Inovasi Generasi Milenial Ditengah Derasnya Persaingan Global

“Inovasi atau Mati” kalimat singkat itu sangat menggambarkan pentingnya inovasi dalam sebuah persaingan. Baik seorang individu maupun perusahaan kelas kakap tidak henti-hentinya untuk terus berinovasi agar dapat bertahan dalam arus persaingan yang ada. Pergeseran masyarakat yang kini semakin mengarah ke tren digital dan meninggalkan cara konvensional. Tentu pergeseran nilai ini hadir bersamaan nilai positif juga nilai negatif bagi masyarakat.

Generasi milenial semakin akrab dengan berbagai teknologi yang semakin mempermudah keseharian mereka. Generasi ini pula yang menciptakan berbagai inovasi yang terkadang para orang tua maupun seorang profeseional tidak melihat celah ini. Tengoklah karya tiga mahasiswa yang membuat sebuah aplikasi yang mengimplementasi Internet of Thing. Dimas, Egi dan Irwan menciptakan Smart Zoo yaitu sebuah sistem pengamanan real-time untuk kandang hewan di kebun binatang sehingga mempermudah pawang hewan memantau kondisi kandang.

Tim Vector (Irwan, Ega dan Dimas) Berpose Ala Inspirator Freak | Source: Dokumentasi Pribadi
Tim Vector (Irwan, Ega dan Dimas) Berpose Ala Inspirator Freak | Source: Dokumentasi Pribadi

Selain dalam teknologi ada pula anak muda yang berinovasi dalam bidang kuliner. Mahasiswa indonesia membuat Cookie dari bahan Daun Kelor, bahkan mereka mendapat Penghargaan Internasional atas inovasi yang mereka buat. Stella Alinneshia dan Accesstia Christy mengembangkan cookies tinggi energi dan kaya protein, serta bebas gluten sebagai solusi masalah malnutrisi dan ditargetkan untuk konsumsi anak-anak Indonesia.

Tim MORITO Cookie raih juara 3 dalam Student Fighting Hunger Food Product Development yang diadakan oleh International Union in Food Science and Technology (IUFoST) 2016. (Foto: Goodnewsfromindonesia.org)
Tim MORITO Cookie raih juara 3 dalam Student Fighting Hunger Food Product Development yang diadakan oleh International Union in Food Science and Technology (IUFoST) 2016. (Foto: Goodnewsfromindonesia.org)

Ada juga sutradara muda asal Nusa Tenggara Timur, Manuel Alberto Maia yang karyanya terpilih untuk tampil perdana dalam ajang Eurasia International Film Festival 2016 yang  berlangsung pada 24 – 30 September 2016 di Astana, Kazakhstan. Eurasia International Film Festival merupakan sebuah festival film internasional yang digagas oleh National Academy of Cinema Arts and Science, dibawah koordinasi dari Kementerian Kebudayaan dan Olahraga Republik Kazakhstan. Festival ini adalah salah satu festival film insternasional yang terbesar di Kazakhstan dan Asia Tengah.

Foto: facebook/nokas
Foto: facebook/nokas

Indonesia masih belum kehilangan inovator-inovator muda untuk bersaing dengan negara asing. Mereka terus berkarya dan berinovasi pada bidang yang mereka sukai, karena inovasi bukan terbatas pada teknologi namun juga terhadap berbagai bidang lainnya, karena inovasi adalah pengembangan atau proses penciptaan yang memberikan nilai lebih dan memberikan dampak secara signifikan.

Saat ini pun banyak sekali faktor yang mempermudah para inovator agar terus berkarya. Pemerintah mendukung inovator dengan memfasilitasi berbagai kebutuhan inovator. Contohnya saja pemkot Bandung menghadirkan Bandung Innovation Center sebagai tempat bernaung inovator-inovator disekitar Bandung. Lalu Balitbang Jateng Siap Fasilitasi Inovator untuk mengurus hak kekayaaan intelektual (HKI).  Bahkan Presiden Joko Widodo meminta jajarannya dalam membuat aturan tidak mengekang inovasi anak muda yang menjalankan bisnis startup (pemula). Dengan upaya-upaya yang dilakukan, pemerintah berharap akan muncul bibit-bibit inivator muda yang mampu bersaing dengan global dan dapat memajukan berbagai sektor publik di Indonesia.

 Keep Breathing, Keep Inspiring

Penulis : Rihan Rosihan

Inspirator Freak

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here