Fransiska Dimitri Inkiriwang-Mathilda Dwi Lestari, Dua Srikandi Indonesia Penakluk Puncak Everest

Fransiska Dimitri Inkiriwang (kiri) dan Mathilda Dwi Lestari (kanan). Dokumentasi: Tim WISSEMU

Kamis, 17 Mei 2018, pukul 05.50 waktu Kathmandu, Nepal, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari menorehkan prestasi yang mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Dua srikandi Indonesia ini berhasil menaklukkan Puncak Everest, puncak tertinggi di dunia. Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari sama-sama terdaftar sebagai tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Universitas Parahyangan (WISSEMU), Bandung. Dua srikandi hebat berusia 24 tahun ini berhasil melewati empat tantangan jalur di wilayah Death Zone.

Disebut Death Zone, atau Zona Maut, karena wilayah itu terletak di ketinggian lebih dari 8.000 meter dari permukaan laut (mdpl). Di ketinggian ini, kadar oksigen sangat rendah, tidak cukup untuk manusia bernapas. Wikipedia mencatat, sebagian besar dari pendaki yang tewas di Puncak Everest menemui ajal mereka di Death Zone.

Manusia, yang terbiasa menghirup udara di daerah dengan ketinggian sejajar permukaan laut, hanya bisa berada di area ini selama beberapa menit yang singkat sebelum mereka tidak sadarkan diri karena kekurangan oksigen. Itu sebabnya kebanyakan pendaki membawa tabung oksigen supaya sanggup mendaki hingga puncak. Oksigennya pun tidak sama dengan oksigen untuk pasien di rumah sakit.

Setinggi apa 8.000 mdpl?

Photo credit: conqueringdreams.org

Gunung dengan ketinggian 8.000 mdpl berarti terletak di puncak troposfer; artinya, pendaki berada di troposfer dan stratosfer sekaligus–yaitu di area pesawat terbang melintas.

Yap, setinggi itulah Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari berada pada Kamis, 17 Mei 2018, pukul 05.50 waktu Kathmandu.

Manusia tidak diharapkan bisa bertahan hidup di ketinggian seperti itu. Bukan hanya masalah ketersediaan oksigen, di puncak setinggi itu sistem pencernaan manusia gagal berfungsi, otak juga mulai mengalami kegagalan kognitif. Belum lagi ditambah suhu di Puncak Everest berada di kisaran minus 23 sampai minus 28 derajat Celcius, yang artinya dua mahasiswi Bandung ini rentan mengalami hipotermia.

But, hey, they did it!

Fransiska Dimitri dan Mathilda Dwi Lestari berhasil mencapai puncak Everest. Foto: Instagram

Kebayang kan, Inspirator, kira-kira seberat apa medan, tantangan alam, dan tantangan fisik yang dihadapi dua srikandi Indonesia dari Universitas Parahiyangan, Bandung, ini? Kita pantas ikut berbangga ketika Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari mengibarkan Sang Saka Merah Putih di puncak tertinggi di dunia.

Setelah mengibarkan bendera Indonesia di Puncak Everest, Fransiska dan Mathilda akan turun ke Camp 3 melalui jalur yang sama. Perkiraan waktu perjalanan turun dari puncak tiga hari, kata anggota tim pendukung di Bandung, M. Reinaldo Theta Auriga.

Kita doakan bersama dua srikandi hebat ini tetap sehat, kuat, bersemangat, dan senantiasa dalam penjagaan Tuhan selama perjalanan turun mereka. Selamat ya, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari! Terima kasih sudah mengharumkan nama Indonesia dengan prestasi keren ini. Indonesia bangga memiliki kalian.

Bukan hanya Fransiska dan Mathilda, Indonesia memiliki banyak wanita hebat lain yang kiprahnya mendunia. Survei membuktikan, ini tiga wanita hebat paling dikagumi di Indonesia.

Keep Breathing, Keep Inspiring!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here