sumber : www.ericadhouse.com
sumber : www.ericadhouse.com
Intimacy. Dimensi ini tertuju pada kedekatan perasaan antara dua orang dan kekuatan yang mengikat mereka untuk bersama. Sebuah hubungan akan mencapai keintiman emosional saat kedua pihak saling mengerti, terbuka, dan saling mendukung, dan dapat berbicara apa pun tanpa merasa takut ditolak. Dalam kondisi dimana hanya ada intimacy dalam hubungan romantis, itu hanya sebatas suka. Passion. Dimensi passion menekankan pada intensnya perasaan dan keterbangkitan yang muncul dari daya tarik fisik dan daya tarik seksual. Pada jenis cinta ini, seseorang mengalami ketertarikan fisik secara nyata, selalu memikirkan orang yang dicintainya sepanjang waktu, terpesona dengan pasangan, ingin selalu bersama yang dicintai, memiliki energi yang besar untuk melakukan sesuatu demi pasangan mereka, dan tentu saja merasa sangat berbahagia. Jika hanya terdapat passion dalam hubungan romantis, maka itu disebut tergila-gila. Decision dan (atau) Commitment. Pada dimensi ini, seseorang berkeputusan untuk tetap bersama dengan seorang pasangan dalam hidupnya. Komitmen dapat bermakna mencurahkan perhatian, melakukan sesuatu untuk menjaga hubungan tetap langgeng, dan memperbaiki bila hubungan bila dalam keadaan kritis. Pada dimensi ini, seseorang sudah mulai memikirkan mengenai pernikahan. Kondisi dimana hanya ada komitmen dalam hubungan romantis disebut cinta yang kosong. Ketiga dimensi yang dijelaskan sebelumnya juga saling berkaitan dan membentuk karakteristik dari jenis-jenis cinta. Pertama, perpaduan antara intimacy dan passion akan membentuk romantic love dimana dirasakan pasangan ketika hubungan mereka sedang “hangat-hangat”-nya, memiliki keterikatan fisik, sering menghabiskan waktu bersama, dan juga merasa seperti sahabat untuk satu sama lain. Cinta jenis ini cenderung lebih banyak pada remaja dan dewasa muda dimana masih kurangnya komitmen kepada pasangan. Kedua, ada yang namanya companionate love yang merupakan paduan antara intimacy dan commitment. Cinta jenis ini lebih banyak ditemukan pada pasangan yang sudah lama menikah. Passion mereka bisa dibilang sudah tidak ada, tetapi mereka tetap merasakan ikatan emosional yang sangat dalam dan komitmen satu sama lain. Cinta jenis ini merupakan cinta yang bertahan lama dan membawa kepuasan dalam hubungan cinta mereka. Ketiga, fatuous love yang merupakan perpaduan antara passion dan commitment. Disebut juga cinta yang penuh fantasi karena pasangan yang melandaskan hubungannya dari cinta jenis ini sama-sama ingin saling mencintai, tetapi tidak memiliki suatu ikatan emosional yang nyata. Komitmen diantara mereka didasarkan pada gairah seksual tanpa membentuk ikatan emosional untuk mempertahankan kelangsungan hubungan mereka. Manakah yang lebih baik untuk menjadi landasan hubungan romantis kamu dengan pasangan kamu? Cuma kamu dan pasanganmu yang tahu jawabannya. Dan kembali lagi komunikasi dan penerimaan menjadi elemen penting dalam menjalin hubungan dengan pasangan agar hubungan yang kalian jalani dapat terus merasakan passion, commitment, dan intimacy hingga akhir hayat. Semoga tulisan ini menambah wawasan bagi kita semua dalam memaknai yang kusebut: CINTA. (OWL) Obedrey Willys Legi (@ebodrey) Referensi : Aron, A., Aron, E., & Paris, M. (1995). Falling in love: prospective studies of self-concept change. Journal of Personality and Social Psychology, 69, 1102-1112. Wisnuwardhani, D. & Mashoedi, S.F. (2012). Hubungan Interpersonal. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika. Kamus Besar Bahasa Indonesia http://study.com/academy/lesson/sternbergs-triangular-theory-of-love-definition-examples- predictions.html

LEAVE A REPLY