Hujan Bulan Juni–Karya Legendaris Prof. Sapardi Djoko Damono yang Melembutkan Banyak Hati

Sapardi Djoko Damono. (Foto: Dok.TEMPO/Iqbal Ichsan)

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Photo credit: Dokumentasi pribadi/Shandy Tan

Pecinta puisi dan penggemar setia karya Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, yang juga sering dipanggil SDD, pasti sangat familier (dan suka) puisi di atas–Hujan Bulan Juni. Hujan Bulan Juni hanya satu dari sederet puisi populer SDD. Beberapa puisi lain yang tidak kalah banyak pecintanya antara lain Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana dan Yang Fana Adalah Waktu.

Kesederhanaan pilihan kata-kata untuk setiap puisinya membuat orang yang bukan penggemar puisi pun mudah menyukainya karena langsung bisa meresapi maknanya.

Sastrawan kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940, ini mulai menulis sejak SMP; dia terus mengembangkan kecintaannya itu seiring tingkat pendidikannya semakin tinggi dan karier profesionalnya di dunia pendidikan (sebagai dosen) dan sebagai sastrawan semakin meningkat.

Hujan Bulan Juni yang legendaris

Jika dilakukan survei tentang karya SDD yang paling populer dan melekat di benak banyak orang, hampir bisa dipastikan puisi Hujan Bulan Juni menempati urutan teratas. Tidak salah jika puisi ini disebut puisi legendaris Prof. Sapardi Djoko Damono.

Saking legendaris, tahun 2017 Hujan Bulan Juni pun difilmkan setelah perjalanan yang cukup panjang. Puisi Hujan Bulan Juni pertama kali terbit di surat kabar tahun 1989. Tahun 1990 lahir album Hujan Bulan Juni yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu adalah bagian dari sejumlah penyanyi, yang merupakan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Poster film Hujan Bulan Juni (Photo credit: twitter.com)

Tahun 2015 puisi ini menjelma menjadi dua karakter fiksi–Pingkan dan Sarwono–dalam novel berjudul sama yang juga ditulis Sapardi sendiri dan tahun 2017 akhirnya bisa dinikmati visualnya dalam bentuk film. Versi film Hujan Bulan Juni mengisahkan perjalanan cinta karakter Pingkan (diperankan Velove Vexia) dan Sarwono (diperankan Adipati Dolken).

Menerima penghargaan

Tahun ini, Prof. Sapardi Djoko Damono mendapatkan penghargaan Anugerah Buku ASEAN 2018 untuk dua buku terbaiknya, Hujan Bulan Juni dan Yang Fana Adalah Waktu. Penghargaan itu diberikan di acara Kuala Lumpur International Book Fair yang digelar di Putra World Trade Center, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu, 28 April 2018. Hujan Bulan Juni mendapatkan penghargaan untuk kategori Buku Kompilasi Terbaik, sedangkan buku Yang Fana Adalah Waktu mendapatkan penghargaan untuk kategori Penulisan Prolifik.

Photo credit: Google Internet

Tentu saja ini bukan penghargaan pertama yang dia terima. Pada 1978, Sapardi Djoko Damono menerima penghargaan Cultural Award dari Australia. Selain itu, dia juga pernah mendapatkan penghargaan Anugerah Puisi Putra dari Malaysia pada 1983.

Salut untuk kecintaan, dedikasi, dan konsistensi Prof. Sapardi Djoko Damono pada dunia sastra Indonesia. Semoga dari hatinya yang bening terus lahir puisi-puisi yang melembutkan banyak hati dan menginspirasi kita semua.

Saya semakin bangga Indonesia. Kalau kamu?

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here