sumber : www.lccdefenders.org

Banyak orang bilang ketika kita beranjak dewasa artinya kita harus siap untuk menghadapi berbagai kenyataan pahit yang akan kita temukan dalam hidup. Bukan berarti bahwa selamanya kita tidak akan menemukan sisi anak-anak dalam diri kita ketika kita menjadi dewasa, melainkan bagaimana kita belajar melalui setiap proses kehidupan dengan baik. Dalam setiap kenyataan yang tidak menyenangkan dalam hidup, kita ditempa untuk semakin kuat. Saya punya beberapa pengalaman yang ‘tidak enak’ mengenai kesembuhan penyakit yang hendak saya bagikan bagi teman-teman sekalian. Tahun 2007 saat kota dan perumahan saya terserang banjir untuk siklus lima tahun kedua sejak 2002, di bulan Maret, rumah dalam kondisi pemulihan dari dampak banjir yang setinggi pinggang di dalam rumah. Suatu siang sepulang sekolah, saya menemukan bahwa mama dirawat di rumah sakit karena terkena koroner jantung pasca trauma akibat banjir. Itulah awal mimpi buruk itu muncul. Sejak saat itu, saya selalu trauma ketika mendengar tiang listrik yang dipukulkan karena itu artinya, musuh itu, ‘banjir’, muncul kembali. Sebagian terdengar konyol bagi banyak orang tapi ketakutan bagi satu orang memang selalu menjadi bahan tertawaan bagi orang lain. Tahun 2010 di awal tahun, kakak saya kehilangan putri sulungnya dalam kandungan karena pengentalan darah dalam usia kandungan 6 bulan. Di akhir tahun yang sama, ayah saya divonis terkena kanker getah bening. Saya merasa bahwa saya mulai kehilangan arah dan inilah realita hidup yang ‘pahit’ yang diceritakan banyak orang. Di tahun 2010 itu juga saya ada di pesimpangan jalan dan harus memutuskan akan pergi ke universitas mana untuk melanjutkan studi perguruan tinggi. Saya bersyukur bahwa akhirnya keluarga saya sembuh dan dipulihkan, ayah saya sembuh setelah terserang kanker getah bening dua kali dan menjalani kemoterapi dua kali juga. Mama bisa sembuh dari penyakit jantungnya. Kakak saya juga saat ini sudah memiliki putra berusia 4 tahun. Saya juga telah menyelesaikan studi teknik kimia saya selama 4 tahun terakhir ini. Kami selalu senang berbagi mengenai kesembuhan dan berbagai hal yang membuat kami masih kuat dan belajar bersama sampai saat ini. Salah satu pengalaman tak terlupakan adalah kondisi fisik dan emosi saya yang mudah tersulut dan tidak terlalu kuat. Menurut komik yang dibuat Dongsun Park mengenai sifat golongan darah A, saya punya sifat seperti itu dengan golongan darah saya ini, mirip sekali terlepas dari mitos atau tidaknya. Saya sangat penuh kekhawatiran, penuh perhitungan, dan sangat memikirkan apa respon orang lain terhadap setiap tindakan dan perkataan saya. Wah, sepertinya perfeksionis dan keren sekali, tapi sisi sifat ini juga memiliki sisi negatif. Akibat sifat ini, ketika masalah itu menjadi majemuk dan menjadi beban pikiran, saya tidak kuat menanggungnya. Saya menyadari penyakit ini pertama-tama di kelas 11 SMA, di tahun 2010. Saat saya sedang memiliki pikiran yang cukup mengganggu mengenai kegiatan yang saya jalani dalam organisasi, saya juga menghadapi ulangan. Tiba-tiba karena menahan lapar dan beban pikiran itu, ketika ulangan di jam terakhir kelas, tiba-tiba kaki saya semutan. Semutan itu naik ke perut, lalu ke rahang, dan menjalar ke tangan. Seketika saya panik karena tangan saya terbujur kaku dan saya tidak bisa menggerakkan tangan saya. Keram. Mengerikan! Saya takut pada diri saya sendiri. Saya pikir, itulah akhir hidup saya. Sebelum saya melanjutkan mengenai penyakit ini, saya akan menceritakan penyakit kedua saya. Cerita lain berlanjut di pertengahan tahun 2012 ketika fisik saya lelah secara mendadak ketika saya bolak-balik Jakarta-Bandung dalam 2 hari. Tiba-tiba dari balik telinga saya ada satu urat yang sakit menarik leher saya. Saya tidur sebentar dari sore ke malam dan tidak sembuh dan ini sangat mengagganggu aktivitas belajar saya mengingat laporan laboratorium yang harus saya selesaikan dalam satu minggu. Saya akhirnya memutuskan beristirahat dan hendak menggosok gigi saat menyadari bahwa ketika berkumur, mulut saya tak bisa menampung air dan segera tumpah ketika berkumur (saya tidak bisa menahan air itu di mulut saya, seolah otot pipi menjadi lemas). Ketika bangun keesokan paginya, saya sadar bahwa mata kanan saya tak bisa tertutup. Mata kiri bisa tertutup, kedua mata secara bersamaan bisa tertutup, tapi otak saya tidak bisa memerintahkan mata kanan saya saja untuk tertutup. Lagipula, ketika tersenyum, bibir saya tidak sama kiri dan kanan. Sepulang kuliah saya pergi ke dokter dan saya bingung harus kemana. Akhirnya mengingat kejadian di kelas 11 SMA, saya memutuskan pergi ke dokter saraf karena sejarah penyakit saraf saya yang buruk. Nama penyakit yang menyerang wajah saya adalah Bell’s Palsy. Penyakit ini menyerang saraf otak ketujuh yaitu saraf fasial (saraf wajah). Penyebabnya karena terlalu lelah, bisa terkena AC di salah satu sisi wajah setiap saat atau masuk angin saat mengendarai motor. Dalam kasus saya, kondisi badan saya yang tidak fit dan masuk angin menyebabkan hal ini. Namun penyakit yang menyerang saya di kelas 11 adalah penyakit yang berbeda, walau menyerang saraf otot juga. Itu adalah spasmofilia (kekejangan otot) yang disebabkan karena stress dan tidak bisa meluapkannya. Banyak orang bingung ketika terserang penyakit ini karena saya dan mama saya mengalaminya. Gejalanya berbeda-beda setiap orang misalnya:

  • pusing seperti tekanan darah rendah (jika stadium sudah tinggi, seseorang bisa pingsan mendadak)
  • Semutan dan keram (yang saya alami di kelas 11 saat ulangan)
  •  detak jantung terasa melambat (banyak orang menyangka penyakit jantung dan saat memeriksakannya ke dokter jantung, dokter merasa jantung kita sehat)
  • tenggorokan tercekat tanpa sebab (kelenjar paratiroid sang penghasil kalsium darah), atau
  • depresi (disebabkan karena seluruh Kalium dan Kalsium penggerak tubuh kita tersedot dalam emosi kita)

Penyakit ini akan mengambil kalium dan kalsium otot dan menyebabkan kekejangan dalam otot. Minuman ion serta pisang bisa menjaga supaya kalium dan kalsium dalam otot tetap terjaga. Saya menyarankan susu dan pisang sebagai suplemen pengatur kalsium dan kalium, bila perlu vitamin. Saya bagikan ini supaya teman-teman tahu ketika mengalami penyakit yang serupa dan dapa mengatasinya sendiri. Tak banyak dokter yang tahu penyakit ini tapi menjadi salah satu referensi ketika teman-teman memiliki kenalan orang yang mengalami gejala yang sama tetapi belum tahu penyebabnya. Saya ingin menceritakan bahwa dalam proses pengobatan penyakit saraf ini tidak mudah. Saya akan membagikan pada teman-teman tiga langkah pengobatannya, yang juga mengobati ayah saya dalam kankernya: 1. Bahwa yang pertama-tama harus kita sembuhkan adalah pola pikir. Tidak salah memikirkan segala sesuatu di sekitar kita tapi kita harus mencoba untuk sejenak refreshing dan tidak terlalu serius. Tubuh kita perlu beristirahat cukup dan kendatipun kita ingin melakukan banyak hal, selalu ingat tubuh kita punya batas. Saya sebagai orang yang memiliki golongan darah A seperti komik karangan Dongsun Park, tidak bisa selamanya menyenangkan semua orang tapi kita sendiri menderita. Biar bagaimanapun kalau kita sudah sakit, pekerjaan tidak akan menanti kita, orang di luar sana juga tidak peduli pada kita. Jadi lakukanlah apa yang mampu kita lakukan, jangan malas tapi juga jangan berlebihan. 2. Tubuh kita selalu perlu input yang positif. Berdoa. Dalam kondisi sakit, kita akan semakin mendekat pada Sang Pencipta. Terapis saya selalu mengingatkan bahwa segala penyakit disebabkan karena ketidaknyamanan di dalam tubuh kita. Kita harus berani menguatkan tubuh kita sendiri dan ketika wajah saya mati sebelah, terapis saya mengajak saya untuk memijat bagian saraf yang mati dan berkata ‘Ayo kamu sembuh, kamu bisa bergerak lagi’ dan itulah yang saya lalui selama empat bulan selain latihan rahang dan terapi. Terapis saya mengingatkan bahwa tubuh kita 80% dipenuhi oleh air, ajaklah mereka berbicara dengan kata-kata positif maka gelombang di dalam air dan darah kita akan menghantarkan molekul yang terbaik ke dalam tubuh dan sel-sel kita (baca Messages from Water, Prof. Emoto). 3. Berdamai dengan diri sendiri. Tidak ada kesembuhan tanpa adanya perubahan pola hidup yang baik dalam diri kita. Saya menerapkan apa yang saya pelajari pada poin 1 dan 2 ketika saya sembuh selama empat bulan. Mulanya dari lidah kiri dan kanan yang memiliki rasa berbeda ketika mengecap, lalu mata, lalu terakhir rahang saya dan wajah saya pulih perlahan-lahan. Cakrawala pikiran saya terbuka, bukan realitas hidup yang pahit yang saya hadapi, tapi saya yang semakin dewasa. Saya melihat sisi positif dari kejadian yang tidak enak. Saya menjadi seorang agen perubahan yang mengantarkan pesan ini. Selalu ada masa-masa kelam dalam hidup kita tetapi percayalah ketika kita mau belajar dari masa lalu, itu adalah investasi bagi masa depan kita. ‘Changes bring us Balance’ (Avatar: Legend of Korra). Dan inilah gambar mengenai apa yang bisa kami bagikan selama masa penyembuhan kami. Salah satu hal yang juga dibagikan ayah saya.

sumber : glowforindonesia.org
sumber : glowforindonesia.org
Andrean Christiadi Wijaya Ig @andreandang

SHARE
Previous articlePeduli Pendidikan Morotai Melalui Komunitas #KitaMorotai
Next articleBahasa Ibu Kita, Bahasa Ibu Mereka

LEAVE A REPLY