Smart Zoo
SmartZoo karya Dimas, Ega, dan Irwan dari Vector Team menjadi finalis IoT Academy Compfest 8

Halo Inspirator! Bagaimana aktivitasmu hari ini? Semoga lancar dan menyenangkan ya. Kali ini tim Inspirator Freak mau membahas mengenai Smart Zoo. Karya dari tim bernama Vector ini berhasil menjadi finalis acara kompetisi Internet of Things (IoT) di Compfest 8 yang diadakan di Universitas Indonesia akhir September lalu. Mereka berhasil menjadi salah satu dari 12 finalis, disaring dari sekitar 90-an tim yang berpartisipasi.

Tim Vector beranggotakan Dimas Prasetyo Hutomo (Teknik Elektro, Universitas Gunardama), Ega Dwi Prasetya (Teknik Informatika, Universitas Gunadarma), dan Irwan Syarifudin (Teknik Komputer Jaringan, Politeknik Negeri Jakarta). Karya mereka yaitu Smart Zoo, berhasil menjadi finalis di lomba Internet of Things (IoT) Compfest 8, Universitas Indonesia. Setelah menjadi finalis, mereka dilatih oleh para ahli terkait IoT yang dihadirkan panitia, guna memperdalam ilmu dan lebih mengembangkan karyanya.

Berawal dari Insiden di Luar Negeri

Karya Smart Zoo terinspirasi insiden keamanan kebun binatang di luar negeri | Source: Dokumentasi Tim Vector
Karya Smart Zoo terinspirasi insiden keamanan kebun binatang di luar negeri | Source: Dokumentasi Tim Vector

Smart Zoo karya Dimas, Ega, dan Irwan adalah sebuah sistem pengamanan real-time untuk kandang hewan di kebun binatang. Latar belakang Smart Zoo ternyata berawal dari sebuah kasus di luar negeri. “Jadi di luar negeri ada anak kecil masuk kandang gorila di kebun binatang. Karena membahayakan anak tersebut, gorila di kandang terpaksa ditembak mati. Kelalaian dua pihak, orang tua yang kurang awasi anaknya dan pihak penjaga kandang kebun binatang yang kurang pengamanan,” terang Ega. “Smart Zoo ini untuk mempermudah pawang hewan memantau kondisi kandang secara real-time. Setiap kandang punya sensor masing-masing, baik hewan reptil maupun hewan buas juga ada sensor untuk deteksi manusia agar tidak terlalu dekat,” tambah Ega kepada tim Inspirator Freak.

Kembangkan Smart Zoo, Riset ke Kebun Binatang

Smart Zoo
Smart Zoo karya Tim Vector, ditampilkan di acara puncak Compfest 8 | Source: Dokumentasi Tim Vector

Tak hanya berbekal kasus tersebut, Dimas, Ega dan Irwan mengembangkan Smart Zoo juga melalui kunjungan riset ke kebun binatang lokal seperti Kebun Binatang Ragunan. Selain observasi kandang, aspek seperti informasi dari penjaga, perilaku pengunjung juga mereka pelajari untuk Smart Zoo.

Mereka berharap meningkatkan mutu, kualitas, serta keamanan di kebun binatang, sehingga meningkatkan income daerah lewat sektor wisata. Rencananya, tim Vector akan berupaya mengajukan Smart Zoo kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) agar dapat diaplikasikan di kebun-kebun binatang. Ega berharap agar inovasi IoT seperti Smart Zoo dapat lebih banyak jumlahnya.

“IoT di Indonesia masih awal-awal, ya. Mungkin dengan kompetisi-kompetisi IoT anak Indonesia tertarik mengalihkan jiwanya ke inovasi dan terus berkarya. IoT melihat masalah-masalah di masyarakat dan mencari solusinya,” terang Ega.

Dimas pun memiliki harapan terkait karya Smart Zoo. “Insya Allah menginspirasi anak-anak muda yang ingin berkarya di IoT, embedded system, atau sejenisnya, sehingga masalah yang ada dapat diselesaikan melalui teknologi,” jelas Dimas.

Passion dan Otodidak

Tim Vector Berpose Ala Inspirator Freak | Source: Dokumentasi Pribadi
Tim Vector (Irwan, Ega dan Dimas) Berpose Ala Inspirator Freak | Source: Dokumentasi Pribadi

Ega menegaskan bahwa passion punya peranan penting dalam pencapaiannya saat ini. “Bukan sebatas karena jurusan saya, tapi passion saya memang di sini (teknologi). Saya udah dari SMA ikut lomba untuk setidaknya belajar,” ujar Ega. “Biar nggak nyerah, cari sesuatu yang lo suka dari bidang ini (teknologi). Misalkan, saya ini pencinta binatang, selain itu saya juga suka teknologi. Jadi saya padukan keduanya untuk SmartZoo,” jelas Ega kepada tim Inspirator Freak. Sementara, Dimas juga membeberkan tips miliknya. “Untuk membuka wawasan, pertama kita sukai dulu apa yang kita tuju, positive thinking dulu bahwa kita bisa kuasain,” terang Dimas. “Saya basic-nya elektronika, tapi ada kemauan belajar desain. Saya belajar 3D modelling yang sebenarnya untuk anak Teknik Mesin dan Desain. Di sini saya mengandalkan skill otodidak saya. Modalnya Youtube, Google, dan referensi lain di Internet, lalu juga didukung kemauan saya untuk hasilkan karya,” tambahnya.

Punya Passion Serupa? Bisa Gabung Vector!

Tim Inspirator Freak (Ryan dan Hanum) berpose ala IF dengan Tim Vector | Source: Dokumentasi Pribadi
Tim Inspirator Freak (Ryan dan Hanum) berpose ala IF dengan Tim Vector | Source: Dokumentasi Pribadi

Vector sendiri merupakan singkatan dari Variety of  Electronics, Computers, and Technicals Orientation for Robots. Komunitas yang didirikan Dimas ini berupaya memfasilitasi anak-anak muda untuk berkarya di bidang robotika dan sejenisnya. Vector memiliki ‘adik-adik didik’ yang masih SMA mengikuti berbagai lomba di berbagai Universitas. ‘Adik-adik didik’ Vector telah menoreh prestasi, di antaranya juara kedua pada lomba yang diadakan di ITB, serta menyabet juara pertama di kompetisi lainnya yang diadakan di Teknik Kimia UI. Vector membuka kesempatan untuk anak-anak muda bergabung, lho! Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi Dimas di +6283875886871.

Keep Breathing, Keep Inspiring

Penulis: Agung Tyanto

Inspirator Freak

LEAVE A REPLY