Gerakan Menuju 100 Smart City–Harapan Supaya Semakin Banyak Kota Di Indonesia Menyusul Surabaya

Foto: Google Internet

Pada 22-23 Mei 2017 diluncurkan program Gerakan Menuju 100 Smart City pada acara Indonesia Smart City Summit yang berlangsung di Makassar. Gerakan Menuju 100 Smart City merupakan program bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PUPR, Bappenas, dan Kantor Staf Kepresidenan. Tujuannya adalah membimbing Kabupaten/Kota dalam menyusun Masterplan Smart City supaya bisa lebih memaksimalkan pemanfaatan teknologi, baik dalam meningkatkan pelayanan masyarakat maupun mengakselerasikan potensi di masing-masing daerah. Kota Makassar memperoleh kehormatan untuk menjadi tempat dimulainya (kick-off) program Gerakan Menuju 100 Smart City.

Melalui gerakan ini, pemerintah kota dan kabupaten akan mendapatkan bimbingan dari tim ahli yang dibentuk Pemerintah Pusat yang akan membantu meletakkan aspek-aspek fundamental dalam pengembangan smart city. Makassar dikenal sebagai salah satu kota yang giat mewujudkan smart city di daerahnya.

Peserta tahap pertama Gerakan Menuju 100 Smart City

Daftar kota peserta tahap pertama Gerakan Menuju 100 Smart City yaitu: Kota Semarang, Kota Singkawang, Kota Makassar, Kota Bogor, Kota Tomohon, Kota Jambi, Kota Bandung, Kota Cirebon, Kota Bekasi, Kota Sukabumi, Kota Samarinda, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan. Sedangkan untuk kabupaten, pesertanya adalah Kabupaten Sleman, Kabupaten Badung, Kabupaten Siak, Kabupaten Mimika, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Banyuwangi.

Surabaya mulai menerapkan e-goverment sejak 2002

Ilustrasi perkotaan yang terkoneksi IoT/Foto: Google Internet

Kota besar di Indonesia yang sudah berhasil mengimplementasikan konsep kota cerdas untuk mendukung pemerintahan kotanya adalah Surabaya. Sebagai pelopor kota cerdas di Indonesia, Surabaya dianggap sukses menerapkan e-goverment untuk pelayanan masyarakat.

Surabaya bahkan memiliki Co-Working Space KORIDOR di Gedung Siola yang buka 24 jam. Di co-working space ini pelaku industri kreatif, terutama pengembang startup, dapat mengakses Wi-Fi gratis. Dengan demikian, mereka mendapatkan wadah untuk berkarya.

Konsep smart city di Surabaya dalam pelaksanaan e-goverment sudah diterapkan sejak tahun 2002. Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, mengatakan, “Kami di Surabaya sudah mengimplementasikan hal ini sejak 2002. Kami memiliki e-SDM untuk tes CPNS dan semua prosesnya melalui online.”

Cakupan e-goverment di Surabaya

E-goverment di Surabaya mencakup Sistem Pengelolaan Keuangan Daerah, e-SDM, e-monitoring, e-education, e-permit, e-office, e-health, e-dishub, juga Media Center dan Sistem Siaga Bencana.

Melihat dari banyaknya sub di program e-goverment ini, tidak heran Kota Surabaya dinilai paling maju dalam mengimplementasikan tren smart city dan sistem IoT.

“Kami memberikan akses Internet gratis bagi semua warga kami supaya bisa mengakses semuanya menggunakan Internet. Tidak perlu antre lagi untuk ke Puskesmas, dan bisa menunggu jadwal di rumah,” imbuh Walikota Risma.

Ada e-budgeting, e-project, e-procurement, e-delivery, e-controlling, dan e-performance untuk memantau performa staf pemerintahan di Surabaya. Semua staf akan mendapatkan penilaian atas kinerja mereka.

Fitur e-SDM mengurusi beberapa hal seperti tes CPNS, gaji berkala, kenaikan pangkat, mutasi, dan pensiun staf pemerintahan mereja. Fitur ini memungkinkan staf pemerintahan di Surabaya mulai dari level terkecil, untuk mengakses semuanya melalui Internet.

Fitur e-education menangani urusan seperti penerimaan siswa baru, tryout online, rapor online, dan penerimaan kepala sekolah online.

E-monitoring bertujuan untuk memonitor keadaan di Surabaya secara real-time, dengan mengkoneksikan CCTV/SITS, untuk penertiban reklame, pajak dan retribusi, operasi yustisi, monitoring sampah, dan monitoring pemakaman.

E-office hadir untuk mengakomodir kebutuhan e-surat dan e-jadwal, sehingga meminimalisir, bahkan meniadakan penggunaan kertas. Ini tentu saja mengurangi beban sampah sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.

Kehadiran e-health memungkinkan warga untuk tidak perlu lagi mengantre di Puskesmas. Mereka bisa menjadwalkan sendiri kapan ingin berobat di sana dan menunggu jadwal berobatnya di rumah. Jika kemudian warga dirujuk ke rumah sakit terdekat, mereka tidak perlu membawa surat rujukan. Pihak rumah sakit bisa memeriksanya dengan perangkat tablet.

E-permit berguna untuk mengurus perizinan apa pun secara online, misalnya pernikahan, surat kematian, akta lahir, dan sebagainya.

E-dishub diperuntukkan bagi Uji Kir, arus lalu lintas, parkir, perizinan, terminal serta angkutan.

Kesigapan dan kontinuitas Kota Surabaya dalam mewujudkan konsep smart city memang luar biasa. Bagaimana dengan kesiapan kotamu, Inspirator?

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here