Ketika Buku Memengaruhi Hidup Seorang Penulis
Sumber : Kontributor Inspirator Freak

Pepatah Latin mengatakan Verba volant scripta manent, yang berarti apa yang terucap akan berlalu dan apa yang tertulis akan mengabadi.

Kalimat tersebut rupanya memiliki pengaruh yang cukup besar bagi beberapa penulis, termasuk Clarasia Kiky. Penulis muda yang sudah menerbitkan beberapa buku ini mengaku, bagaimana sebuah tulisan/buku memengaruhi hidup dan mengubah cara pandangnya terhadap banyak hal.

Kiky, begitu Ia biasa disapa, mengungkapkan, kesukaannya membaca sejak kecil ternyata mengubah hidupnya. Sejak kecil sampai sekarang kecenderungannya untuk menjadi orang yang negatif itu banyak sekali. Tetapi buku-buku yang Ia baca justru menyelamatkannya. Membaca mengubahnya dalam berpikir, melihat sesuatu, dan melatih empatinya.

“Saya sadar apa yang tertulis memang efeknya lebih besar dan panjang,” tambahnya.

Kiky menyebut tentang penelitian Taufik Ismail berjudul Tragedi Nol Buku. Penelitian tersebut adalah bukti bahwa pendidikan di Indonesia tak lagi mewajibkan baca buku. Ia pun menyayangkan tradisi membaca di Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara lain. Hal itu dirasakan Kiky ketika Ia mengajar di sebuah sekolah internasional, cara belajar dan kurikulum mengenai bahasa Indonesia berbeda dengan sekolah nasional.Kiky mencontohkan, Ia mengajar di kelas 11 dan 12 (diploma program), selama dua tahun siswanya diharuskan membaca 12 buku dan dibedah.

“Menurut saya itu adalah cara membaca orang-orang zaman dulu, zaman Soekarno. Pemikiran mereka luar biasa karena erat kaitannya antara tradisi membaca dan kemampuan berpikir,” ujar pengagum sastrawan Achmad Tohari ini.

Ketika Buku Memengaruhi Hidup Seorang Penulis
Sumber : Kontributor Inspirator Freak

Kegelisahan inilah yang melatarbelakangi Kiky dan temannya, Lea Setyaningrum melahirkan buku berjudul Bongkar Pasang : Negeri 5 Menara. Dalam buku yang mengupas novel Negeri 5 Menara karya Achmad Fuadi ini, Kiky menerapkan empat formula efektif agar pembaca lebih memahami dan mendalami saat membaca novel.

Keempat formula yang juga ia terapkan kala mengajar adalah prediksi, riset, analisis, dan refleksi.

“Prediksi, kita mengajak mereka untuk memprediksi novel yang akan dibaca. Dengan memprediksi mereka akan mulai membangun ketertarikannya. Kemudian riset, kami memandu mereka meriset novel dan siapa penulisnya. Analisis, sembari membaca kita menganalisis unsur intrinstik dan ekstrinsik (pada prosa dan drama) atau unsur fisik dan bathin (pada puisi). Ketika selesai ketiganya, refleksi. Karena tanpa refleksi setelah membaca tidak ada gunanya,” jelas Kiky.

Ia berharap lewat buku Bongkar Pasang : Negeri 5 Menara akan ada pemahaman serta kesadaran akan pentingnya membaca dalam membangun kemampuan berpikir bangsa ini.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak

Penulis : Ifa Ikah

Editor : Andreas Maydian Puspito Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY