gerhana matahari total
antaranews.com

Jangan lupa dongakkan kepalamu ke langit pada Rabu, 9 Maret 2016. Akan terjadi fenomena alam yang sangat langka dan menarik bagi Indonesia, ketika bulan terletak dalam satu garis di antara bumi dan matahari yang disebut Gerhana Matahari Total.

Gerhana Matahari
http://en.es-static.us/
Bagi inspirator yang mau menyaksikan gerhana matahari, sebaiknya tidak melihat langsung dengan mata telanjang yah. Meskipun, di waktu siang hari bolong terjadi suasana “malam” hari karena cahaya matahari tertutup bulan tapi siapa sangka, justru “kegelapan dalam siang hari” dapat menyebabkan kebutaan.
Gerhana Matahari
http://thesuntoday.wpengine.netdna-cdn.com/
Prof B. Ralph Chou dalam jurnal NASA RP 1383 Total Solar Eclipse of 1999 August 11, April 1997 menjelaskan bahwa meskipun 99% cahaya matahari pada saat gerhana matahari terlindung oleh bulan sehingga wilayah umbra bumi menjadi gelap (seperti malam), namun tetap ada cahaya radiasi dari matahari yang sampai ke bumi, dan sampai ke mata (jika kita langsung menatap dengan mata telanjang). Dan perlu diingat, cahaya matahari itu terdiri dari berbagai gelombang, lho, yaitu sinar baik dari sinar tampak (pelangi : me-ji-ku-hi-bi-ni-u) maupun sinar tidak tampak seperti UV yang berenergi dan berfrekuensi tinggi hingga sinar cahaya dengan gelombang radio yang berenergi dan berfrekuensi rendah. Pada organ mata manusia, sinar cahaya UV dengan panjang gelombang sekitar 380 nm akan langsung ditransmisikan ke retina (bagian belakang organ mata yang sensitif). Dan berdasarkan fisiologi struktur mata, cahaya radiasi UV merupakan penyebab terjadinya reaksi kimia yang mempercepat penuaan lapisan mata dengan risiko yang akan membuat katarak atau dalam kondisi menatap langsung gerhana matahari dapat menyebabkan “retina terpanggang” dan terjadinya kerusakan pada sel batang (rod cell) dan kerucut (cone cell) pada mata. Sebagai contoh nyata, di waktu siang hari dengan atau tanpa sengaja kita menatap kearah matahari saat sedang beraktifitas, setiap dari kita dengan otomatis akan mengernyitkan mata, bukan? Nah, begitu cahaya yang masuk terlalu terang maka kelopak mata akan mengecil, diikuti dengan iris atau kornea mengecil dan cahaya yang masuk menembus retina lebih sedikit sedangkan saat gerhana matahari, suasananya gelap, mata kita seharusnya merespons lebih sedikit cahaya jadi membuka selebar-lebarnya kelopak mata, begitupun dengan pupil yang membesar. Cahaya matahari seperti itulah yang menjadi pemicu serangkaian reaksi kimia pada sel-sel mata yang mana akan merusak kemampuan sel untuk merespons objek visual. Dan dalam intensitas yang besar dan lama, akan menyebabkan kerusakan parah pada sel mata. Pada akhirnya akan menyebabkan mata mengalami buta sementara atau bahkan buta “abadi”
Gerhana Matahari
http://www.skyandtelescope.com/
Setiap terjadinya gerhana matahari total, umumnya selalu ada fase gerhana matahari cincin, sabit, dan gerhana matahari sebagian. Satu-satunya jenis gerhana pengecualian yang mana mata boleh secara langsung menatap ke gerhana matahari adalah pada fase gerhana matahari total yakni ketika sinar matahari benar-benar tertutup oleh bulan (100%). Namun periode ini sangat singkat dan memang jarang terjadi. Umumnya yang terjadi adalah gerhana matahari cincin, sabit atau setengah.  Dan yang paling berbahaya adalah menatap langsung gerhana matahari yang setengah atau cincin. Bahkan seperti pada bagian penjelasan sebelumnya, meskipun 99% permukaan matahari (fotosfer) tertutup oleh Bulan, kondisi ini tetap sangat berbahaya bagi mata jika kita menatap gerhana tanpa alat khusus.
Gerhana Matahari
http://www.firstlightoptics.com/
Agar dapat melihat fenomena gerhana matahari, sudah banyak caranya. Salah satunya dengan menggunakan kacamata khusus seperti gambar di atas.
Gerhana Matahari
http://andrewcarnegie2.tripod.com/
Cara lain adalah melihat fenomena gerhana matahari tersebut diatas bayangan air (baik di kolam maupun di wajan) atau membuat layar gelap di sebuah ruang (kotak) agar gerhana matahari tertangkap dilayar, dan kita melihatnya secara tidak langsung. So, persiapkan dirimu untuk menyambut 4 menit yang akan kembali terjadi lagi dalam 350 tahun mendatang! Keep Inspiring, Keep Breathing! Penulis: Rianda Rizky Permata Editor : Arief Alqori   Inspirator Freak Twitter: @InspiratorFreak Facebook : facebook.com/InspiratorFreak

LINE : @inspiratorfreak (menggunakan @)

LEAVE A REPLY