Keanekaragaman Hayati Dalam Kaca Mata Anak Muda

Saat ini, banyak masyarakat yang terlihat apatis dengan lingkungan sekitar. Hal tersebut dibuktikan dengan abainya mereka terhadap keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia. Contoh sederhananya adalah membuang sampah sembarangan. Secara langsung, hal tersebut berdampak buruk bagi lingkungan alam. Terlebih dengan adanya deforestasi, menyebabkan keanekaragaman hayati secara perlahan menghilang dan meninggalkan dampak yang sangat merugikan. Lalu, bagaimana suara anak muda dari berbagai disiplin ilmu menanggapi hal tersebut?

Devi Fortuna Utomo, mahasiswa semester dua jurusan Kriminologi, Universitas Indonesia berpendapat bahwa Indonesia memiliki potensi yang bagus dengan alam yang mendukung. Flora dan fauna yang dimiliki oleh hutan Indonesia, seharusnya dijaga sebaik mungkin dan tidak dieksploitasi secara berlebihan.

“Kita sebagai manusia seharusnya jaga ekosistem yang ada. Jangan cuma take it for granted,” ujar Devi.

Sejalan dengan itu, Desi Natalia yang merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Telkom, Bandung memberikan pendapatnya mengenai deforestasi yang terjadi di Indonesia. Seperti dua mata pisau yang saling bertolak belakang, di satu sisi deforestasi dapat membuka lahan baru untuk pertanian dan menjadi lapangan pekerjaan yang potensial. Namun di sisi lain, dampak dari deforestasi sendiri secara langsung dapat menghilangkan keanekaragaman hayati Indonesia yang jumlahnya sangat banyak.

“Tanggapan gue tentang deforestasi tuh gak setuju. Karena jelas lah ya, deforestasi itu kayak panen muda, jadi tanaman yang belum cukup umur udah ditebangin. Dan yang paling penting, deforestasi itu bikin makin sempitnya wilayah tempat tinggal satwa liar,” ungkap Desi memberikan tanggapan.

Deforestasi atau penebangan hutan dalam skala besar. Sumber: www.uscusa.org

Solusi Deforestasi

Dengan adanya masalah deforestasi yang mengancam keberadaan flora dan fauna, solusi yang ditawarkan dengan melihat dari kaca mata anak muda pun cukup beragam. Menurut Zita Fira Maranik, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, solusi untuk mengurangi deforestasi yaitu dengan membuat undang-undang dan menjalankan hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain itu, menurutnya kita juga perlu mengarahkan deforestasi ke arah yang positif dan terencana dengan bantuan dari semua elemen masyarakat.

“Untuk menjaga keanekaragaman hayati, balik lagi ke individu masing-masing. Gak perlu ngelakuin hal besar, tapi cukup membuang sampah pada tempatnya,” kata Zita, mahasiswa yang menempuh dalam jurusan Akuntansi.

Berbeda dengan Zita, menurut Tahta Helga Kusuma yang merupakan mahasiswa Ilmu Politik, Universitas Indonesia solusi yang efektif untuk mengurangi deforestasi dan menjaga keanekaragaman hayati adalah dengan menetapkan kuota maksimum deforestasi tiap tahunnya. Hal tersebut dapat diberlakukan secara nasional dengan regulasi yang ketat.

“Yang bisa dilakukan anak muda itu sesimpel menyadari bahwa kekayaan hayati harus dijaga untuk diteruskan ke generasi selanjutnya. Contohnya jangan suka metik bunga edelweiss cuma buat dibawa pulang atau dipamerin ke media sosial,” ungkap Tahta.

Bunga edelweiss. Sumber: www.flickr.com

Jika Devi, Desi, Zita, dan Tahta berasal dari latar belakang pendidikan sosial berpendapat mengenai keanekaragaman hayati dan deforetasi, kini kita mendengar pendapat dari mahasiswa dengan latar belakang pendidikan yang memang memiliki hubungan dengan keanekaragaman hayati serta deforestasi.

Menurut Anis Savirania dari Biologi, Universitas Indonesia solusi yang dapat dilakukan terkait deforestasi adalah dengan memanfaatkan hutan dengan bijak. Hal tersebut mengacu pada ketentuan perundang-undangan dan regulasi yang ada. Selain itu, langkah reboisasi juga dapat ditempuh dengan mengembalikan fungsi dari ekosistem hutan.

Pesan Anak Muda

Di akhir, kelima anak muda ini memberikan pesan kepada masyarakat di luar sana untuk melestarikan alam demi menjaga keseimbangan dan keberlangsungan hidup manusia.

“Buat anak muda, biasanya banyak kegiatan di dalam kampus ataupun di luar kampus untuk menjaga lingkungan. Misalnya kemarin ada kegiatan dari mahasiswa IPB untuk ikut berpartisipasi dalam pelestarian terumbu karang. Kita gak harus dateng ke tempat itu, tapi kita juga bisa transfer uang yang nantinya bakal dibeliin benih terumbu karang oleh  panitia,” pesan Desi memberikan contoh konkret yang ada.

Pelestarian terumbu karang merupakan salah satu cara untuk menjaga keanekaragaman hayati. Sumber: www.pemudamaritim.com

Sedangkan, Tahta Helga berpesan, “jangan kira semesta tidak bisa melawan saat dihadapkan oleh tangan-tangan jahil manusia. Jangan kira tanpa alam semesta hidupmu bisa berjalan dengan berbekal teknologi modern. Perlu disadari bahwa manusia dan alam semesta adalah ciptaan Tuhan yang harus saling menjaga dan mengimbangi demi terciptanya kehidupan yang berkelanjutan,” tutupnya.

Nah, pemaparan mengenai keanekaragaman hayati di atas memang sangat berkaitan dengan deforestasi, Inspirator. Karena deforestasi dapat menyebabkan hilangnya ekosistem seperti tumbuhan dan hewan langka, menyebabkan terganggunya siklus air, bahkan mengakibatkan kerugian ekonomi. Oleh karena itu, yuk mulai sekarang jaga hutan kita dan sadar bahwa hal kecil yang dilakukan dapat memiliki dampak bagi lingkungan!

Keep Breathing, Keep Inspiring!

@inspiratorfreak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here