Well, halo Inspirator!. Kali ini kita kedatangan artikel pembaca Inspirator Freak dari Medan loh. Artikel kali ini datang dari sekumpulan anak muda inspiratif yang kuliah di Universitas Sumatera Utara, ilmu komunikasi. Mereka membentuk komunitas penggiat bahasa ESPERANTO di Indonesia. Bahasa Esperanto itu apa sih??????penasaran kan?. Langsung aja baca artikel ini. Berbicara tentang budaya tentu tidak lepas dari unsur bahasa. Tidak dipungkiri lagi bahasa sering dijadikan sebagai identitas diri ataupun kelompok atau simbol dari sebuah pesan. Banyak bahasa di dunia ini sudah sejak lama ada dan menjadi ciri dan hak paten dari setiap bangsa. Sehingga bahasa seperti bersifat eksklusif bagi suatu bangsa dan mereka yang menggunakan diluar bangsa tersebut dianggap sebagai pengikut bahasa. Tidak ada bahasa yang dimiliki bersama di dunia ini, setiap bangsa seakan-akan berlomba-lomba untuk mengeksklusifkan bahasa miliknya dan berharap jika bahasa mereka dipakai maka akan naiklah harga diri bangsa tersebut. Berbicara tentang bahasa yang dimiliki bersama, seorang Polandia L.L Zamenhof pada tahun 1887 menciptakan bahasa Esperanto. Kata ‘Esperanto’ sendiri berarti “seseorang yang berharap” di dalam bahasa Esperanto. Tujuannya sederhana, dia ingin menciptakan sebuah bahasa yang “netral” atau semua orang bisa memilikinya untuk memudahkan semua orang untuk berkomunikasi. Di Indonesia sendiri, bahasa Esperanto telah ada sejak jaman penjajahan Belanda tepatnya di tahun 1919. Dan komunitas bahasa Esperanto Indonesia pertama dibentuk pada tahun 1952 di Jakarta dengan nama Indonezia Universala Esperanto- Asocio (IUEA) oleh Rangkajo Chailan Sjamsoe Datoe Toemenggoeng. Memang sejak awal, komunitas dari bahasa Esperanto ini tidak banyak, hanya hitungan puluhan orang saja. Hal ini tidak terlepas dari kurang dikenalnya bahasa ini di Indonesia.Namun lambat laun sejumlah komunitas bahasa Esperanto mulai terbentuk dari satu kota ke kota yang lain. Dimulai sejak dari kota Yogya, kemudian menyebar ke Bandung hingga menjamah pulau Sumatera seperti Batam dan Medan. Di Medan sendiri tidak diketahui kapan pertama kali komunitas bahasa Esperanto ada. Namun Medan memiliki komunitas Esperanto yang bernama Aurora Muvado. Komunitas ini memang tergolong masih kecil karena anggotanya saat ini hanya 16 orang saja. Tetapi disinilah letak kebersamaan itu ada. Komunitas ini melakukan pertemuan di rumah para anggota komunitas maupun di ruang terbuka yang nyaman. Hal inilah yang menjadi penguat kebersamaan bagi setiap anggota komunitas ini. Memang harus diakui bahwa bahasa Esperanto itu tidak tenar dan sangat jarang orang yang tahu tapi komunitas ini tidak putus asa untuk terus berusaha memperkenalkan bahasa Esperanto ke seluruh masyarakat kota Medan.  Pimpinan dari komunitas ini adalah seorang mahasiswa yang terdaftar di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU stambuk 2012. Namanya Reza Pahlevi, dia adalah orang yang menduduki jabatan Ketua Divisi Edukasi di Indonezio Esperanto Asocio. Reza sendiri sadar bahwa dia bertarung melawan arus dengan mendirikan sebuah komuntas yang cenderung jarang orang mengetahuinya bahkan tidak dikenal sama sekali. Tapi semangat untuk menyatukan perbedaan bahasa membuat Aurora Mofado tetap bertahan hingga saat ini dan bahkan mengantar Reza sendiri terbang ke negeri sakura Jepang untuk mewakili seluruh Esperantis (pengguna bahasa Esperanto) yang ada di Indonesia menghadiri Kongres Bahasa Esperanto se dunia. Jadi bukan menjadi halangan tersendiri untuk melawan arus karena sesungguhnya Reza sudah membuktikan kebersamaan dan semangat untuk menyatukan perbedaan melalui bahasa Esperanto  dapat menjadi awal dari lembaran baru kehidupan budaya di masyarakat medan khususnya. “Pergerakan Esperanto di Medan masih tergolong kecil. Tetapi semangat kami menyampaikan tentang Esperanto sebagai bahasa netral dan mudah dimengerti, tidak akan pudar. Semua ini berkat teman-teman yang mendukungnya sepenuh hati. Esperanto estas facila kaj neŭtrala lingvo, do lernu! Esperanto adalah bahasa yang mudah dan netral sehingga belajarlah!” . Itulah semangat Aurora Mufado, bagaimana dengan semangat kita ? Kiriman artikel ini dari InTeam Publisher yang ada di Medan, thanks buat temen-temen di Medan. Inspirator Freak seneng banget bisa dukung komunitas kalian dengan membantu menerbitkan artikel ini 😀   Inspirator Freak Keep Breathing, Keep Inspiring  

LEAVE A REPLY