kekerasan hewan indonesia
http://www.mongabay.co.id/

the-greatness-of-a-nation-can-be-judged-by-the-way-its-animals-are-treated Kalimat ini cocok banget untuk kita terapkan sekarang, karena kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi? Kita sudah hidup di abad 21, dengan generasi millenial yang serba digital, segala fasilitas hiburan begitu mudah didapat. Sayangnya masih banyak kebiasaan sejak berabad-abad lalu yang menyiksa hewan demi hiburan dan memenuhi kesenangan semu manusia masih terus dilakukan. Ini saatnya kita mulai peduli pada nasib hewan, caranya minimal berhenti untuk datang menonton pertunjukan yang membuat hewan menderita karena di balik pertunjukan atraktif para hewan tersebut,  ada hal kejam yang tersembunyi. 1.Topeng Monyet kekerasan hewan Meskipun DKI Jakarta sudah bebas topeng monyet sejak tahun 2014, tapi di beberapa daerah lain di Indonesia praktek ini masih bisa ditemui. Monyet dilatih berbagai macam atraksi dengan tampilan baju-baju lucu. Untuk bisa melakukan ini monyet dilatih secara paksa dengan menggunakan kekerasan dengan diikat dan hanya diberi makan sekali sehari selama satu hingga dua bulan. Mereka selalu dirantai agar bisa dilatih berjalan dengan kaki lurus seperti manusia. Giginya dicabut agar enggak bisa mengigit. Yang lebih menyedihkan, karena harga monyet begitu murah, mereka menganggap monyet seperti benda mati, mereka dengan mudah membeli monyet baru. 2.Sabung Ayam kekerasan hewan Mengadu ayam atau sambung ayam masih banyak dilakukan di Bali dan di beberapa daerah di Indonesia. Pada kaki ayam yang diadu, dipasang taji logam yang tajam. Tujuannya untuk melukai lawan tandingnya. Ayam diadu sampai berdarah-darah bahkan seringkali hingga mati. Pertandingan sabung ayam kadang juga dijadikan sebagai sarana judi terselubung. 3.Karapan Sapi karapan sapi kekerasan hewan Tradisi balapan sapi atau karapan sapi sudah ada sejak abad 15 di Madura. Kesannya memang seru melihat sapi balapan lari namun dibalik itu, ada cerita sedih loh. Agar bisa lari dengan cepat, pemilik sapi mengoleskan balsam dan cabai pada mata sapu agar hewan ini bisa berlari kencang. Kadang campuran jahe dan spirtus juga dioleskan di bagian bokong sapi. Cambuk yang digunakan adalah kayu yang dipasang paku sehingga ketika dipecutkan ke pantat sapi mereka akan kesakitan dan berlari dengan cepat. Akibatnya, bagian bokong dan tubuh sapi luka-luka setelah pertandingan. Beberapa kelompok pencinta binatang di Jawa Timur sudah meminta agar tindakan ini dihentikan dan karapan sapi dilakukan tanpa kekerasan. Namun praktek kekerasan pada karapan sapi belum hilang sepenuhnya. 4.Sea World hewas keras Agar bisa melakukan atraksi yang luar biasa, lumba-lumba, anjing laut, ikan paus dan binatang laut lainnya mengalami banyak penyiksaan. Sudah muncul berbagai petisi yang dilakukan oleh kelompok pencinta binatang. Hewan laut yang habitatnya adalah laut luas dipaksa tinggal di dalam kolam yang kecil dan dangkal. Hewan di Sea World sering dibuat kelaparan jadi begitu tampil mereka mau melakukannya demi mendapatkan ikan dari sang pawang. Belum lagi mereka tampil setiap jam selama tujuh hari seminggu. Kondisi ini membuat mereka lelah dan stress. 5.Sirkus http://www.mongabay.co.id/ Di balik kepiawaian hewan yang tampil di sirkus, sebenarnya mereka mengalami banyak penyiksaan. Singa, gajah, beruang, dan hewan liar lainnya pada dasarnya enggak terlahir berjalan dengan dua kaki, jungkir balik atau menangkap bola. Gajah sering dipukul dengan batang logam dan disetrum dengan listrik saat latihan. Kaki depan beruang sengaja dibuat terbakar agar berjalan dengan dua kaki. Kadang mereka juga disuntik obat agar tidak buas. Para binatang ini pun tinggal di kandang yang sempit, jauh dari habitat mereka di alam terbuka. Gajah dan monyet yang biasanya tinggal berkelompok dikurung sendirian di kandang kecil sehingga jadi stress. Begitu mereka bersifat agresif karena stres atau sudah terlalu kesakitan, mereka malah makin disiksa. Bahkan ketika mereka melukai atau membunuh pawang, yang disalahkan dan harus dibunuh adalah hewannya. Bolivia, Peru, Yunani, Belanda, Ciprus, Slovenia dan Kolombia sudah melarang adanya sirkus. Semoga indonesia menyusul, ya. Keep Breathing, Keep Inspiring! Penulis : Rianda Rizky Permata Editor   : Dylan Aprialdo Rachman Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)
SHARE
Previous articleMenaker: Sektor Pariwisata Paling Siap Hadapi MEA
Next articleKetika Harus Memilih Kuliah atau Kerja?

LEAVE A REPLY