India Sediakan Sekolah Hukum Khusus Korban Perdagangan Manusia

sekolah hukum
Foto: Intisari.grid.id

Human trafficking atau perdagangan manusia merupakan musuh bagi siapapun. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bahkan menyebut perdagangan manusia adalah tindikan kriminal terhadap kemanusiaan, dimana korbannya kerap dieksploitasi seperti dijadikan buruh kasar, budak dan pekerja seks komersial.

India disebut sebagai negara terbesar di dunia dengan kasus pedagangan manusia. PBB memperkirakan ada 3 juta pekerja seks di India. Dari angka itu, sekitar 40 persennya adalah pekerja seks yang diperoleh dari perdagangan anak-anak, yang mana sebagian besar mereka berasal dari etnis minoritas dan dari kasta lebih rendah.

Melihat hal tersebut, sebuah organisasi internasional yang fokus pada pembebasan perempuan dari jerat prostitusi, Free A Girl, mendirikan sebuah sekolah khusus bagi korban perdagangan manusia. Sekolah yang bernama School For Justice atau sekolah untuk keadilan ini baru di didirikan pada 6 april 2017. Sekolah ini mengkhususkan diri untuk mengajari korban perdagangan manusia menjadi pengacara. Tujuan adalah agar para perempuan bisa menggunakan posisi mereka untuk menuntut keadilan.

Sekolah ini merupakan hasil kemitraan antara Free A Girl dengan salah satu sekolah hukum top di India. Selama menempuh studi, para perempuan ini akan tinggal di asrama yang disediakan sekolah dan identitas mereka akan dirahasiakan demi menjaga keamanan dan keselamatan mereka.

Di kelas perdana, ada 19 perempuan dan semuanya berusia 19 hingga 26 tahun. Mereka mengambil kelas untuk menempuh ujian hukum serta menerima bimbingan dan pendampingan untuk memastikan keberhasilan mereka.

“Beberapa orang yang ditangkap karena kasus perdagangan manusia cenderung bebas karena kurangnya bukti di pengadilan. Pada 2015 lalu, ada 55 kasus yang benar-benar mendapatkan penanganan serius dari pengadilan. Semoga, dengan adanya kelas khusus ini, kasus perdagangan manusia di India, juga di seluruh dunia bisa dimusnahkan.” Ujar Bas Korsten, salah seorang perdiri proyek, seperti dikutip dari Intisari.

Mereka, para perempuan ini, lanjutnya, diharapkan bisa merampungkan sekolah dalam kurun lima hingga enam tahun dengan gelar sarjana hukum. Fokus studi mereka: kasus-kasus eksploitasi dan komersialisasi perempuan.

“Mereka adalah perempuan-perempuan yang punya pengalaman dan trauma serta punya kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka bertekad menjadi pengacara, untuk mengadili penjahat yang pernah menjerumuskan mereka.” tambahnya.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

Inspirator Freak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here