Kondisi Fisikmu Sering Bermasalah? Coba Cek, Mungkin Kondisi Emosimu Biang Keladinya

Hubungan antara kondisi fisik seseorang dengan kondisi emosi dan mentalnya ternyata memiliki kaitan lebih erat daripada yang kita sadari. Selama ini, gangguan fisik yang paling umum disetujui banyak orang adalah stres menjadi penyebab migrain atau sakit kepala berkelanjutan. Jika kondisi fisik kamu bermasalah, mungkin emosimu biang keladinya.

Berikut beberapa gangguan fisik yang berhubungan erat dengan kondisi mental dan emosional seseorang.

Sakit kepala

Photo credit: GIPHY

Sering sakit kepala menjadi tanda kamu kewalahan menghadapi satu (atau beberapa) hal pelik dalam hidupmu. Saran sederhana untukmu, Inspirator, cobalah untuk rileks. Kadang-kadang, solusi atas satu masalah justru muncul sendiri ketika respons kita adalah memilih rileks. Kamu bisa melupakan sejenak masalahmu dengan mendengarkan musik favoritmu berulang-ulang sepanjang hari, pergi ke mal sendirian untuk menikmati me time, atau bercengkerama bersama keluarga atau orang-orang terdekatmu.

Sakit leher

Photo credit: Google Internet

Menarik, ada riset yang mengungkapkan pendapat bahwa sakit leher kronis kadang-kadang pemicunya adalah karena kamu sulit memaafkan seseorang, atau bahkan dirimu sendiri, karena kejadian di masa lalu. Jika kamu mengalami kondisi fisik ini, coba tanyakan pada dirimu, apakah ini benar? Jika ya, pertama maafkan dirimu, setelah itu maafkan orang yang berbuat salah padamu–ini akan membebaskan dua belah pihak dari tekanan emosional berkepanjangan.

Semua orang pernah melakukan kesalahan, karena itu semua orang butuh dimaafkan. Kesalahan dalam hidup tidak terelakkan, itu sebabnya pensil memiliki penghapus. Bertepatan sekarang bulan Ramadan dan menuju Idul Fitri, ini momentum yang baik sekali untuk saling memaafkan dan mulai menulis kisah hidupmu di lembaran baru yang putih bersih. Mulai dari nol, ya?

Nyeri bahu

Sakit bahu berkaitan dengan memikul beban emosional yang berat; mungkin kamu terlalu banyak mengambil tanggung jawab atas perbuatan orang lain, mungkin kamu terlalu lama memendam masalahmu sendiri.

Bagikan bebanmu pada seseorang, yang ikhlas menyediakan telinganya untuk mendengarkan keluh kesahmu dan menahan bibirnya untuk menghakimimu. Beban batin kita pasti lebih ringan jika kita tidak gengsi curhat pada orang orang yang kita percaya. (Peringatan: hindari curhat di media sosial, ya?)

Nyeri punggung atas

Terlalu sering kekurangan dukungan emosional bisa mewujud menjadi nyeri di punggung atas; kadang-kadang ketidaknyamanan fisik ini terjadi akibat seseorang merasa tidak dicintai. Jika kamu merasa tidak ada yang mendukungmu dan itu membuatmu kesepian, coba cari cara untuk menjalin koneksi dengan orang lain, misalnya bergabung dengan komunitas online di media sosial yang sesuai minatmu atau melibatkan diri di komunitas nyata di sekitar tempat tinggalmu.

Photo credit: GFYCAT

Nyeri punggung bawah

Mengejutkan, ada bukti bahwa nyeri punggung bawah yang kronis bisa terjadi karena kamu cemas dengan situasi finansialmu. Baik untuk diingat ya, Inspirator, kesuksesan dan kebahagiaan tidak melulu diukur dengan uang berlimpah. Kamu bisa sukses dan bahagia dengan menjadi pribadi yang mendukung orang lain, membuat orang lain merasa dirinya berharga dan diinginkan.

Uang memang penting untuk kita bisa melakukan banyak hal, tapi masih banyak hal yang bisa kita lakukan tanpa butuh uang, misalnya tersenyum ramah pada orang tidak dikenal, menolong orang tua atau kaum difabel menyeberang jalan, dan melakukan kebaikan-kebaikan kecil di mana pun kamu berada (random acts of kindness).

Jika satu atau lebih dari lima kondisi fisik di atas terjadi berulang kali padamu, jangan buru-buru mengira ada masalah pada tubuhmu, karena bisa jadi pemicunya adalah kondisi emosi dan mentalmu. Coba ambil waktu untuk berdua saja dengan dirimu dan lakukan refleksi menyeluruh.

(Dari berbagai sumber)

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here