Orang Korea mengenakan Hanbok (pakaian tradisional Korea) sedang mengajarkan permainan Yutnori

Sudah masuk bulan keempat sejak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Memang, saat ini kita masih belum terlalu melihat perubahan yang signifikan dengan adanya MEA, namun jangan lupa Inspirator, di tahun-tahun mendatang persaingan akan semakin ketat. Nah, apa saja yang sudah Inspirator lakukan untuk mempersiapkan diri agar mampu bersaing dalam MEA? Membangun relasi adalah salah satu hal yang penting, khususnya bagi anak muda Indonesia agar dapat bersaing dengan anak muda ASEAN lain atau bahkan dalam skala dunia. Manfaat dari membangun relasi sebanyak mungkin dengan anak-anak muda dari seluruh dunia telah dirasakan oleh Muhammad Sholachul Fazry, penerima beasiswa dari Harvard University untuk program The Harvard Project for Asian and International Relations (HPAIR). Kali ini Inspirator Freak akan membahas apa itu HPAIR dan apa manfaatnya untuk anak muda Indonesia. HPAIR adalah salah satu organisasi tertua yang dikelola oleh undergraduate student (mahasiswa S1) di Harvard University. Sejak tahun 1991, HPAIR didirikan agar anak muda dari seluruh dunia yang memiliki karakter pemimpin dan memiliki passion di bidang yang mereka geluti dapat saling membangun relasi. HPAIR fokus menyelenggarakan kegiatan di negara-negara Asia, bahkan Jakarta pernah menjadi tuan rumah diselenggarakannya kegiatan konferensi internasional ini. Meski awalnya merasa takut untuk mendaftar karena proses seleksi yang begitu ketat, serta harus bersaing dengan anak-anak muda dari berbagai perguruan tinggi dunia, Fazry akhirnya mencoba mengikuti seleksi HPAIR yang diselenggarakan di Tokyo pada tahun 2014. Namun, meskipun lolos seleksi, mahasiswa jurusan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini memutuskan untuk tidak berangkat karena kurangnya pendanaan. “Orang tua saya selalu mengajarkan apabila saya ingin keluar negeri, saya harus berusaha sendiri. Beberapa kali saya lolos seleksi pertukaran pelajar, summer course ataupun konferensi internasional, namun saya terpaksa tidak berangkat karena kendala biaya yang begitu besar, hingga saya akhirnya dijuluki acceptance letter collector oleh teman-teman. Berbagai LoA (Letter of Acceptance) pernah saya terima, mulai dari Sciences Po, King’s College London, hingga Oxford University, namun sering kali dana sponsor tidak mampu mencukupi biaya ke sana.” ungkap pria asal Cirebon ini. Meskipun impiannya di tahun 2014 lalu sempat tertunda, Fazry tetap berusaha dan tidak patah semangat. Di tahun 2015, ia kembali memberanikan diri untuk mengikuti seleksi HPAIR yang untuk pertama kalinya membuka program beasiswa. Beasiswa yang diberikan langsung oleh Harvard University menjadi kesempatan bagi Fazry untuk kembali menjadi wakil Indonesia dalam konferensi internasional tersebut. Setelah mengikuti proses seleksi yang cukup panjang, mulai dari esai aplikasi, esai beasiswa, hingga wawancara dengan pihak Harvard, Fazry akhirnya berhasil lolos dalam panel Security and Diplomacy dan menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang merima full scholarship (beasiswa penuh) dari Harvard University. “Ada 200 orang delegasi dunia yang mengikuti HPAIR 2016 di Harvard, 130 dari mereka mendaftar program beasiswa dan Harvard hanya menerima 7 orang, 5 partial scholarship dan 2 full scholarship, saya sangat bersyukur bisa menjadi salah satu penerima beasiswa tersebut”. Bagi Fazry, behasil menginjakkan kaki selama 9 hari di Amerika Serikat tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun adalah pengalaman yang enriching, bahkan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. “Satu hal yang sangat patut dicontoh oleh orang Indonesia dari kehidupan di Boston, yaitu membukakan pintu di tempat umum untuk orang lain, di sana itu sudah seperti budaya. Kebanyakan karakter orang Indonesia masih hanya peduli dengan diri sendiri, kalau buka pintu gak liat lagi di belakang ada orang yang juga mau keluar masuk atau gak. Buka pintu ya hanya untuk kepentingan sendiri”. Selama 5 hari Fazry mengikuti kegiatan Panel, Conference dan Case Studies di Harvard untuk membahas isu-isu yang benar-benar terjadi dan menjadi masalah di Asia, seperti konflik Laut Tiongkok. Salah satu pengalaman unik yang dirasakan Fazry selama di Harvard adalah pada saat ia mengikuti kuliah umum yang diberikan oleh salah satu pemimpin militer negara Timur Tengah. Beliau memberikan kuliah melalui Skype, di atas helikopter dalam perjalanannya menuju wilayah perang. Fazry yang saat ini tengah sibuk dengan seleksi sebagai Teaching Assistant di Amerika Serikat dan juga menggarap proyek yang diselenggarakan oleh The Ivy Council (organisasi yang membawahi universitas-universitas Ivy League), berpesan kepada anak muda Indonesia untuk mejadi anak muda yang keren, yaitu anak muda yang berprinsip, percaya diri, teguh memegang nilai-nilai kehidupan yang kita yakini, dan yang paling penting adalah bangga menjadi orang Indonesia. “saya sempat berbincang dengan teman-teman dari Austria dan Los Angeles, mereka pernah ke Indonesia dan dengan bangga pamer kalung yang dia beli di Indonesia”. Indonesia adalah negara besar yang netral dan powerfull di ASEAN bahkan punya peranan penting di dunia. Anak muda Indonesia jangan punya mental kerdil dan takut bersaing dengan orang luar negeri. Berusahalah untuk selalu menjadi pemimpin dan menempatkan diri kita di level tertinggi. Mengikuti kegiatan berskala internasional sangat membantu kita untuk dapat membangun wawasan dan jaringan, membuka perspektif, serta memperkenalkan Indonesia ke negara-negara lain. Kita akan mengenal orang-orang yang sangat potensial, orang-orang yang menjadi bibit-bibit pemimpin di negaranya. Selama di Harvard, Fazry mengaku bahwa masih banyak orang-orang dari negara lain yang mengenal Indonesia karena masalah kemacetan. Beberapa delegasi negara lain bahkan tidak mengetahui bendera Indonesia, bahkan kebanyakan hanya mengenal Bali saja. Fazry optimis Indonesia akan mampu bersaing di MEA. Menurut Fazry, pendidikan adalah salah satu kunci penting untuk membangun Indonesia. Anak muda harus memanfaatkan beasiswa. Apalagi saat ini Pemerintah Indonesia menyediakan beasiswa penuh seperti LPDP untuk studi ke luar negeri. Fazry menyampaikan bahwa itu adalah salah satu nilai plus yang dimiliki Indonesia. Keep Breathing Keep Inspiring! Penulis : Lulu Fakhriyah Editor   : Kintan Lestari   Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY