Inside InspiratorFreak: As Sweet As Inspiration, As Freak As Love

Beberapa bulan lagi, tidak terasa, ternyata InspiratorFreak.com berusia lima tahun. Menakjubkan, jika mengingat masing-masing kontributornya memiliki kegiatan pribadi, tapi tetap meluangkan waktu dan menyumbangkan talenta mereka demi kemajuan dan perkembangan IF.

Jika selama ini kamu menemukan banyak konten positif, kreatif, dan menginspirasi di InspiratorFreak.com dan semua platform media sosialnya, mungkin kamu pernah merasa penasaran dengan sosok-sosok penggagas inspirasi di komunitas penggiat industri kreatif ini. Misalnya, apakah mereka romantis? Apakah mereka merayakan Hari Valentine? Seperti apa kasih sayang menurut mereka?

Tulisan ini akan mengungkap pendapat beberapa orang dari mereka tentang topik seputar Hari Valentine. Kuy ikuti hasil wawancara saya dengan delapan anak muda yang mengklaim diri mereka, “As sweet as Inspiration, as Freak as love.”

“Seperti biasa, tanggal 14 Februari hampir seluruh dunia membicarakan tentang dan merayakan Hari Kasih Sayang. Kamu punya pengalaman tertentu dengan Hari Valentine?”

“Nggak. Nggak terlalu peduli tuh,” aku Afifah, mahasiswi kelahiran Februari 1997. “Buatku 14 Februari sama seperti hari lain.”

Rita, mahasiswi S1, menjawab dengan keterusterangan yang polos, “Datar aja. Kelamaan jomlo sih, jadi nggak nyadar itu hari spesial untuk pasangan kekasih.” Lebih lanjut, inspirator penyuka jus mangga ini berkata dia memilih tidak melihat jika pasangan-pasangan kasmaran menunjukkan kemesraan mereka pada hari itu.

Beda dengan Walvenardo Sinaga, agregator IF yang akrab disapa Rudy. Dia memiliki pengalaman menyentuh tentang Hari Valentine. “Itu membuat saya teringat pada orang yang saya suka, tapi sampai sekarang dia tidak tahu.”

“Wah, bikin penasaran orang se-Indonesia saja. Siapa sih, Rud?”

Jawabannya hanya senyuman malu-malu. Oke deh, semoga pada momen Hari Valentine tahun ini kamu berani menyatakan perasaanmu ke dia.

Bicara soal perasaan, ini pertanyaan favorit saya, “Cewek nembak duluan—yay or nay?”

Nay!” Octavianti Fransisca, public relations IF yang juga MC dan presenter, menyahut dengan yakin.

“Kenapa?”

“Aku gengsinya tinggi, lebih suka cowok yang mengejar aku.”

Ini sinyal untuk cowok-cowok yang menyukai Sisca, begitu dia disapa, bahwa dia menghargai laki-laki yang mengejarnya. Tetapi, Sisca tidak sendiri. Rita, Tim AgresIF yang setia bergabung sejak rekrutmen IF batch 1, punya jawaban serupa.

Nay. Apalagi kalau sampai menawarkan diri. Harga diri perempuan harus dijaga,” tegas penyuka warna merah ini.

Apakah tidak ada yang menjawab “yay”?

Ada. Nadia, agregator IF penyuka warna biru, setuju saja jika perempuan duluan menyatakan perasaannya pada laki-laki yang disukai. “Perasaan itu gunanya untuk diungkapkan,” katanya dengan bijak.

Di tim Nadia ada Jonathan, pendiri IF yang akrab dipanggil Jojo. Mahasiswa program pascasarjana penyuka warna biru dan hitam ini berpendapat, “Laki-laki dan perempuan setara, termasuk urusan perasaan. Perempuan juga punya perasaan yang butuh diungkapkan.”

“Setuju,” begitu pendapat saya. “Memendam perasaan itu berat, kamu takkan kuat.”

Ryan Sucipto, co-founder IF yang biasa dipanggil RyanTampan, juga masuk di tim Nadia. “Yay. Dengan catatan, jangan sampai yang ‘ditembak’ besar kepala, merasa istimewa, sehingga membiarkan yang ‘nembak’ mengejar-ngejar.”

Punya pengalaman “tembak-menembak” pas Hari Valentine?

RyanTampan mengaku belum pernah “ditembak” cewek, dan kalau dia duluan nembak, “Tidak pernah pas Valentine, karena takut trauma.”

Jojo ternyata punya jawaban sama persis. “Tidak pernah. Valentine is not special for me.”

Padahal, pikir saya, kebanyakan perempuan ingin mendapatkan pernyataan kasih sayang pas 14 Februari. Bahkan kadang-kadang menomorsatukan pacar atau gebetannya pada Hari Valentine daripada menghabiskan waktu bersama sahabat atau keluarganya. Penasaran, saya bertanya,

“Kalau sahabat terbaikmu di seluruh dunia, yang kuliah di luar negeri, pulang dan mengajakmu ketemuan pada 14 Februari, padahal gebetanmu seumur hidup akhirnya mengajakmu keluar pada hari yang sama, kamu pilih mana?”

“Pilih bestie,” jawab Sisca. “Kalau dengan pacar besoknya saja,” kata gadis ramah pemilik senyum manis itu.

Nadia memilih menerima ajakan gebetannya karena, “Bestie pasti mengerti kalau aku menceritakan yang sebenarnya, karena dia pasti tahu juga tentang orang yang kusuka. Kami bisa membuat janji bertemu pada hari lain.”

Afifah juga memilih sahabatnya, tapi dengan alasan berbeda. “Karena sahabatku sama dengan calon teman hidupku.” Maksudnya, gadis penggemar bakso ini ingin pendampingnya juga adalah sahabatnya.

“Gebetanmu sepanjang masa akhirnya menerima ajakanmu makan malam pada 14 Februari, padahal kamu punya acara makan malam bersama keluarga—pilih mana?”

“Mengajak dia makan malam bersama keluarga saya,” sahut Jojo dengan kalem.

Berat ini, pikir saya. Semoga kamu dan gadis itu sama-sama kuat.

Kalian tentu setuju kalau kasih sayang memiliki makna luas, bukan hanya kepada sesama manusia, melainkan juga kepada seisi alam semesta. Seperti pendapat para inspirator di internal IF ini.

Rudy berpendapat kasih sayang ditunjukkan dengan kepedulian dan kepekaan, memperlakukan manusia, hewan, dan tanaman dengan kelemahlembutan. Nadia, meskipun cakupannya lebih sempit (untuk orangtua dan teman-teman dekat), juga berpendapat kasih sayang baginya identik dengan kepekaan dan kepedulian. Saya penasaran mengapa jawaban mereka bisa kompak seperti ini padahal diwawancara secara terpisah.

Rida juga menegaskan kasih sayang berarti peduli, seperasaan, dan orang yang saling menyayangi hendaknya saling memberikan pengaruh baik.

Lalu seperti apa “romantis” menurut mereka? Ini pertanyaan paling seru dari semuanya, dan jawaban delapan anak muda ini sendiri tidak kalah seru. Kuy simak apa kata mereka, romantis itu…

Afifah: “Tidak berkata dan berperilaku kasar, bijak, bertanggung jawab. Menyimpan permen pemberian si dia selama bertahun-tahun.”

Jojo: “Saling mengerti tanpa perlu diekspresikan dengan kata-kata karena hati keduanya memiliki ikatan kuat.”

Nadia: “Melakukan hal-hal yang disukai pasangan kita.”

Sisca: “Saling mengerti dan mengalah.”

Rida: “Didukung, ditemani, dihibur ketika lelah.”

Rita: “Tahu si dia tidak baik-baik saja hanya dengan menatap matanya, sabar mendengarkan keluhan atau luapan emosinya tanpa ikut tersulut emosi, menyebut nama pasangan kita dalam setiap doa kita.”

Rudy: “Romantis itu seperti buku nikah, nama keduanya takkan terhapus untuk selamanya. Menunjukkan pengertian kita dengan tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata.”

RyanTampan: “Berbagi sesuatu yang kita miliki meskipun orang itu tidak memibta atau memberi isyarat meminta. Romantis itu kayak hansip, kita menjagai dia siang-malam.”

Seperti judulnya, wawancara yang, “As sweet as Inspiration, as Freak as love,” ini dari internal IF untuk Indonesia. Kehadiran IF hingga hari ini, menuju usia lima tahun sejak kelahirannya, menjadi bukti cinta dan kepedulian IF untuk generasi muda Indonesia. Semoga artikel edisi khusus ini membuat kalian terinspirasi untuk membagikan kasih sayangmu kepada dunia, Inspirator.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here